Kamis, 28 Mei 2026

KUPI BEUNGOH

Ketika Negara “Beribadah” Pakai Pajak Rakyat

Di permukaan tampak mulia, tapi kalau ditelusuri syariat dan hati nurani, ada sesuatu yang sangat salah dan menyakitkan di sini.

Tayang:
Editor: Yocerizal
for serambinews
SOROT SAPI KURBAN PRESIDEN - Penulis opini, Tarmizi, menyampaikan pandangannya tentang sapi kurban Presiden yang menggunakan uang pajak rakyat. 

Artinya: Negara tugasnya menjamin setiap warga bisa beribadah dengan aman, bebas, dan tenang, bukan negara yang melaksanakan ibadah, apalagi pakai uang rakyat.

Baca juga: VIDEO - Detik-detik Sapi Kurban Ngamuk di Indramayu, Motor Warga Berjatuhan

Baca juga: Seniman asal Aceh Agus Nuramal akan Tampil di Pameran Internasional Pinacoteca de São Paulo, Brasil

Kalau Bapak Presiden atau pejabat mau berkurban, silakan saja, pakai gaji sendiri, pakai harta pribadi, mau beli sapi seberat 2 ton pun kami hormati sebagai ibadah yang sah dan baik.

Tapi kalau pakai APBN, secara syariat tidak sah sebagai kurban, paling tinggi nilanya sekadar sedekah kolektif rakyat, tapi namanya tetap dicatatkan atas kekuasaan.

Secara etika? Ini penyalahgunaan amanah, karena memakai harta titipan untuk kepentingan pribadi dan citra politik.

Allah berfirman dalam QS. Al-Maidah ayat 8:
"Jadilah kamu penegak keadilan karena Allah..."

Keadilan itu artinya: pakailah uang rakyat untuk kepentingan rakyat, pakailah harta sendiri untuk mendekat pada Allah. Jangan terbalik.

Pahala Palsu & Makna Kurban yang Hilang

Makna asli Idul Adha adalah meneladani Nabi Ibrahim yang rela mengorbankan putra kesayangannya karena cinta pada Allah. Intinya: melepaskan apa yang paling kita cintai demi perintah-Nya.

Tapi kalau yang dikorbankan itu bukan milik kita, kalau yang "dilepas" itu uang orang lain, di mana maknanya? Itu bukan kurban, itu sandiwara.

Rakyat kita masih berat hidup: harga beras naik, harga pupuk mahal, pengangguran banyak, fasilitas kurang. Tapi negara beli sapi seharga mobil mewah.

Pesannya apa? Bahwa pencitraan lebih mahal daripada nyawa dan nasib saudara kita di Sumatera?

Ingatlah firman Allah dalam QS. At-Taubah ayat 105:
"Dan katakanlah: 'Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu...'"

Baca juga: Penembakan Brutal di Dalam Masjid Menjelang Shalat Idul Adha di Filipina, Dua Jamaah Tewas

Baca juga: Sering Pesan Makanan Siap Saji? Penelitian Ungkap Tubuh Bisa Menua Lebih Cepat

Pekerjaan yang dilihat dan dicatat Allah bukan seberapa besar sapinya, tapi seberapa adil, seberapa peduli, dan seberapa benar kamu menjaga amanah rakyat.

Kesimpulan tegas kami di Aceh

Ibadah yang sejati itu ikhlas, murni, dan tidak merugikan siapa pun. Kalau pakai uang rakyat untuk beribadah atas nama sendiri, itu bukan takwa. Itu sekadar: Negara Beribadah Pakai Milik Orang Lain. Dan sesungguhnya amalan seperti itu tidak akan diterima, apalagi diampuni.

Negara ada untuk melayani, bukan beribadah. Uang rakyat untuk kesejahteraan rakyat, bukan untuk kemuliaan pejabat. Jangan jadikan pajak kami sebagai alat membeli pahala bagi mereka yang duduk di kursi kekuasaan.

Karena pada akhirnya, yang kita pertanggungjawabkan bukanlah pujian manusia, melainkan pertanyaan berat di hadapan Allah: "Ke mana kamu bawa amanah yang Kami titipkan?".(*)

PENULIS adalah mantan aktivis 1998 dan Anggota Dewan Pembina The Aceh Institute.

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Isi artikel dalam rubrik ini tidak mencerminkan pandangan Redaksi dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.

Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved