Jurnalisme Warga
Belajar Kelistrikan di PLN Nusantara Power UP Arun
Secara administrasi, semuanya berjalan baik. Namun, sebagai guru, saya sering merasa ada sesuatu yang tertinggal.
Pada saat siswa memasuki kawasan pembangkit listrik, suasana belajar berubah, ada rasa penasaran dan keingintahuan yang tinggi dari siswa yang selama ini belum muncul di kelas.
Diawali dengan sesi pertama pemaparan materi dari Asisten Menager Pemeliharaan UP Arun, pemutaran video dan beberapa informasi penting, yang kemudian suasana ruangan menjadi tambah hidup dengan adanya diskusi dan tanya jawab. Semua pertanyaan begitu mengalir dari siswa, meliputi biaya produksi, peran industri, lapangan kerja, dan dampaknya bagi masyarakat sekitar.
Kemudian, pada sesi kedua siswa diajak oleh Tim PLN UP Arun melakukan observasi ke lapangan, bagaimana sebuah pembangkit beroperasi, proses pengolahan limbah ditangani, siswa melihat langsung bagaimana energi listrik dihasilkan, dikonversikan, dan kemudian didistribusikan.
Berangkat dari pengalaman langsung, siswa lebih mudah memahami konsep kelistrikan. Inilah esensi pembelajaran lintas mata pelajaran yang diamanatkan dalam kegiatan kokurikuler, siswa belajar melihat satu persoalan secara utuh, bukan secara terpisah-pisah.
Kegiatan kokurikuler
Kokurikuler adalah kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan sebagai pendalaman, penguatan, pengayaan dari kegiatan pembelajaran di kelas. Kunjungan ini merupakan bagian dari kegiatan kokurikuler penguatan pembelajaran kontekstual dan lintas mata pelajaran.
Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pengalaman belajar langsung kepada siswa agar mampu mengaitkan teori yang dipelajari di kelas dengan praktik nyata di lapangan. Hal ini sejalan dengan konsep pembelajaran mendalam sebagaimana didefinisikan oleh Kemendikdasmen (2025), yaitu pendekatan yang memuliakan manusia dengan menekankan penciptaan suasana belajar yang berkesadaran (mindful), bermakna (meaningful), dan
menggembirakan (joyful). Pembelajaran ini tidak hanya melibatkan olah pikir, tetapi juga olah hati, olah rasa, dan olahraga, secara menyeluruh dan terpadu untuk mencapai hasil yang optimal.
Dalam praktik kokurikuler, siswa tidak hanya diajak memahami konsep materi semata, tetapi juga dilibatkan secara emosional dan sosial. Mereka diajak memahami, mengaplikasikan, merefleksikan, dan bertindak. Dengan kata lain, kokurikuler memberi ruang bagi pembelajaran mendalam untuk benar-benar terjadi dan bermakna bukan hanya sekadar diingat di kepala
siswa, tetapi juga di hati dan tindakan nyata mereka. Melalui kegiatan inilah pembelajaran menemukan maknanya. Kokurikuler bukan tambahan beban, melainkan ruang untuk memperdalam apa yang sudah dipelajari di kelas, ruang untuk menggali ilmu sehingga membekas dalam kehidupan.
Tantangan sekolah ke depan
Sebagai guru, saya merasa bahwa belajar antarlintas mata pelajaran akan menjadi lebih hidup dan bermakna. Ketika guru saling berkolaborasi, siswa pun belajar berpikir secara utuh.
Tantangan ke depan bagaimana sekolah dan guru konsisten menerapkan kegiatan kokurikuler ini, karena lingkungan sekitar, instansi, industri lokal yang sesungguhnya adalah sumber belajar yang menyenangkan jika ingin dimanfaatkan karena apa yang siswa pelajari di kelas memiliki arti dan makna bukan sekadar menghafal rumus, sekadar memahami konsep, melainkan benar-benar menjadi kebermaknaan dalam kehidupan mereka.
Jika pendidikan ingin sesuai dengan zaman saat ini, maka sekolah dan guru harus berani membuka diri pada pengalaman belajar yang nyata. Sebab, sering kali pelajaran paling bermakna tidak datang dari buku pegangan saja, melainkan dari pengalaman langsung, dari deru mesin yang bekerja, dari lingkungan sekitar sehingga tumbuh kesadaran bahwa ilmu pengetahuan sangatlah dekat dan nyata dengan kehidupan.
Keberanian untuk berubah
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/ZAWAHIR-JW.jpg)