Kamis, 4 Juni 2026

KUPI BEUNGOH

Aceh Punya Damai, tapi Anak Mudanya Punya Apa?

Dua dekade perdamaian melahirkan generasi yang selamat dari konflik, namun terperangkap dalam kemiskinan dan kebimbangan identitas.

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Yocerizal
for serambinews
TANTANGAN GENERASI MUDA ACEH - Ryan Hasri, praktisi komunikasi dan mahasiswa International Peace and Development Studies UIN Ar-Raniry. Dalam opininya berjudul "Aceh Punya Damai, tapi Anak Mudanya Punya Apa?", ia menyoroti tantangan yang dihadapi generasi muda Aceh pascaperdamaian, mulai dari pengangguran, kemiskinan, hingga krisis identitas di tengah perubahan sosial dan berkurangnya Dana Otonomi Khusus. 

Tapi kemiskinan saja bukan cerita lengkapnya. Ada dimensi lain yang lebih sunyi: krisis identitas. Pemuda Aceh tumbuh dalam persimpangan yang tidak mudah.

Di satu sisi, Syariah Islam diformalkan dalam qanun dan menjadi identitas pembeda Aceh dari provinsi lain. Di sisi lain, globalisasi menawarkan dunia yang jauh lebih cair melalui TikTok yang menjual mimpi hidup di kota besar. 

Di mana posisi seorang anak muda Aceh di antara dua dunia itu? Bahkan bahasa Aceh pun kini mulai ditinggalkan. Banyak orang tua yang berhenti menuturkan bahasa ibu kepada anaknya. Fenomena yang meningkat pesat justru setelah tsunami dan perdamaian. 

Ini bukan sekadar persoalan linguistik. Ini sinyal bahwa akar identitas lokal sedang longgar, sementara identitas pengganti belum benar-benar tertancap. Dalam kondisi seperti inilah, frustrasi ekonomi bertemu kebimbangan identitas dan kerentanan mencari alternatif tumbuh subur. 

Seorang pemuda yang tidak tahu akan jadi apa, dan tidak tahu sepenuhnya siapa dirinya, adalah pemuda yang paling mudah ditawarkan jawaban instan. Oleh siapa pun yang datang dengan narasi sederhana: "Kamu miskin karena sistem tidak adil" dan "Identitasmu ada di sini, bersama kami". 

Baca juga: VIDEO - Hari Kedua Pencarian Pendaki Asal Aceh Utara yang Hilang di Gunung Seulawah Agam

Baca juga: Trump Ngamuk ke Netanyahu karena Merusak Negosiasi: Gila! Kalau Bukan Saya, Anda Sudah Dipenjara

Ini bukan tuduhan bahwa pemuda Aceh menuju radikalisasi. Mayoritas dari mereka tangguh, produktif, dan penuh potensi. Tapi kerentanan struktural yang nyata tidak boleh diabaikan sampai ia meledak. 

Rp 104 triliun Dana Otsus sudah mengalir ke Aceh sejak 2008. Fajar dan kawan-kawannya tidak butuh tahu angka itu, mereka hanya butuh tahu: ke mana perginya? 

Jika dana sebesar itu tidak mampu menciptakan satu lapangan kerja tetap bagi seorang master teknik lulusan beasiswa daerah sendiri, maka ada yang salah bukan pada orangnya, melainkan pada sistemnya. 

Reformasi Dana Otsus bukan soal audit dan laporan, tetapi soal memilih: apakah uang itu untuk membangun monumen perdamaian, atau untuk membangun masa depan orang-orang yang hidup di dalamnya. 

Aceh berhasil mengakhiri perang. Tapi perang berikutnya melawan kemiskinan, pengangguran, dan keputusasaan anak muda belum ada yang mau mengumumkan kemenangannya.(*)

* Artikel ini berbasis studi literatur jurnal perdamaian, data BPS Aceh, Kemenko Polkam, serta FEB USK (2025).

*) PENULIS adalah praktisi komunikasi sekaligus mahasiswa studi perdamaian dan pembangunan regional di International Peace and Development Studies UIN-Ar Raniry.

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved