Senin, 25 Mei 2026

Kupi Beungoh

Mitos Publikasi: Di Antara Scopus, Surga, dan Doa yang Tertunda  

Tekanan publikasi ilmiah makin berat. Guru Besar USK M Shabri Abd Majid mengulas mitos Scopus, desk reject, hingga kecemasan akademisi.

Tayang:
Editor: Amirullah
Serambinews.com/HO
M SHABRI ABD MAJID, Profesor Bidang Ekonomi Islam dan Koordinator Prodi S3 Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh. 

Di sana, uang berhenti sebagai urusan administrasi; ia tidak boleh menyentuh keputusan akademik. Open access hanya membuka akses setelah artikel diterima, bukan membeli kelayakan ilmiah. Yang meloloskan naskah tetaplah kebaruan, ketepatan metode, kekuatan argumen, dan integritas.

Ketika biaya publikasi menjadi jalan pintas legitimasi, publikasi berubah dari kerja ilmu menjadi pasar ilusi akademik.

Mitos kedua: semua jurnal internasional memungut biaya dari penulis. Ini keliru. Pada jurnal closed access, penulis umumnya tidak membayar APC. Pada green open access, penulis dapat membagikan preprint atau author accepted manuscript di repositori tanpa APC.

Pada gold open access, APC sering dikenakan, tetapi bisa ditanggung universitas, konsorsium, sponsor, atau skema waiver. Pada diamond open access, penulis tidak membayar APC dan artikel tetap terbuka. Jadi, “jurnal internasional” tidak identik dengan “jurnal berbayar”.

Yang penting adalah memastikan peer review, reputasi indeksasi, tata kelola editorial, dan etika penerbitannya jelas.

Mitos ketiga: bahasa bagus pasti lolos. Banyak naskah ditulis dalam bahasa Inggris yang halus, tetapi tetap ditolak. Mengapa? Karena jurnal tidak hanya membaca grammar. Jurnal membaca gagasan.

Bahasa adalah pakaian; kontribusi adalah tubuh. Artikel dengan kalimat indah tetapi pertanyaan riset lemah tetap terlihat kosong. Proofreading bukanlah scholarly positioning. Editor tetap bertanya: apa yang baru, mengapa jurnal ini, dan mengapa pembaca internasional harus peduli?

Mitos keempat: metode canggih adalah mantra. AI, machine learning, big data analytics, eksperimen laboratorium, uji klinis, survei nasional, simulasi komputasional, pemodelan statistik kompleks, analisis bibliometrik, atau perangkat lunak analisis terbaru sering dipuja seperti jimat baru akademia. Seolah-olah artikel akan naik derajat hanya karena metodenya terdengar mahal dan rumit.

Padahal metode hanyalah pisau; ia tidak menyelamatkan operasi jika diagnosisnya keliru. Jurnal bereputasi tidak mencari kerumitan, tetapi ketepatan. Yang dicari reviewer adalah kesatuan napas antara pertanyaan riset, teori, data, metode, temuan, dan kontribusi.

Mitos kelima: desk reject berarti artikel buruk. Desk reject memang melukai harga diri akademik. Suratnya pendek, dingin, dan terasa seperti pintu ditutup sebelum tamu sempat bicara.

Namun desk reject tidak selalu berarti artikel lemah. Ia bisa berarti mismatch dengan scope, novelty belum eksplisit, kontribusi tidak sesuai percakapan jurnal, atau kasus terlalu lokal tanpa general insight. Nasib artikel sering berubah bukan karena datanya berubah, melainkan karena framing-nya menemukan rumah yang tepat.

Mitos keenam: reviewer selalu benar. Reviewer adalah penjaga mutu, tetapi bukan nabi. Mereka bisa tajam, keliru, terburu-buru, atau membaca dari sudut yang berbeda.

Penulis yang matang tidak harus menuruti semua permintaan secara membabi buta. Ia perlu tahu kapan menerima, kapan menolak dengan hormat, dan kapan menawarkan kompromi. Dalam revisi, yang diperjuangkan bukan ego penulis, melainkan integritas argumen.

Mitos ketujuh: major revision hampir pasti diterima. Ini juga keliru. Major revision adalah pintu yang terbuka setengah, bukan surat jaminan.

Ia berarti naskah punya potensi, tetapi masih menyimpan luka serius. Revisi yang defensif dan kosmetik bisa berakhir dengan penolakan; revisi yang tekun bisa mengubah kritik menjadi jalan masuk.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved