Kamis, 4 Juni 2026

Pojok Humam Hamid

Menjelang 20 Bulan Prabowo Berkuasa: Apa Beda Sumitronomics dan Prabowonomics?

Menjelang dua puluh bulan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, garis besar paradigma ekonomi pemerintah mulai terlihat. 

Tayang:
Editor: Subur Dani
for serambinews
Prof. Dr. Ahmad Human Hamid, MA, Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala Banda Aceh 

Oleh: Ahmad Humam Hamid*)

Ada ironi yang menarik dalam perjalanan ekonomi Indonesia. Selama puluhan tahun, para ekonom Indonesia berdebat mengenai pasar versus negara. Sebagian percaya liberalisasi ekonomi akan membawa kemakmuran. 

Sebagian lainnya berpendapat bahwa negara harus hadir lebih kuat dalam mengarahkan pembangunan. Namun ketika dunia memasuki abad ke-21, perdebatan itu justru mengalami pembalikan yang tidak terduga.

Negara-negara yang dahulu berkhotbah tentang pasar bebas kini semakin proteksionis. Amerika Serikat melindungi industrinya. 

Baca juga: Qurban Sosial: Mampukah Aceh Melepaskan Hambatan Kemajuan

Eropa berbicara tentang kedaulatan ekonomi. Tiongkok memperkuat kendali negara atas sektor-sektor strategis. Bahkan globalisasi yang pernah dianggap sebagai takdir sejarah kini tampak semakin rapuh.

Fenomena ini membuat gagasan tentang peran negara kembali memperoleh relevansi.

Apa yang dahulu sering dianggap kuno atau bertentangan dengan arus globalisasi kini justru menjadi bagian dari strategi banyak negara besar dalam menghadapi persaingan ekonomi dan geopolitik yang semakin kompleks.

Sumitronomics dan Prabowonomics

Dalam konteks inilah perbandingan antara Sumitronomics dan Prabowonomics menjadi penting. Keduanya sama-sama menempatkan negara sebagai aktor utama pembangunan, tetapi berangkat dari fokus yang berbeda. 

Sumitronomics bertumpu pada industrialisasi sebagai jalan transformasi ekonomi nasional, sedangkan Prabowonomics menempatkan kedaulatan nasional-pangan, energi, sumber daya strategis, dan ketahanan negara-sebagai kerangka utama kebijakan ekonomi.

Menjelang dua puluh bulan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, garis besar paradigma ekonomi pemerintah mulai terlihat. 

Baca juga: Membaca Indonesia Hari Ini: Chairul Tanjung, Purbaya, dan Presiden Prabowo

Fokus pada ketahanan pangan, hilirisasi industri, kemandirian energi, pembangunan manusia, dan penguatan kapasitas nasional bukanlah kebijakan yang lahir secara kebetulan. 

Seluruhnya berangkat dari satu keyakinan dasar: negara tidak boleh menyerahkan masa depannya kepada pasar semata.

Pertanyaannya, apakah Prabowonomics benar-benar sesuatu yang baru?

Ataukah ia hanya Sumitronomics yang lahir kembali dalam pakaian abad ke-21?

Untuk memahami Prabowonomics, sulit menghindari sosok Sumitro Djojohadikusumo.

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved