Selasa, 26 Mei 2026

Kupi Beungoh

Mitos Publikasi: Di Antara Scopus, Surga, dan Doa yang Tertunda  

Tekanan publikasi ilmiah makin berat. Guru Besar USK M Shabri Abd Majid mengulas mitos Scopus, desk reject, hingga kecemasan akademisi.

Tayang:
Editor: Amirullah
Serambinews.com/HO
M SHABRI ABD MAJID, Profesor Bidang Ekonomi Islam dan Koordinator Prodi S3 Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh. 

Mitos kedelapan: hasil tidak signifikan adalah kegagalan. Dalam budaya akademik yang terobsesi pada bintang statistik, hasil tidak signifikan sering dianggap aib. Padahal ketidaksignifikanan bisa menjadi temuan penting jika ditempatkan dalam teori yang tepat.

Jika suatu intervensi tidak berdampak, jika teknologi tidak meningkatkan pembelajaran, jika kebijakan tidak mengubah perilaku, atau jika pertumbuhan tidak menurunkan kemiskinan, itu bukan sekadar “hasil lemah”. Itu bisa menjadi pintu untuk memahami mengapa asumsi lama tidak bekerja. Ilmu tidak hanya bergerak karena hasil signifikan; ilmu juga bergerak ketika keyakinan lama terbukti retak.

Menyelamatkan Napas Ilmu

Mitos publikasi perlu diurai bukan dengan membenci jurnal, melainkan dengan memahami ekosistemnya secara jernih. Jurnal bukan musuh. Reviewer bukan algojo. Indeks bukan kitab suci. Yang perlu dilawan adalah cara pandang yang mereduksi publikasi menjadi angka. Karena itu, jurnal seharusnya dipilih karena kecocokan gagasan, bukan semata peringkat.

Kontribusi juga harus ditulis secara terang. Jangan berharap editor menebak kebaruan. Katakan dengan jelas: celah keilmuan, mekanisme yang ditawarkan, sumbangan teoritis, dan implikasi praktisnya. Kasus lokal pun tidak perlu disembunyikan. Aceh, desa, pesantren, koperasi, rumah sakit daerah, sekolah pinggiran, komunitas adat, laboratorium kecil, atau bank syariah lokal dapat menjadi laboratorium teori jika mampu membuka pelajaran yang lebih luas.

Etika harus tetap menjadi pagar. Jangan membelah satu studi menjadi banyak artikel tipis, memaksa sitasi, atau mengejar jurnal predatory hanya demi terlihat produktif. Kampus dan negara juga perlu berhenti menyederhanakan ilmu menjadi skor. Mengajar, membimbing, membangun data, menulis buku, menyusun naskah kebijakan, merawat mahasiswa, dan menjaga integritas ilmiah adalah kerja akademik yang sama pentingnya.

Publikasi memang gerbang, tetapi ilmu bukan gerbang itu. Jurnal boleh menolak naskah, tetapi tidak boleh memadamkan keberanian berpikir. Reviewer boleh mengkritik, tetapi tidak boleh mencabut akar rasa ingin tahu. Indeks boleh mengukur jejak, tetapi tidak boleh menjadi Tuhan kecil yang menentukan nilai seorang akademisi.

Tugas kita bukan hanya menembus jurnal, melainkan menulis dengan martabat, merevisi dengan rendah hati, memilih jurnal dengan strategi, dan menjaga agar ilmu tetap menjadi cahaya, bukan sekadar angka di dashboard kinerja.

Penulis adalah Guru Besar Ekonomi Islam dan Koordinator Prodi Doktor Ilmu Ekonomi, Universitas Syiah Kuala (USK), Banda Aceh.
E-mail: mshabri@usk.ac.id 

 

Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved