Rabu, 20 Mei 2026

Jurnalisme Warga

FK USK untuk Semua Anak Aceh, Bolehkah?

Baliho yang mengucapkan Selamat  Sidang Terbuka Dalam Rangka  Milad Ke-44 Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala (FK USK) masih terpancang

Tayang:
Editor: mufti
SERAMBINEWS/tambeh.wordpress.com
T.A. SAKTI, pencinta manuskrip dan sastra Aceh, melaporkan dari Gampong Mancang, Kecamatan Sakti, Pidie 

Celoteh pribadi

Saya selaku mahasiswa Fakultas Hukum dan Pengetahuan Masyarakat (FHPM) Unsyiah tingkat IV, yang sedang asyik dengan “dunia jurnalistik”, telah menyinggung berkali-kali tentang FK Unsyiah. Dalam Buletin “Peunawa” edisi 4-5 tahun 1980 terbitan Senat Mahasiswa Fekon Unsyiah, secara khusus saya menulis mengenai Fakultas Kedokteran Unsyiah dengan judul, “Bibit Unggul di Tanah Subur”.

Masih dalam Buletin “Peunawa”, Nomor 2/Juni 1980 dalam tulisan berjudul “Tanggal Keramat yang Dilupakan, Mengapa?” Pada bagian pendidikan di Aceh, saya singgung pula perihal FK Unsyiah dengan uraian yang cukup panjang.

Kemudian, dalam sebuah syair Aceh berjudul “Kru Seumangat!” yang dimuat Buletin “KERN” terbitan Senat Fakultas Teknik Unsyiah, nomor perdana -1/1980, saya juga menimang-nimang FK Unsyiah dalam syair Aceh.

Begitulah, gambaran kebanggaan saya terhadap FK Unsyiah, yang saya yakin juga dirasakan oleh sebagian besar masayarakat Aceh pada 44  tahun lalu.

Kini, pada saat ulang tahun ke-44 FK USK, saya menulis artikel ini juga bermakna bahwa saya masih mencintai FK USK.

Kita tercecer

Namun, mutu pendidikan di Aceh tidak mendukung keberuntungan yang disediakan fakultas kedokteran. Hal ini bukanlah  sekadar celoteh saya yang awam. Akan tetapi, mantan kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh, Anas M. Adam, juga mengamininya. Beliau menyebut, “Walaupun masih diperdebatkan masalah indikator mutu pendidikan, tetapi secara kasat  mata diakui bahwa mutu pendidikan di Aceh masih rendah. Tercermin dari nilai rata-rata yang dicapai  anak Aceh dalam UN dan UASBN masih di bawah provinsi lainnya, beberapa tahun terakhir bergerak dari urutan ke 20-25.”

Dia sebutkan bahwa daya saing lulusan sekolah Aceh masih sulit bersaing dengan lulusan luar daerah. Kenyataan, lulusan SMA di Aceh sulit bersaing masuk ke Unsyiah. “Saat ini, Unsyiah didominasi lulusan sekolah luar Aceh, terutama fakultas favorit seperti kedokteran. Menurut informasi, 90 persen lebih mahasiswa yang diterima di Fakultas Kedokteran Unsyiah tahun 2009 adalah lulusan dari luar Aceh.” (Lihat: “Mengurusi Pendidikan Aceh” oleh Anas M. Adam,  Harian  Serambi Indonesia, rubrik Opini, Sabtu, 16 Oktober 2010).

“Anak Aceh”

Dalam rangka menyambut Prof Mirza Tabrani SE, MBA, DBA sebagai rektor baru USK, Serambi Indonesia tanggal 11 Maret 2026 menurunkan “Salam Serambi” dengan tajuk “USK untuk Semua Anak Aceh”.

Judul itu sangat memancing perhatian saya, sehingga timbullah pertanyaan: Fakultas Kedokteran USK untuk Semua Anak Aceh, Bolehkah?

Sebab,  tes masuk FK USK sulit ditembus oleh calon mahasiswa asal Aceh. Maka, sepantasnyalah FK USK memberi “jatah khusus” kepada putra-putri Aceh dalam penerimaan mahasiswa baru setiap tahun.

Memberi keistimewaan ini adalah wajar, mengingat tujuan dan sejarah perjuangan para tokoh Aceh dalam usaha pendirian fakultas kedokteran dimaksud.

Masalah berapa persen ( % ) yang pantas diberikan itu, kita dapat berpedoman pada beberapa universitas yang pernah mempraktikkannya dengan angka 70 % vs 30 % , seperti  di Unand, UB, Unsri,  dan Unhas yang menerapkannya  di era 1970  sampai 1990-an.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved