KUPI BEUNGOH
Ketika Negara “Beribadah” Pakai Pajak Rakyat
Di permukaan tampak mulia, tapi kalau ditelusuri syariat dan hati nurani, ada sesuatu yang sangat salah dan menyakitkan di sini.
Lalu pertanyaannya: siapa yang berkurban di sini? Presiden? Negara? Atau kita semua rakyat yang membayar pajak?
Kalau kita yang bayar, kenapa cuma satu nama yang dipajang sebagai yang beribadah?
Ini sama saja kita diminta beli kado, tapi yang memberi dan dipuji hanya pemimpin. Di Aceh, kami sebut ini: pencurian pahala berbalut agama.
Uang APBN Itu Darah Rakyat
Jangan pernah lupakan fakta ini: Setiap rupiah di APBN adalah keringat dan jerih payah seluruh rakyat Indonesia.
Uang tukang becak, pedagang kecil, petani, buruh, guru honorer, nelayan, sampai warga desa terpencil semuanya ikut menyumbang lewat pajak dan pungutan.
Uang itu dititipkan negara untuk apa? Untuk perbaiki jalan rusak, bangun sekolah yang bocor, lengkapi puskesmas yang tanpa obat, beri beras bagi yang lapar, dan selamatkan nyawa saat bencana datang. Bukan untuk dibelikan sapi mewah demi pencitraan kekuasaan.
Baca juga: Gerindra Tegaskan Bantuan 1.098 Sapi Kurban Prabowo dari APBN Sesuai Aturan, Sudah Ada Sejak Era SBY
Baca juga: MUI Tanggapi Sapi Kurban Prabowo Pakai APBN: Sah Secara Syariat dan Logis Secara Birokrasi Negara
Mari kita buka kembali luka yang belum kering di dada saudara-saudara kita di Sumatera. Akhir November lalu, banjir dahsyat dan longsor melanda Aceh, Sumut, dan Sumbar.
Data resmi mencatat: 1.204 orang meninggal dunia, 140 hilang, lebih dari 8.000 luka-luka, jutaan orang kehilangan rumah dan tempat hidup, kerugian mencapai Rp 68,6 triliun rupiah.
Hingga hari ini, masih ribuan keluarga berteduh di tenda darurat, masih banyak rumah belum dibangun kembali, ladang pertanian hilang tertimbun tanah, jembatan putus, dan akses terputus.
Banyak anak yatim, janda, dan orang tua yang masih menunggu janji bantuan yang tak kunjung sampai sepenuhnya.
Apakah pantas dan berhati nurani saat saudara kita masih tidur di alas darurat, saat mereka butuh beras, obat, selimut, dan atap rumah, negara malah menghamburkan Rp 100 miliar untuk beli sapi seberat satu ton lebih? Sapi yang harganya setara belasan rumah layak huni, ratusan ton beras, atau obat-obatan untuk satu kabupaten.
Kalau uang itu dialihkan untuk bangun kembali desa yang hilang, perbaiki sungai yang meluap, beri santunan korban, atau bangun tempat berlindung aman, itu adalah amal jariyah paling mulia, yang pahalanya jauh lebih besar daripada sekadar menyembelih hewan.
Itu baru pengorbanan sejati, itu baru ibadah yang dicintai Allah. Kenapa harus lewat kurban? Supaya terlihat saleh? Supaya dapat pujian umat?
Di sini letak ketidakadilan yang menyakitkan: Rakyat rela bayar pajak demi keselamatan bersama, tapi uangnya dipakai untuk mencetak pahala segelintir orang.
Kami di Aceh Mengerti Batas Suci dan Dunia
Di tanah Rencong ini, kami sangat tegas memegang prinsip: Negara tidak beragama, tapi negara wajib melindungi agama.
Beribadah Pakai Uang Rakyat
Opini Wak Tar
Tarmizi Wak Tar
Sapi Kurban Prabowo
Sapi Kurban Bantuan Presiden Prabowo
Opini Sapi Kurban Presiden
| Ngopi Sambil Nonton Bola: Tren Baru yang Mengubah Wajah Malam Kota |
|
|---|
| Arafah, Tempat Manusia Kembali Menatap Diri dan Sang Pencipta |
|
|---|
| Amarah Bukan Takdir: Menelusuri Akar Temperamen dari Sudut Pandang Psikologi |
|
|---|
| Polemik JKA dan Jalan Aceh Menuju Pemerintahan Digital |
|
|---|
| Literasi di Tengah Banjir Informasi: Kenapa Kita Mudah Percaya Hoaks? |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Tarmizi-Wak-Tar.jpg)