Rabu, 20 Mei 2026

Kupi Beungoh

Membumikan Pendidikan Inklusif di Aceh

Mereka membutuhkan ruang sosial yang luas agar kemampuan komunikasi dan adaptasi berkembang secara alami.

Tayang:
Editor: Agus Ramadhan
Serambinews.com/HO
Alumnus Pascasarjana FMIPA UNPAD Bandung, Djamaluddin Husita 

Oleh: Djamaluddin Husita, S.Pd., M.Si

PERJALANAN menuju MIS Al-Husna di bawah naungan Yayasan Pendidikan Islam (YPI) Al-Husna Pondok Aren, Kota Tangerang Selatan, Banten, pada November 2025 lalu sebenarnya hanya bagian dari agenda Bimbingan Teknis Kurikulum Berbasis Cinta yang diikuti rombongan Kelompok Kerja Madrasah (K2M) Kota Banda Aceh.

Namun, kunjungan itu meninggalkan kesan yang jauh lebih besar daripada sekadar kegiatan kedinasan biasa.

Di madrasah tersebut, kami tidak hanya melihat proses belajar, tetapi menyaksikan secara langsung bagaimana sebuah sekolah memperlakukan anak-anak dengan penuh penghormatan, termasuk mereka yang selama ini sering disebut “berkebutuhan khusus”.
 
Pagi itu, murid-murid menyambut kami sambil melantunkan Selawat Badar. Mereka menyalami para tamu dengan wajah ceria dan membagikan kipas tangan hasil karya sendiri.

Suasana terasa sederhana dan hangat. Di halaman sekolah, anak-anak kemudian menampilkan Tarian Saman. Bagi kami yang datang dari Aceh, penampilan itu merupakan sebuah penghormatan luar biasa yang menghadirkan rasa bangga sekaligus haru karena dibawakan oleh anak-anak dari latar belakang dan kemampuan yang berbeda-beda.

Di tengah penampilan tersebut, seorang anak tiba-tiba merebahkan diri dan tidur di lantai halaman sekolah. Awalnya saya mengira guru akan segera membangunkannya agar acara tetap tertib.

Namun yang terjadi justru sebaliknya. Seorang guru menghampiri anak itu dengan tenang, membiarkannya tetap nyaman, lalu kembali mengawasi pertunjukan tanpa kepanikan. Tidak ada bentakan ataupun tatapan menyalahkan. Peristiwa kecil itu menjadi pelajaran besar.

Saya sadar bahwa pendidikan inklusif bukan sekadar menerima anak berkebutuhan khusus dalam administrasi sekolah. Pendidikan inklusif adalah cara memandang anak sebagai manusia yang memiliki kebutuhan berbeda-beda dan berhak diperlakukan dengan hormat.

Kepala MIS Al-Husna, Anizar, M.Pd., Ph.D., menjelaskan bahwa pendidikan inklusif di madrasah tersebut dimulai sejak tahun 2009. Awalnya bukan karena proyek pemerintah, tetapi karena kehadiran seorang anak penyandang Down Syndrome bernama Kak Amira.

Dari satu anak itu lahir kesadaran bahwa sekolah tidak boleh menolak siapa pun hanya karena kondisi tertentu. Kini, MIS Al-Husna dikenal sebagai salah satu madrasah inklusif yang bahkan menjadi rujukan nasional. Anak-anak inklusif belajar bersama siswa reguler dalam ruang yang sama tanpa sekat sosial.

Bahkan beberapa siswa inklusif mampu menghafal Al-Qur’an hingga belasan juz. Pengalaman itu memperlihatkan bahwa keterbatasan sering kali bukan terletak pada anak, melainkan pada cara lingkungan memberi kesempatan.

Pendidikan Inklusif dan Tantangan Aceh

Sekolah inklusif pada dasarnya adalah sekolah yang membuka akses pendidikan bagi semua anak tanpa membedakan kondisi fisik, mental, sosial, maupun kemampuan belajar mereka.

Dalam konsep ini, anak berkebutuhan khusus belajar bersama siswa reguler dalam lingkungan yang sama dengan pendekatan pembelajaran yang disesuaikan. Tujuan utamanya bukan sekadar memasukkan anak inklusif ke sekolah umum, tetapi menciptakan ruang pendidikan yang adil, setara, dan manusiawi.

Pendidikan inklusif bertujuan menghilangkan diskriminasi dalam pendidikan. Anak-anak inklusif tidak boleh dipandang sebagai kelompok yang terpisah dari kehidupan sosial. Mereka harus diberi kesempatan untuk tumbuh, bermain, dan belajar bersama teman-teman seusianya. 

Pada saat yang sama, siswa reguler juga belajar memahami keberagaman dan membangun sikap empati sejak dini.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved