Selasa, 12 Mei 2026

Kupi Beungoh

Kemerdekaan yang Direnggut dari Langit Aceh

Aceh pernah menyumbang pesawat untuk republik. Kini rakyat Aceh harus bayar mahal dan transit jauh hanya untuk terbang ke Medan.

Tayang:
Editor: Amirullah
Serambinews.com/HO
M SHABRI ABD MAJID, Profesor Bidang Ekonomi Islam dan Koordinator Prodi S3 Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh. 

Tarif harus dibuka terang. Publik berhak tahu mengapa penerbangan satu jam bisa menembus Rp1 juta, sementara rute transit melonjak Rp4 juta hingga Rp5 juta lebih. Pasar tanpa pilihan bukanlah pasar; ia hanya sangkar yang diberi nama “harga dinamis”.

Ketika jalan darat putus, udara harus menjadi jembatan. Ketika sungai menjadi jalan terakhir, pemerintah sudah terlambat menyediakan jalan aman. Negara yang memerdekakan adalah negara yang membuka akses, menjaga harga tetap waras, menghadirkan pilihan, dan memastikan rakyat tidak menggadaikan uang, waktu, bahkan nyawa hanya untuk bergerak di negeri sendiri.

Aceh tidak meminta langit diistimewakan; Aceh hanya meminta langitnya tidak dikunci. Sebab kemerdekaan yang paling sunyi kadang bukan dirampas dengan senjata, tetapi dengan kursi yang langka, tiket yang selangit, jalan yang putus, dan negara yang terlalu tenang melihat rakyatnya bergerak dengan rasa terjajah.

 

Penulis adalah Guru Besar Ekonomi Islam Universitas Syiah Kuala (USK), Banda Aceh. E-mail: mshabri@usk.ac.id 

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.

Baca Artikel KUPI BEUNGOH Lainnya di SINI

Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved