Kamis, 28 Mei 2026

Pojok Humam Hamid

Qurban Sosial: Mampukah Aceh Melepaskan Hambatan Kemajuan

Ini adalah bentuk pertama dari qurban sosial dalam skala institusional - pengorbanan eksklusivitas pengetahuan demi produktivitas kolektif

Tayang:
Editor: Subur Dani
SERAMBINEWS.COM/HO
Prof. Dr. Ahmad Humam Hamid, MA, Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. 

Ini bukan sekadar masalah teknis. Ini adalah masalah budaya institusional.

Baca juga: Khutbah Idul Adha di Suak Raya, Khatib Ajak Ayah “Sembelih Ego”

Qurban sosial memaksa kita untuk melihat bahwa sebagian dari apa yang kita sebut “kearifan” sebenarnya adalah mekanisme mempertahankan status quo.

Tidak semua tradisi memperkuat kemajuan; sebagian justru melindungi inefisiensi dari kritik. Dan dalam banyak masyarakat, hal ini menjadi titik buta yang paling berbahaya: inefisiensi yang tidak lagi dianggap masalah.

Untuk memahami dinamika ini secara lebih dalam, kita bisa menarik cermin sejarah ke salah satu fase paling produktif dalam peradaban Islam klasik, yaitu masa Abbasiyah.

Pada periode ini, dunia Islam tidak hanya berkembang secara politik, tetapi juga mengalami transformasi intelektual dan ekonomi yang sangat besar.

Namun yang sering diabaikan adalah bahwa transformasi ini tidak terjadi secara spontan. Ia adalah hasil dari serangkaian keputusan yang secara sosial tidak selalu nyaman, bahkan sering kali kontroversial pada masanya.

Baca juga: Meunasah Al-Bayan Aceh Barat Sembelih 22 Hewan Kurban, Warga Kompak Bergotong Royong

Salah satu perubahan paling mendasar adalah munculnya institusi pengetahuan yang terstruktur melalui Baitul Hikmah.

Di sini, pengetahuan tidak lagi bergantung pada otoritas individual atau hafalan personal semata, tetapi diorganisasi dalam bentuk sistem yang memungkinkan reproduksi, kritik, dan pengembangan.

Ini adalah bentuk pertama dari qurban sosial dalam skala institusional - pengorbanan eksklusivitas pengetahuan demi produktivitas kolektif.

Perubahan ini tidak netral. Ia menggeser struktur otoritas. Ia mengubah siapa yang berhak menentukan pengetahuan sah, bagaimana ilmu disebarkan, dan siapa yang memiliki akses terhadapnya.

Baca juga: Korem 011/Lilawangsa Sembelih 11 Ekor Hewan Kurban

Dalam setiap masyarakat, perubahan seperti ini selalu menimbulkan resistensi, karena ia menyentuh sumber kekuasaan yang tidak selalu tampak: monopoli atas informasi.

Lapisan kedua dari transformasi Abbasiyah adalah keterbukaan terhadap pengetahuan asing. Dunia Islam pada masa itu tidak tumbuh dalam isolasi intelektual.

Sebaliknya, ia secara aktif menyerap, menerjemahkan, dan mengembangkan tradisi Yunani, Persia, dan India. Filsafat, matematika, kedokteran, dan astronomi tidak ditolak, tetapi diolah ulang dalam kerangka peradaban baru.

Ini adalah bentuk qurban sosial yang lebih tajam: pengorbanan rasa superioritas budaya demi keunggulan intelektual. Banyak peradaban gagal melakukan ini.

Baca juga: Warga Meunasah Krueng Qurbankan 14 Sapi dan 10 Kambing, Sasar 972 Kepala Keluarga

Mereka lebih memilih rasa aman dalam batas identitasnya sendiri daripada risiko keterbukaan.

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved