Opini
Saat Para Mullah Hidup Sederhana
ADA ironi yang jarang dibicarakan ketika orang membayangkan Iran. Di kepala banyak pihak, Republik Islam itu identik dengan para mullah
Padahal sejarah menunjukkan, agama justru paling kuat ketika para pemimpinnya mampu menahan diri dari godaan simbolik kekuasaan dan harta. Dalam konteks itu, khumus dalam tradisi Syiah sesungguhnya memberi ironi menarik bagi kita. Di negeri produsen drone itu, para mullah memiliki justifikasi teologis yang jauh lebih besar untuk hidup mewah. Tetapi banyak di antara mereka memilih hidup “biasa-biasa saja” demi menjaga martabat moral agama.
Sementara di negeri ASWAJA seperti Indonesia, khususnya Aceh, kesederhanaan yang dulu menjadi identitas ulama perlahan berubah menjadi barang langka. Mungkin persoalannya bukan pada mazhab. Bukan pula pada sistem teologi. Masalah utamanya terletak pada apakah agama masih dipahami sebagai amanah moral atau sudah bergeser menjadi instrumen status sosial. Dan ketika agama terlalu dekat dengan kemewahan, yang pertama kali hilang biasanya bukan harta, melainkan kepercayaan umat.
Kepercayaan adalah “nyawa” lembaga umat. Ia tidak dibangun dalam semalam dengan tumpukan regulasi, audit, atau slogan-slogan religius, tetapi ditegakkan melalui keteladanan moral yang tampak dalam keseharian para pengelolanya. Kepercayaan juga merupakan barang yang sangat rapuh. Sekali patah, susah meluruskannya kembali.
Tepatlah apa yang dikatakan oleh Abu Hamid al-Ghazali, “Kepercayaan itu seperti nyawa, sekali pergi, selamanya tak akan kembali.” Ketika publik mulai curiga bahwa agama terlalu dekat dengan kemewahan, maka yang runtuh bukan hanya citra lembaga, melainkan juga wibawa moral syariat itu sendiri. Karena itu, sudah waktunya ada keberanian melakukan koreksi etik secara terbuka. Wallahu a’lam bil haqiqah wa shawab.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/laporan-mizaj-iskandar-dari-saudi-arabia.jpg)