Selasa, 26 Mei 2026

Kupi Beungoh

Sekali AI Datang Kampus Pun Berubah

China menjadi contoh nyata tentang bagaimana negara mengubah arah pendidikan tinggi sesuai dengan kepentingan strategis nasionalnya.

Tayang:
Editor: Amirullah
For Serambinews.com
Prof.Dr.dr. Rajuddin, SpOG(K).,Subsp.FER, Guru Besar Universitas Syiah Kuala; Ketua IKA UNDIP Aceh dan Sekretaris ICMI Orwil Aceh   

Oleh: Prof. Dr. dr. Rajuddin, SpOG(K), Subsp.FER

Dunia pendidikan tinggi sedang mengalami perubahan besar yang mungkin tidak disadari banyak orang.

Perubahan itu datang perlahan, tetapi dampaknya sangat mendasar, yaitu jurusan-jurusan lama mulai ditinggalkan, sementara program studi baru berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), data besar, robotika, hingga teknologi masa depan tumbuh sangat cepat.

China menjadi contoh nyata tentang bagaimana negara mengubah arah pendidikan tinggi sesuai dengan kepentingan strategis nasionalnya.

Laporan The Straits Times menuliskan bahwa sejak 2023 universitas-universitas di China mulai menutup ribuan program studi lama dan menggantinya dengan jurusan baru yang dianggap lebih relevan dengan perkembangan teknologi masa depan. 

Dalam satu tahun, sekitar 1.670 jurusan dihentikan dan 1.673 jurusan baru dibuka. Pemerintah China bahkan menargetkan sekitar 20 persen program sarjana di negaranya mengalami penyesuaian sebelum tahun 2025.

Ini bukan sekadar perubahan administratif di lingkungan kampus, melainkan sinyal kuat bahwa dunia sedang memasuki babak baru dalam peradaban pendidikan tinggi.

Pepatah Melayu lama mengatakan: “Sekali air bah, sekali tepian berubah.” Hari ini, air bah itu bernama AI, otomatisasi, digitalisasi, dan revolusi industri berbasis data. Tepian yang berubah adalah universitas, kurikulum, jenis pekerjaan, bahkan definisi tentang masa depan manusia itu sendiri.

Yang menarik, perubahan ini tidak hanya terjadi pada kampus berbasis teknologi. Sejumlah jurusan yang dahulu sangat diminati, seperti penyiaran, musik, bahasa asing, hingga beberapa cabang teknik konvensional mulai mengalami pengurangan. 

Sebaliknya, bidang-bidang baru seperti brain-computer interface, manufaktur cerdas, kecerdasan buatan, dan rekayasa visual digital justru tumbuh sangat cepat seiring perubahan kebutuhan industri dan arah pembangunan masa depan. Artinya, kampus hari ini tidak lagi sekadar tempat untuk mentransfer ilmu pengetahuan klasik. 

Baca juga: Profil Yuni Utami Eks Polwan Viral yang Kembali Bikin Geger, Pernah Dipecat hingga Dirawat di RSJ

Era Kecerdasan Buatan

Kampus mulai diarahkan untuk menjadi penyedia SDM strategis bagi perekonomian, teknologi, dan daya saing negara. Perubahan ini sulit dihindari karena dunia kerja terus berubah sangat cepat. Banyak pekerjaan rutin mulai digantikan oleh AI dan otomatisasi.

Kampus yang gagal beradaptasi berisiko menghasilkan lulusan yang tidak lagi relevan dengan kebutuhan zaman.

Namun, di tengah arus besar transformasi teknologi, muncul pula kekhawatiran yang tidak kecil: jangan-jangan pendidikan tinggi perlahan kehilangan dimensi manusianya.

Ketika kampus berlomba mengejar AI, data science, dan teknologi cerdas, bidang humaniora, seni, budaya, bahasa, komunikasi, serta nilai-nilai kemanusiaan berisiko dipandang semakin kurang penting.

Padahal sejarah menunjukkan bahwa peradaban besar tidak hanya dibangun oleh teknologi, tetapi juga oleh manusia yang mampu berpikir kritis, memahami budaya, menjaga empati, dan membangun komunikasi antarmanusia. AI bisa membuat mesin berbicara, tetapi AI belum mampu memahami makna kesedihan manusia.

AI mungkin mampu menerjemahkan bahasa dengan sangat cepat, tetapi belum tentu mampu memahami kedalaman jiwa, nilai, dan sensitivitas budaya manusia. Di sinilah tantangan terbesar pendidikan masa depan muncul: menjaga keseimbangan antara kemajuan teknologi dan kemanusiaan. 

Bahkan China sendiri mulai menghadapi perdebatan mengenai batas antara efisiensi teknologi dan pelestarian nilai-nilai sosial serta budaya.

Sejumlah akademisi mengingatkan bahwa pembatalan jurusan bahasa asing dan bidang humaniora secara besar-besaran dapat membuat negara kehilangan kemampuan untuk memahami dunia luar secara lebih manusiawi. 

Penerjemahan bukan sekadar memindahkan bahasa, tetapi menjembatani budaya dan peradaban. Gejala ini menjadi pelajaran penting bagi Indonesia. Banyak kampus masih terjebak pada pola lama: membuka jurusan karena tren, mengikuti pasar tanpa arah yang jelas, atau sekadar mengganti nama program studi tanpa perubahan kompetensi yang substantif.

Istilah “digital”, “AI”, dan “smart” kini mulai banyak disematkan pada berbagai program studi. Namun, pertanyaan mendasarnya adalah: apakah transformasi itu benar-benar terjadi pada isi kurikulum, kualitas dosen, dan kesiapan infrastruktur pembelajaran? Ataukah perubahan tersebut baru sebatas pencitraan akademik untuk meningkatkan daya tarik penerimaan mahasiswa baru?

Perubahan dalam pendidikan tinggi tidak cukup hanya dengan mengganti nama jurusan. Yang jauh lebih penting adalah membangun cara berpikir baru. Mahasiswa masa depan bukan hanya membutuhkan kemampuan menghafal teori, tetapi juga kemampuan berpikir kritis, beradaptasi, menyelesaikan masalah, serta belajar sepanjang hayat.

Baca juga: Fenomena Remaja Nongkrong Hingga Larut Malam dan Pengaruhnya terhadap Citra Aceh

Perubahan bagi Indonesia

Perubahan pendidikan tinggi di era AI menunjukkan bahwa yang mampu bertahan bukan lagi mereka yang paling kuat menghafal, melainkan mereka yang paling cepat beradaptasi dan belajar ulang. Bagi Indonesia, tantangannya jauh lebih kompleks karena transformasi teknologi harus berjalan di tengah ketimpangan pendidikan, kualitas SDM, akses digital, dan infrastruktur antarwilayah.

Kampus-kampus besar di kota maju mungkin memiliki sumber daya untuk bergerak cepat memasuki era kecerdasan buatan. Namun, bagaimana dengan perguruan tinggi di daerah? Bagaimana dengan mahasiswa di wilayah yang bahkan akses internetnya yang stabil pun masih menjadi persoalan?

Karena itu, yang dibutuhkan Indonesia bukanlah menghapus atau “membunuh” program studi lama, melainkan mentransformasikan arah kompetensinya agar lebih adaptif terhadap perubahan zaman. Pertanian perlu bergerak menuju precision agriculture berbasis data dan teknologi. Kehutanan harus terhubung dengan isu karbon, biodiversitas, restorasi gambut, dan pemetaan spasial. 

Bidang kesehatan perlu memahami AI klinis, bioetika, manajemen data pasien, hingga telemedicine. Bahkan pendidikan agama pun harus mulai memperkuat literasi digital, etika AI, moderasi, serta dimensi kemanusiaan.

Perubahan bagi Aceh

Bagi Aceh, pesan ini sangat relevan. Kampus-kampus di Aceh tidak cukup hanya membuka program studi semata karena tingginya minat mahasiswa. Pertanyaannya, apakah program studi tersebut benar-benar menjawab kebutuhan masa depan Aceh? 

Daerah ini membutuhkan sumber daya manusia yang kuat di bidang kesehatan daerah, kebencanaan, ekonomi halal, agro-maritim, energi hijau, tata kelola digital, pendidikan Islam modern, hingga pelayanan publik berbasis data.

Dalam konteks Fakultas Kedokteran Universitas Teuku Umar (FK UTU) Meulaboh, misalnya, gagasan “mendidik dokter di daerah untuk kembali ke daerah” justru sejalan dengan arah transformasi pendidikan global tersebut. 

Kampus daerah tidak harus meniru kampus besar di kota metropolitan, melainkan menemukan keunggulan kontekstualnya sendiri: membentuk dokter yang memahami persoalan kesehatan wilayah pesisir, daerah bencana, kawasan terpencil, keterbatasan sistem rujukan, serta kebutuhan nyata masyarakat di Barat Selatan Aceh.

Pada akhirnya, masa depan pendidikan Indonesia, khususnya di Aceh, tidak boleh hanya diukur dari banyaknya gedung kampus, jumlah program studi, atau angka kelulusan semata. Pendidikan Aceh harus mampu melahirkan generasi yang bukan hanya cerdas dalam menghadapi teknologi, tetapi juga mampu menjaga nilai, identitas, dan keberpihakan terhadap masyarakatnya. 

Aceh tidak hanya membutuhkan lulusan yang mampu bersaing secara global, tetapi juga generasi yang memahami denyut masyarakatnya dan kembali membangun daerahnya dengan ilmu serta nurani. Sebab pendidikan sejati bukan sekadar mencetak profesi, melainkan menjaga peradaban. (email:rajuddin@usk.ac.id)

 

Penulis adalah Guru Besar Universitas Syiah Kuala; Sekretaris ICMI Orwil Aceh.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved