Kamis, 28 Mei 2026

KUPI BEUNGOH

Di Antara Mimpi Allende dan Keteguhan Castro, Kemana Arah Perubahan Indonesia?

Di permukaan, semua ini tampak sebagai cetak biru yang menjanjikan. Gagasan dasarnya sejalan dengan cita-cita keadilan sosial.

Tayang:
Editor: Yocerizal
for serambinews
ARAH PERUBAHAN INDFONESIA - Penulis opini, Tarmizi, menyampaikan pandangannya tentang arah perubahan Indonesia di tengah berbagai program sosial dan ekonomi pemerintah. Dalam opininya, ia menekankan pentingnya perubahan kesadaran rakyat melalui pendidikan kritis agar transformasi nasional tidak sekadar menjadi pergantian elite, melainkan benar-benar melahirkan keadilan sosial dan kedaulatan rakyat. 

Freire mengingatkan bahwa bantuan yang hanya mengenyangkan perut tetapi membiarkan pola pikir tetap pasrah, pada akhirnya hanya akan menciptakan tenaga kerja yang sehat, kuat, murah, dan patuh — tanpa keberanian untuk bertanya ataupun mengkritik. Kondisi semacam ini justru menguntungkan sistem kapitalisme: rakyat boleh sedikit makmur, tetapi tidak memiliki daya kuasa.

Ketiga, tantangan geopolitik dan budaya korupsi menjadi tembok yang tidak mudah ditembus.  Sejarah negara-negara seperti Irak, Libya, maupun Iran menunjukkan bahwa dunia internasional tidak bergerak atas dasar keadilan, melainkan kepentingan. Kekuatan besar tidak akan tinggal diam melihat sebuah negara berusaha keluar dari ketergantungan ekonomi dan politik.

Baca juga: VIDEO - Korea Selatan Pertimbangkan Tangkap Netanyahu usai Insiden Flotilla Gaza

Baca juga: VIDEO - Tinggal Hitung Jam Ijab Kabul, Oknum Anggota Densus 88 Mendadak Batalkan Pernikahan

Kekuasaan Milik Rakyat

Di dalam negeri, persoalan Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN) juga masih mengakar kuat. Banyak pelaksana program yang masih bermental “pengabdi kekuasaan”, bukan “pelayan rakyat”. 

Lalu, di manakah harapan itu berada?

Jawabannya terletak pada Sekolah Rakyat dan transformasi pendidikan nasional. Program ini tidak boleh dipahami sekadar sebagai penyedia beasiswa atau asrama gratis. Lebih dari itu, ia merupakan ujian sejarah bagi masa depan bangsa.

Jika Sekolah Rakyat dan sistem pendidikan nasional hanya mengajarkan keterampilan teknis dan kepatuhan semata, maka Indonesia sesungguhnya sedang mengulang kisah Allende: mimpi besar yang perlahan dibajak oleh kekuatan lama.

Namun, apabila ruang-ruang pendidikan diisi dengan keberanian berpikir kritis, pemahaman tentang hak-hak warga negara, semangat keadilan sosial yang berpihak kepada kaum lemah, serta kesadaran sejarah perjuangan bangsa, maka Indonesia sedang menapaki jalan keteguhan seperti Kuba.

Pemerintah mungkin telah menyediakan “alat”: kedaulatan ekonomi, pengelolaan kekayaan negara, dan jaminan sosial. Akan tetapi, “nyawa” dari semua itu hanya dapat lahir melalui perubahan kesadaran kolektif.

Tanpa rakyat yang sadar, kritis, dan berani mengawasi kekuasaan, sehebat apa pun konsep pembangunan yang ditawarkan, semuanya hanya akan menjadi bungkus baru bagi sistem lama.

Indonesia tidak ingin menjadi Chili yang jatuh. Namun Indonesia juga tidak ingin menjadi negara kaya dengan rakyat yang tidak memiliki kuasa atas nasibnya sendiri. Yang ingin diwujudkan adalah Indonesia yang mandiri, adil, dan beradab. Dan itu hanya mungkin tercapai apabila perubahan ekonomi berjalan seiring dengan perubahan cara berpikir masyarakat.

Sebab pada akhirnya, kekuasaan yang paling abadi bukanlah milik raja atau presiden, melainkan milik rakyat yang sadar akan kekuatannya sendiri.

Catatan Penulis: Artikel ini disusun sebagai sintesis pemikiran kritis dan pelajaran sejarah, serta dimaksudkan sebagai bahan refleksi bagi para pemangku kebijakan, akademisi, dan masyarakat luas agar perubahan tidak hanya melahirkan program, tetapi juga kesadaran kolektif masyarakat.

(*) PENULIS adalah Mantan Aktivis 98 dan Pembina Aceh Institut *)

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Isi artikel dalam rubrik ini tidak mencerminkan pandangan Redaksi dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.

Baca juga: VIDEO - 9 WNI Korban Penahanan Israel Pulang dengan Trauma, Ada yang Dipukul dan Disetrum

Baca juga: Gawat, Dalam Sehari Harga Sawit di Aceh Jaya Anjlok Hingga 600 Rupiah Per Kilogram

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved