Kupi Beungoh
Membumikan Pendidikan Inklusif di Aceh
Mereka membutuhkan ruang sosial yang luas agar kemampuan komunikasi dan adaptasi berkembang secara alami.
Guru dapat mulai belajar memahami karakter siswa yang beragam. Pemerintah perlu memperkuat pelatihan dan pendampingan bagi sekolah agar pendidikan inklusif tidak berhenti pada slogan.
Membumikan pendidikan inklusif bukan sekadar menempatkan anak berkebutuhan khusus di sekolah reguler. Lebih dari itu, ini tentang membangun sistem pendidikan yang lebih manusiawi.
Sekolah harus menjadi ruang yang membuat setiap anak merasa diterima, bukan ruang yang hanya nyaman bagi mereka yang dianggap “normal”. Pendidikan seharusnya hadir untuk membuka kesempatan bagi semua anak tanpa kecuali.
*) Penulis adalah Kepala Madrasah, Pengiat dan Pemerhati Masalah Pendidikan
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis
Baca Artikel KUPI BEUNGOH Lainnya di SINI
| Wabah Ebola: Kesiapan Uganda lebih cepat dari Indonesia |
|
|---|
| Akhirnya Pergub JKA Dicabut: Eungkot Tho Kareng Leubot, Peunyaket Sot Meugisa-gisa |
|
|---|
| Dollar dan Dapur Rumah Tangga di Desa |
|
|---|
| Akademisi atau Buruh Pengetahuan Global: Ketika Kampus Mengejar Reputasi Tapi Abai Ruh Peradaban |
|
|---|
| Bukan Mafia Sitasi, Ini Jejaring Ilmu: Tanggapan untuk Teuku Muhammad Jamil |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Alumnus-Pascasarjana-FMIPA-UNPAD-Bandung-Djamaluddin-Husita.jpg)