KUPI BEUNGOH
Aceh sebagai Episentrum Baru Pengetahuan Humaniora
Saya memandang bahwa diskusi ini perlu dilihat secara lebih proporsional dengan mempertimbangkan keunikan epistemik dan konteks keilmuan.
Oleh: Dr. Tgk. Tabrani ZA, S.Pd.I., M.S.I., MA. *)
Membaca dua opini sebelumnya, yakni tulisan Zezen Zaenal Mutaqin di The Jakarta Post pada 8 Mei 2026 dan Teuku Muhammad Jamil dalam rubrik Kupi Beungoh di Serambinews.com pada 14 Mei 2026, yang menyoroti meningkatnya posisi jurnal-jurnal Indonesia dalam pemeringkatan internasional namun sekaligus mempertanyakan mengapa sebagian di antaranya belum memperoleh jangkauan sitasi global yang dianggap sepadan.
Saya memandang bahwa diskusi ini perlu dilihat secara lebih proporsional dengan mempertimbangkan keunikan epistemik dan konteks keilmuan yang melandasi pertumbuhannya.
Kritik seperti ini patut diapresiasi karena mengingatkan kita bahwa reputasi akademik tidak boleh hanya diukur melalui angka-angka peringkat. Akan tetapi, penjelasan mengenai perkembangan jurnal Indonesia akan menjadi lebih proporsional apabila kita juga mempertimbangkan karakteristik, konteks, dan keunikan intelektual yang melatarbelakangi pertumbuhan tersebut.
Keunikan Epistemik Jurnal Indonesia
Perlu ditegaskan bahwa artikel ilmiah tidak disitasi semata-mata karena berasal dari jurnal berperingkat tinggi. Dalam tradisi akademik, sebuah artikel dirujuk karena menawarkan kontribusi yang bernilai, baik berupa perspektif yang unik, data yang khas, maupun temuan yang relevan bagi pengembangan ilmu pengetahuan.
Dengan kata lain, sitasi pada hakikatnya merupakan pengakuan atas kontribusi intelektual. Jika suatu jurnal terus memperoleh perhatian, hal itu menunjukkan bahwa jurnal tersebut menghadirkan pengetahuan yang dianggap penting dan memiliki keunikan tertentu yang tidak mudah ditemukan pada publikasi lain.
Dalam konteks Indonesia, khususnya jurnal-jurnal yang dikelola oleh PTKIN, keunikan tersebut sangat nyata. Indonesia merupakan negara Muslim demokratis terbesar di dunia dengan pengalaman sosial, hukum, dan keagamaan yang sangat khas.
Isu-isu seperti hubungan antara hukum Islam dan hukum nasional, moderasi beragama, ekonomi syariah, pendidikan Islam, pluralisme, serta dinamika masyarakat Muslim di negara demokratis modern merupakan laboratorium sosial yang sangat kaya. Tidak banyak negara memiliki kombinasi pengalaman historis dan kelembagaan seperti ini.
Baca juga: VIDEO - MK Tegaskan Jakarta Masih Ibu Kota, Netizen Ramai Soroti Pernyataan Jokowi 2022
Baca juga: Besok Kemenag Gelar Sidang Isbat Penentuan Idul Adha, Cek Posisi Hilal di 6 Titik Pengamatan di Aceh
Oleh sebab itu, jurnal-jurnal Indonesia menawarkan sumber pengetahuan yang autentik dan relevan bagi para akademisi internasional yang ingin memahami perkembangan Islam, hukum, dan masyarakat kontemporer.
Tradisi Keilmuan PTKIN dan Penguatan Komunitas Akademik
Jurnal-jurnal PTKIN memiliki posisi yang khas karena menghubungkan tradisi keilmuan Islam dengan pendekatan akademik modern. Artikel-artikel yang diterbitkan tidak hanya membahas persoalan normatif, tetapi juga mengaitkannya dengan realitas sosial, hukum, pendidikan, dan kebijakan publik.
Perpaduan ini menghasilkan perspektif yang unik dan relevan bagi diskursus global. Karena itu, sitasi terhadap jurnal-jurnal PTKIN tidak semata-mata mencerminkan jejaring internal, tetapi juga pengakuan atas kekayaan pengetahuan yang mereka tawarkan.
Memang benar bahwa pada tahap awal pertumbuhan, suatu komunitas ilmiah cenderung lebih banyak saling merujuk. Fenomena ini adalah bagian alami dari pembentukan tradisi akademik. Para peneliti biasanya membangun dialog intelektual terlebih dahulu di lingkungan yang memiliki kedekatan tema, metodologi, dan minat penelitian.
Praktik tersebut tidak otomatis menunjukkan manipulasi, selama sitasi diberikan berdasarkan relevansi ilmiah yang nyata. Bahkan dalam sejarah perkembangan banyak disiplin ilmu, penguatan komunitas internal merupakan fondasi penting sebelum suatu tradisi memperoleh pengaruh yang lebih luas secara internasional.
Namun demikian, pola sitasi antarjurnal yang memiliki kedekatan tema tidak serta-merta menunjukkan adanya manipulasi. Dalam tradisi akademik, sebuah artikel dirujuk karena relevan dan memberikan kontribusi bagi penelitian lain. Artinya artikel jurnal tidak akan terus disitasi apabila tidak menawarkan pengetahuan yang bernilai.
Oleh karena itu, tingginya sitasi pada jurnal-jurnal Indonesia, termasuk yang dikelola PTKIN, justru menunjukkan bahwa artikel-artikel yang diterbitkan memiliki substansi yang dibutuhkan oleh peneliti lain. Banyak tema yang dikembangkan memiliki karakteristik yang khas dan tidak banyak ditemukan di negara lain. Keunikan konteks inilah yang menjadikan artikel-artikel tersebut relevan dan layak dirujuk dalam percakapan akademik yang lebih luas.
Baca juga: Pengamat Ekonomi Publik Sorot Prioritas dan Kualitas Belanja Publik Pemerintah Aceh
Baca juga: Prabowo Tegaskan Program MBG Tetap Lanjut, Tak Boleh Ada Penyelewengan
Aceh sebagai Laboratorium Humaniora Islam
Aceh merupakan contoh konkret bagaimana keunikan lokal dapat melahirkan pengetahuan yang bernilai global. Sebagai daerah yang memiliki sejarah panjang sebagai pusat peradaban Islam di Asia Tenggara dan diberi kekhususan dalam penerapan Syariat Islam, Aceh menawarkan konteks yang sangat khas dalam bidang pendidikan Islam, hukum keluarga, dan studi syariah.
Dinamika hubungan antara adat, agama, dan sistem hukum modern menjadikan Aceh sebagai laboratorium sosial yang tidak banyak ditemukan di tempat lain. Oleh karena itu, penelitian-penelitian yang lahir dari konteks Aceh memiliki perspektif yang unik dan wajar apabila menjadi rujukan bagi para akademisi yang menaruh perhatian pada kajian Islam dan masyarakat kontemporer.
Perlu juga dipahami bahwa peningkatan ranking dan perluasan pengaruh global tidak selalu terjadi secara bersamaan. Sebuah jurnal dapat lebih dahulu berhasil memenuhi standar editorial, etika, dan kualitas metodologis yang diakui secara internasional.
Setelah fondasi tersebut terbentuk, dampak global biasanya berkembang secara bertahap melalui konsistensi publikasi, kolaborasi lintas negara, dan akumulasi kepercayaan dari komunitas ilmiah dunia. Oleh karena itu, adanya jarak antara posisi peringkat dan luasnya jangkauan sitasi tidak seharusnya dipandang sebagai kejanggalan, melainkan sebagai fase normal dalam perjalanan menuju kematangan akademik.
Yang sering terabaikan adalah bahwa di balik pencapaian jurnal-jurnal Indonesia terdapat kerja kolektif yang sangat besar. Editor, reviewer, penulis, dan institusi telah menginvestasikan waktu, tenaga, dan sumber daya yang tidak sedikit untuk membangun tata kelola publikasi yang semakin profesional.
Proses ini telah mendorong peningkatan kualitas metodologi, penguatan budaya menulis, dan lahirnya ekosistem akademik yang lebih kompetitif. Dalam perspektif yang lebih luas, perkembangan ini merupakan bagian dari upaya Indonesia untuk membangun kemandirian dalam produksi pengetahuan.
Karena itu, kritik terhadap jurnal-jurnal Indonesia perlu ditempatkan secara seimbang. Pengawasan terhadap integritas sitasi tetap penting dan harus terus dilakukan. Namun, tidak tepat apabila seluruh capaian tersebut direduksi menjadi sekadar hasil permainan metrik.
Baca juga: Mualem di Persimpangan: JKA Didesil, Kepercayaan Rakyat Terbelah
Baca juga: Ekses Angin Kencang, Pohon Tumbang Timpa Rumah Warga di Aceh Besar
Penjelasan yang lebih adil adalah bahwa banyak jurnal Indonesia, termasuk jurnal-jurnal PTKIN, memperoleh perhatian karena menghadirkan tema, perspektif, dan data yang unik serta relevan bagi perkembangan ilmu pengetahuan.
Dalam konteks ini, kurang tepat apabila capaian jurnal-jurnal Indonesia disederhanakan dengan label stigmatis seperti “mafia sitasi”. Integritas akademik tentu harus dijaga, tetapi penilaian terhadap suatu jurnal semestinya didasarkan pada bukti yang objektif dan pemahaman yang proporsional.
Pola sitasi yang intens tidak selalu menunjukkan manipulasi; dalam banyak kasus, hal tersebut justru mencerminkan terbentuknya komunitas keilmuan yang aktif dan saling merujuk berdasarkan relevansi serta kontribusi ilmiah.
Pada akhirnya, artikel ilmiah tidak dirujuk hanya karena nama jurnalnya, namun artikel dirujuk karena memiliki nilai ilmiah, menawarkan kebaruan, dan menghadirkan keunikan intelektual yang membantu peneliti lain memahami suatu persoalan dengan lebih baik.
Dalam konteks itulah perkembangan jurnal-jurnal Indonesia seharusnya dipahami. Ranking mungkin menjadi indikator awal, tetapi substansi, kontribusi, dan keunikan pengetahuanlah yang pada akhirnya menentukan apakah sebuah jurnal benar-benar memiliki makna bagi dunia akademik global.(*)
PENULIS adalah Dosen pada UIN Ar-Raniry Banda Aceh dan Founder of SCAD Independent.
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.
| Scopus, Sitasi, dan Martabat Ilmu di Kampus Aceh: Membaca Ulang Kupi Beungoh Prof. TMJ |
|
|---|
| Kebijakan Datang di Tengah Luka: Awai Buet Dudoe Pike, Teulah Akhe Keupeu Lom Guna |
|
|---|
| Mahasiswa, JKA, Tukin, dan Pokir: Mengapa Rakyat Harus Membayar dengan Kesehatan? |
|
|---|
| Dampak Bencana Banjir Bandang Belum Pulih, Pergub Aceh No 2 Tahun 2026 Berlaku |
|
|---|
| Penjajahan Akademik Berbaju Saintifik |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Dr-Tabrani-ZA.jpg)