Jurnalisme Warga
Tantangan di “Selat Hormuz”, Antara Harapan dan Kekhawatiran
Di tengah hiruk pikuk arus lalu lintas antara Medan dan Banda Aceh, terdapat sebuah jembatan yang menjadi saksi bisu denyut kehidupan
Pernah beredar informasi bahwa jembatan ditutup pukul 14.00 WIB dan akan dibuka kembali pukul 16.00 WIB. Kebetulan hari itu saya dan beberapa guru lain ada kegiatan tambahan setelah jam pulang sekolah berupa zum 'technical meeting' tentang pelaksanaan FLS3N. Jadi, selesai acara tersebut saya menunggu di sekolah. Setelah menunaikan shalat Asar, saya berangkat pulang dengan penuh harapan. Namun, sesampainya di lokasi, jembatan ternyata masih dalam pengerjaan dan baru dibuka menjelang magrib. Akhirnya, saya dan para pengguna jalan lainnya terpaksa memutar arah menuju jalur lintas lain untuk menyeberang menggunakan getek di Pante Lhong, yang jaraknya lumayan jauh dari jalur utama. Alhasil, saya tiba di rumah setelah magrib.
Sebenarnya ini bukan pengalam pertama saya naik getek. Namun, yang membuat beda hari itu adalah setelah menempuh perjalanan jauh dari Juli ke Kutablang kemudian harus balik lagi ke Peusangan menuju Pante Lhong. Di lain kesempatan, diinformasikan di media sosial bahwa pukul 14.00–16.00 WIB Jembatan Kutablang ditutup sementara. Kebetulan saya tidak ada lagi tugas pada hari itu. Lalu, setelah shalat Zuhur saya langsung pulang, berharap sebelum pukul 14.00 WIB sudah tiba di jembatan. Namun, nyatanya lain, sesampai di sana, jembatan baru ditutup 10 menit, dengan menghela napas dan suasana hati yang kurang nyaman saya terpaska harus memutar sepeda motor balik.
Di Pante Lhong hanya tersedia dua getek yang beroperasi, sehingga antrean panjang tak terhindarkan. Kondisi pinggiran sungai yang terjal membuat siapa pun yang hendak menurunkan kendaraan harus berhati-hati. Para pengendara sepeda motor berbaris di kemiringan tanah, menunggu giliran untuk naik ke getek. Bagi yang tidak memiliki nyali cukup kuat untuk menurunkan motornya ke tepi sungai, petugas setempat siap membantu. Semua dilakukan dengan penuh kehati-hatian, karena sedikit saja salah perhitungan, kendaraan bisa tergelincir ke sungai dan bisa menyeret pengendara lain. Situasi itu menggambarkan betapa besar perjuangan masyarakat untuk tetap bisa melanjutkan aktivitas di tengah keterbatasan sarana penyeberangan.
Kisah seperti yang saya alami bukan hanya milik satu orang. Banyak warga lain juga mengalami hal serupa. Para pedagang yang membawa hasil bumi ke pasar, sopir angkutan umum yang mengejar setoran, hingga pelajar yang berjuang menuntut ilmu, semuanya bergantung pada jembatan yang kini mulai menua itu.
Saat ini, jembatan permanen pengganti sedang dalam tahap pengerjaan dengan target perampungan pada bulan Juli 2026. Besar harapan masyarakat agar pembangunan tersebut dapat diselesaikan tepat waktu dan berjalan lancar, karena kondisi jembatan bailey yang semakin memprihatinkan.
Setiap kali melintas, banyak pengguna jalan yang tak lupa menengok ke arah sungai di bawah jembatan. Airnya yang mengalir deras, membawa kenangan tentang banjir besar yang pernah meluluhlantakkan daerah ini. Namun, di atasnya, kendaraan terus bergerak, menandakan bahwa kehidupan tak pernah berhenti. Di situlah makna sejati dari “Selat Hormuz” Kutablang sebagai sebuah simbol keteguhan dan harapan yang tak pernah padam.
Kini, setiap derit besi jembatan menjadi pengingat bahwa waktu terus berjalan. Pelat baja yang bergetar di bawah roda kendaraan seolah berbicara tentang perjuangan masyarakat yang tak kenal lelah. Mereka tahu, jembatan itu mungkin rapuh, tapi semangat untuk terus melangkah jauh lebih kuat. Di tengah segala keterbatasan, masyarakat tetap beradaptasi, tetap bersyukur, dan tetap berharap.
“Selat Hormuz” Kutablang bukan hanya penghubung dua tepi sungai, melainkan penghubung antara masa lalu dan masa depan. Ia menjadi saksi bagaimana masyarakat di sini bangkit dari bencana, bertahan dalam keterbatasan, dan terus melangkah menuju harapan baru. Setiap perbaikan, setiap pengelasan, setiap pelat yang diganti adalah bagian dari perjalanan panjang menuju jembatan yang lebih baik, baik secara fisik maupun makna. Dan, di setiap langkah kaki yang melintasinya, tersimpan doa yang sama: semoga jembatan ini tetap kokoh sampai waktunya jembatan permanen bisa dilalui, tetaplah menjadi penghubung kehidupan, dan tetaplah menjadi simbol keteguhan hati masyarakat yang tak pernah menyerah menghadapi putaran waktu.
< tisyarifah>
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/TISYARIFAH.jpg)