Kamis, 14 Mei 2026

KUPI BEUNGOH

Perang dan Damai Bagian -19, Krisis Energi, Resesi Global dan Urgensi Perdamaian

Perang Amerika-Iran telah membuka pintu, dunia sedang memasuki bayang resesi global. 

Tayang:
Editor: Subur Dani
Dok SERAMBINEWS.COM/HO
Kolase foto Yunidar ZA dan Zulkipli R. Angkop. Penulis adalah Anggota Asosiasi Analis Kebijakan Indonesia (AAKI) dan Anggota Majelis Pemuda Indonesia  DPD KNPI Kabupaten Nagan Raya-Aceh. 

Masihkan kita mengatakan kita aman? Kita benar-benar tidak terbebas dari arena perang, tertutama krisis kawasan terkait berlayar bebas dan tergangu bahkan tertutupnya Selat Hormuz jalur pasok rantai energi dunia. 

Baca juga: Perang dan Damai - Bagian 16, Kebebasan Berlayar di Selat Hormuz sebagai Jalan Perdamaian

Variabel kedua adalah investasi swasta dalam dunia usaha.

Salah satu berita dari perusahaan penerbangan ini dapat menjadi sampel bertapa sulit saat ini dunia usaha bergerak. 

"Semua penerbangan Spirit telah dibatalkan, dan penumpang tidak boleh pergi ke bandara," tulis perusahaan Spirit Airlanes, dikutip BBC International, Senin (4/5/2026).

Maskapai penerbangan terkemuka di Amerika terpaksa tutup usia setelah 34 tahun beroperasi, pasalnya bahan bakar avtur melonjak tinggi, sangat wajar ketika sebuah usaha tidak mampu menanggung variabel cost yang kian naik, maka pilihan terbaik adalah “gulung tikar” sembari meninggalkan PHK yang siap menjadi penggaruran.

Begitulah logika dunia usaha berkerja, ia kait-berkait antara input, proses dan output. Jika rantai pasok input terganggu maka ouputnya terganggu.  

Variabel terakhir yang menetukan bergeraknya ekonomi adalah daya beli masyarakat yang kelihatannya sudah lebih dulu terkena dampak. Ketika semua hal berkait dengan minyak, energi, harga pun melonjak, inflasi menunggu, harga-harga siap “menghantam "kantong" masyarakat tanpa ampun.  

Perdamaian kini menjadi sebuah realitas yang ditunggu terus dikampanyekan diperjuangkan penduduk bumi masyarakat dunia karena tanpa damai gejolak sosial yang lebih besar akan menjadi kenyataan. 

Kesulitan ekonomi akan memicu segala bentuk anarkisme dan kejahatan. Dampak sosial akan lebih nyata dirasakan ketika tekanan ekonomi semakin terutama di AS.

Baca juga: Perang dan Damai - Bagian 15, Korporatokrasi Global, Selat Hormuz dan Perdamaian

Bagaimana Indonesia?

Pada Selasa 12 Mei 2026 Rupiah mencatat sejarah baru, nilai tukar dollar tembus Rp. 17.512,- menjadikannya paling tinggi sepanjang sejarah Indonesia.

Bank Indonesia yakin kondisi ini dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian global. Jadi sangat jelas melemahnya Rupiah terkait dengan perang Amerika-Iran.

Baca juga: VIDEO - Ratusan Siswa MTsN 1 Bireuen Baca Yasin Bersama Setiap Jumat Pagi

Kondisi dapat dipastikan neraca perdagangan akan menurun, akibat nilai impor meningkat.

Apapun sebab naiknya harga Dollar, yang pasti harga-harga dalam negeri akan naik (inflasi), kita pernah mengalami kondiri ini tahun 1998. 

Baca juga: Bupati Aceh Utara Berharap Bantuan Jadup untuk Penyintas Banjir Bisa Cair Sebelum Idul Adha

Trauma psikologis massal, runtuhnya rezim Orde Baru, perubahan total sistem politik indonesia dari sentralisasi menjadi desentralisasi, semua ini dipicu oleh kerusuhan massal yang tidak terkendali. 

Kita tidak bisa berselimut untuk terhindar, mungkin satu-satunya jalan adalah penghematan total terhadap anggaran pemeerintah.

Anggaran harus berfokus pada pemenuhunan kebutuhan pokok rakyat saja. 

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved