Kupi Beungoh
Kemerdekaan yang Direnggut dari Langit Aceh
Aceh pernah menyumbang pesawat untuk republik. Kini rakyat Aceh harus bayar mahal dan transit jauh hanya untuk terbang ke Medan.
Tarif harus dibuka terang. Publik berhak tahu mengapa penerbangan satu jam bisa menembus Rp1 juta, sementara rute transit melonjak Rp4 juta hingga Rp5 juta lebih. Pasar tanpa pilihan bukanlah pasar; ia hanya sangkar yang diberi nama “harga dinamis”.
Ketika jalan darat putus, udara harus menjadi jembatan. Ketika sungai menjadi jalan terakhir, pemerintah sudah terlambat menyediakan jalan aman. Negara yang memerdekakan adalah negara yang membuka akses, menjaga harga tetap waras, menghadirkan pilihan, dan memastikan rakyat tidak menggadaikan uang, waktu, bahkan nyawa hanya untuk bergerak di negeri sendiri.
Aceh tidak meminta langit diistimewakan; Aceh hanya meminta langitnya tidak dikunci. Sebab kemerdekaan yang paling sunyi kadang bukan dirampas dengan senjata, tetapi dengan kursi yang langka, tiket yang selangit, jalan yang putus, dan negara yang terlalu tenang melihat rakyatnya bergerak dengan rasa terjajah.
Penulis adalah Guru Besar Ekonomi Islam Universitas Syiah Kuala (USK), Banda Aceh. E-mail: mshabri@usk.ac.id
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.
Baca Artikel KUPI BEUNGOH Lainnya di SINI
| New Media: Masa Depan Komunikasi Publik dan Dilema Kedekatan dengan Kekuasaan |
|
|---|
| Setengah Abad Aceh “Digigit” Anjing Gila |
|
|---|
| Menagih Tanggung Jawab Rektor: Kampus Aceh sebagai Mesin Pencetak Pengangguran Bertitel |
|
|---|
| Ius Constituendum: Menata Hukum Masa Depan di Tengah Perubahan |
|
|---|
| Paradoks Pendidikan Indonesia: Antara Link and Match dan Realitas Lapangan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Shabri-Abd-Majid-Mengulas-Tentang-Nasib-Gajah-Aceh.jpg)