Kupi Beungoh
Kebangkitan Nasional dan Masa Depan JKA
Pencabutan Pergub JKA dinilai harus jadi awal kebangkitan sistem kesehatan Aceh yang adil, transparan, dan berpihak pada rakyat.
Salah satu tantangan terbesar dalam sistem kesehatan daerah adalah kecenderungan menjadikan layanan kesehatan sebagai komoditas politik jangka pendek.
Program kesehatan sering dipopulerkan saat momentum elektoral, tetapi pembenahan sistemiknya tertunda. Padahal pelayanan kesehatan membutuhkan stabilitas kebijakan jangka panjang.
Rumah sakit tidak bisa bekerja hanya dengan semangat. Dokter tidak dapat melayani secara optimal tanpa sistem yang sehat.
Tenaga kesehatan tidak mungkin terus diminta berkorban sementara perlindungan sistem mereka masih lemah. Karena itu, pasca pencabutan Pergub JKA, Aceh memerlukan arah baru.
Pemerintah Aceh, DPRA, BPJS, rumah sakit, organisasi profesi, akademisi, dan masyarakat sipil perlu duduk bersama untuk membangun sistem pembiayaan kesehatan yang lebih realistis, transparan, dan berkelanjutan.
Yang dibutuhkan bukan sekadar menjaga keberlangsungan program, tetapi memastikan pelayanan kesehatan dapat berjalan stabil tanpa terus berada dalam tekanan krisis.
Karena itu, Aceh memerlukan pembenahan menyeluruh, mulai dari digitalisasi data layanan, transparansi klaim, penguatan tata kelola, optimalisasi pelayanan primer, pengendalian pemborosan anggaran, hingga integrasi sistem rujukan yang lebih efektif dan rasional.
Tanpa perbaikan mendasar tersebut, persoalan yang sama berisiko terus berulang meskipun regulasinya telah berganti.
Aceh bangkit dengan cara baru
Aceh memiliki sejarah panjang tentang perjuangan, ketahanan, dan solidaritas sosial. Namun, tantangan zaman hari ini berbeda. Kebangkitan modern tidak lagi ditentukan oleh kekuatan fisik atau konflik politik, melainkan oleh kemampuan membangun institusi yang sehat dan dipercaya oleh rakyat.
Kebangkitan Aceh di masa depan harus dimulai dari: pemerintahan yang transparan, pelayanan kesehatan yang manusiawi, pendidikan yang berkualitas, pengelolaan anggaran yang bertanggung jawab, serta keberanian untuk memperbaiki sistem secara jujur.
Hari Kebangkitan Nasional seharusnya mengingatkan bahwa bangsa besar bukan bangsa yang bebas dari masalah, melainkan bangsa yang berani memperbaiki diri.
Dan bagi Aceh, kebangkitan hari ini mungkin tidak lagi ditandai oleh heroisme besar di medan perjuangan. Kebangkitan itu justru dimulai dari hal-hal yang tampak sederhana, misalnya seorang pasien miskin yang tetap bisa berobat, dokter yang dapat bekerja dengan tenang, rumah sakit yang tidak kekurangan obat, dan rakyat yang kembali percaya bahwa negara hadir untuk menjaga mereka. (email:rajuddin@usk.ac.id)
Penulis adalah Guru Besar Universitas Syiah Kuala; Ketua IKA UNDIP Aceh; Sekretaris ICMI Orwil Aceh.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/ProfDrdr-Rajuddin-SpOGKSubspFER.jpg)