KUPI BEUNGOH
Setelah Pergub Dicabut, Apa yang Perlu Dituntaskan?
Mahasiswa menghentikan aksi demonstrasi. Kritik mulai berkurang. Media pun satu per satu beralih kepada isu-isu lain yang terus datang silih berganti
Oleh: Muhammad Yusuf Bombang/Apa Kaoy*)
Ketika Gubernur Aceh, Muzakir Manaf, mengumumkan pencabutan Pergub Nomor 2 Tahun 2026 tentang Jaminan Kesehatan Aceh (JKA), banyak masyarakat merasa lega.
Polemik yang sebelumnya memicu kegelisahan publik perlahan mereda.
Mahasiswa menghentikan aksi demonstrasi. Kritik mulai berkurang. Media pun satu per satu beralih kepada isu-isu lain yang terus datang silih berganti.
Seolah-olah persoalan itu telah selesai. Namun hingga hari ini, di warung-warung kopi, baik di kampung maupun di kota, saya masih mendengar orang-orang membicarakannya.
Baca juga: Tambang, Leuser, Perubahan Iklim: Undangan Tragedi Masa Depan Aceh
Bukan dalam forum resmi. Bukan pula dalam diskusi yang serius.
Obrolan itu muncul di sela-sela pembahasan berbagai persoalan lain.
Ada yang sedang membahas harga kebutuhan pokok yang terus naik. Ada yang berbicara tentang jalan rusak. Ada yang menyinggung soal banjir yang dampaknya masih belum sepenuhnya pulih. Ada pula yang membicarakan sulitnya mencari pekerjaan.
Di tengah obrolan yang beragam itu, tiba-tiba seseorang melempar pertanyaan dengan nada bercanda.
"Pergub nyan, awak nyan peugah, ka geucabot. Ngon peu geucabot?" (Pergub itu katanya sudah dicabut. Dengan apa dicabut?)
Yang lain tertawa, seakan tak percaya. Ada pula yang hanya mengangkat bahu. Dan ada yang menjawab sekenanya.
Baca juga: Saman Getarkan Busan: Ketika Warisan Gayo Menjadi Bahasa Dunia
“Meunyo labang geupeh ngon palee, geucabot teuntee ngon palee teuma. Meunyo Pergub peu meumada geucabot ngon haba?” (Kalau paku dipatingkan dengan palu, dicabut pun harus dengan palu juga. Lalu kalau Pergub, apakah cukup dicabut hanya dengan ucapan?)
Tidak lama kemudian, suasana warung kopi kembali ramai oleh topik yang lain.
Namun saya justru menangkap sesuatu dari canda yang terdengar sederhana itu. Kadang-kadang, pertanyaan yang paling serius justru lahir dari sebuah canda yang belum memperoleh jawaban.
Persoalan semacam JKA adalah persoalan yang sangat sensitif bagi rakyat. Ia menyangkut rasa aman masyarakat ketika berhadapan dengan urusan kesehatan.
Baca juga: Gempa Guncang Bener Meriah, Kaca Masjid Simpang Balek Berhamburan
Karena itu, kegelisahan yang pernah muncul tidak mudah begitu saja hilang dari ingatan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/YUSUF-BOMBANG-APA-KAOY-2026.jpg)