Pojok Humam Hamid
Menjelang 20 Bulan Prabowo Berkuasa: Apa Beda Sumitronomics dan Prabowonomics?
Menjelang dua puluh bulan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, garis besar paradigma ekonomi pemerintah mulai terlihat.
Sebagai salah satu arsitek ekonomi Indonesia pascakemerdekaan, Sumitro memahami sesuatu yang sering dilupakan generasi sekarang: tidak ada negara yang menjadi maju hanya karena pasar bekerja dengan sendirinya.
Baca juga: Saya, Jenderal Ryamizard dan Kisah Pj Wali Kota Banda Aceh Syarifuddin Latief
Inggris membangun industrinya dengan proteksi. Amerika Serikat melakukan hal yang sama. Jepang dan Korea Selatan menjadikan negara sebagai mesin utama pembangunan sebelum akhirnya menjadi kekuatan ekonomi dunia.
Karena itu Sumitro menempatkan industrialisasi sebagai jantung strategi nasional.
Bukan sekadar pertumbuhan, bukan sekadar investasi. Tetapi transformasi struktural.
Negara harus membangun industri, menciptakan kelas pengusaha nasional, mengembangkan sumber daya manusia, dan mempersiapkan Indonesia memasuki dunia modern.
Baca juga: Bupati Aceh Jaya Terima Kunjungan KIA, Bahas Penguatan Keterbukaan Informasi Publik
Dalam bahasa yang sederhana, Sumitro percaya bahwa bangsa yang hanya menjual bahan mentah akan selamanya menjadi penonton dalam sejarah ekonomi dunia.
Pandangan itu terdengar sangat relevan bahkan hari ini.
Pangan, Energi, dan Mineral sebagai Kekuatan
Namun Prabowo bergerak lebih jauh. Jika Sumitro berbicara tentang industrialisasi, Prabowo berbicara tentang kedaulatan. Ini bukan perbedaan semantik. Ini adalah perbedaan cara melihat dunia.
Sumitro hidup pada masa ketika pembangunan dipahami sebagai proses modernisasi ekonomi.
Prabowo memimpin pada masa ketika dunia semakin dipenuhi ketidakpastian geopolitik, perang dagang, krisis pangan, konflik energi, dan gangguan rantai pasok global.
Baca juga: Kejagung Jemput Paksa Dadan Hindayana, Sebelum Tetapkan Tersangka Kasus Dugaan Korupsi Program MBG
Karena itu pangan tidak lagi dipandang sebagai sekadar urusan pertanian. Pangan adalah keamanan nasional. Energi bukan sekadar komoditas, energi adalah kedaulatan.
Mineral bukan sekadar sumber ekspor. Mineral adalah instrumen kekuatan ekonomi.
Di sinilah letak kekuatan utama Prabowonomics. Ia membaca dunia sebagaimana adanya, bukan sebagaimana yang diajarkan dalam buku teks ekonomi tiga dekade lalu.
Ketika banyak negara kembali berbicara tentang ketahanan nasional, Indonesia justru akan terlihat aneh jika tetap bertahan pada dogma pasar bebas yang semakin ditinggalkan para pengkhotbahnya sendiri.
Kekuatan terbesar Prabowonomics terletak pada keberaniannya mengembalikan negara ke pusat pembangunan.
Baca juga: VIDEO Bahrain dan Kuwait Siaga Penuh! Pangkalan Jadi Target Rudal & Drone Iran
| Revisi Narasi Sejarah Aceh dari Hanya Perang dan Ulama: Saudagar Habib Bugak |
|
|---|
| Qurban Sosial: Mampukah Aceh Melepaskan Hambatan Kemajuan |
|
|---|
| Membaca Indonesia Hari Ini: Chairul Tanjung, Purbaya, dan Presiden Prabowo |
|
|---|
| Dolar Naik: Neraca Untung-Rugi Masyarakat Kawasan Pedesaan Kita |
|
|---|
| Prabowo dan The Economist: Indonesia dan Siklus Optimisme - Kewaspadaan Versi Media Internasional |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Prof-Humam-Hamid-20260411.jpg)