Kamis, 4 Juni 2026

Pojok Humam Hamid

Menjelang 20 Bulan Prabowo Berkuasa: Apa Beda Sumitronomics dan Prabowonomics?

Menjelang dua puluh bulan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, garis besar paradigma ekonomi pemerintah mulai terlihat. 

Tayang:
Editor: Subur Dani
for serambinews
Prof. Dr. Ahmad Human Hamid, MA, Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala Banda Aceh 

Selama bertahun-tahun, pembangunan sering direduksi menjadi statistik.

Pertumbuhan ekonomi, inflasi, investasi, defisit. Semua penting. Tetapi negara tidak dibangun hanya dengan angka.

Negara dibangun melalui kemampuan kolektif untuk bertahan, berproduksi, dan menciptakan masa depan.

Dari perspektif itu, penekanan pada pangan, energi, hilirisasi, dan pembangunan manusia memiliki logika yang kuat.

Program makan bergizi gratis misalnya, sering diperdebatkan hanya dari sudut biaya.

Padahal pertanyaan yang lebih besar adalah apakah Indonesia bersedia berinvestasi pada kualitas generasi yang akan menentukan nasib bangsa tiga puluh tahun mendatang.

Baca juga: Jaksa Tuntut Terdakwa Kasus Oplosan BBM Setahun Penjara dan Denda Rp 10 Juta

Negara-negara maju tidak lahir dari penghematan ekstrem terhadap manusia.

Mereka lahir dari investasi besar terhadap manusianya.

Prabowonomics juga memiliki kelebihan lain yang jarang dimiliki banyak pemerintahan demokratis: keberanian berpikir dalam horizon jangka panjang.

Ketahanan pangan, hilirisasi, dan pembangunan manusia bukanlah agenda yang hasilnya dapat dipanen dalam satu atau dua tahun. Semua memerlukan kesabaran politik dan konsistensi kebijakan.

Namun di sinilah muncul paradoks yang menarik.

Kabinet Prabowo sesungguhnya memiliki aura teknokrasi yang cukup kuat. Banyak posisi strategis ditempati oleh kalangan profesional, ekonom, birokrat senior, dan teknokrat berpengalaman.

Tetapi komunikasi pembangunan yang tampil ke publik justru lebih banyak menggunakan bahasa populisme.

Baca juga: Sawah Terdampak Banjir Sedang Dinormalisasi, Ini Harapan Kadistanbun Bireuen

Rakyat mendengar tentang makan bergizi gratis.

Rakyat mendengar tentang swasembada pangan.

Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved