Jumat, 12 Juni 2026

Kupi Beungoh

Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Sampah, dan Pelajaran yang Terlupakan dari Banda Aceh 

Kepala BAPPEDA Aceh mendorong lulusan FISIP UIN Ar-Raniry menjadi agen pembangunan melalui orasi ilmiah.

Tayang:
Editor: Amirullah
for serambinews
Yusrida Arnita, Praktisi Lingkungan, Founder Komunitas Sahabat Hijau. Kandidat Doktor PWK ITB. 

Jika pendekatan konvensional berfokus pada bagaimana mengangkut sampah, maka WCP berfokus pada bagaimana mengurangi sampah sejak dari sumbernya.

Sampah dipilah dari rumah tangga, dikumpulkan pada titik pengumpulan tertentu, kemudian dikelola sesuai jenisnya sebelum masuk ke sistem pengangkutan kota.

Sekilas konsep ini terlihat sederhana. Namun sesungguhnya kekuatan WCP tidak terletak pada teknologi yang digunakan, melainkan pada kemampuannya membangun kebiasaan sosial baru.

WCP mengubah masyarakat dari sekadar penghasil sampah menjadi pengelola sampah. Ia membangun disiplin kolektif, memperkuat rasa tanggung jawab bersama, dan menempatkan warga sebagai subjek utama pengelolaan lingkungan.

Perbedaan mendasar antara pendekatan konvensional dan WCP bukan sekadar persoalan metode. Perbedaannya terletak pada paradigma. 

Pendekatan konvensional bertumpu pada investasi fisik, sementara WCP bertumpu pada investasi sosial. Pendekatan konvensional mengandalkan armada, fasilitas, dan anggaran.

WCP mengandalkan keteladanan, kepercayaan, gotong royong, dan partisipasi warga. Yang satu bekerja di hilir, yang lain bekerja di hulu.

Bayangkan seorang ibu di Gampong Lamdingin sebelum berangkat ke pasar, menyisihkan beberapa menit untuk memilah sampah rumahnya ke dalam kantong-kantong berbeda. Tindakan itu tampak sepele.

Namun ketika diulang oleh ratusan rumah tangga setiap minggu, ia menjelma menjadi sebuah sistem. Tiga tahun berjalan, program ini tetap hidup bukan karena teknologi canggih, melainkan karena kekuatan komunitas.

Ibu-ibu gampong menjadi penggeraknya: membangun kebiasaan, menjaga konsistensi, dan menumbuhkan rasa memiliki terhadap sistem yang mereka jalankan sendiri.

Dalam khazanah ilmu sosial, persoalan semacam ini sesungguhnya bukan hal baru. Peraih Nobel Ekonomi tahun 2009, Elinor Ostrom, melalui kajiannya tentang pengelolaan sumber daya bersama (common-pool resources), menunjukkan bahwa keberlanjutan suatu sistem tidak selalu ditentukan oleh kontrol negara atau mekanisme pasar.

Justru dalam banyak kasus, sumber daya bersama dapat dikelola secara lebih efektif ketika komunitas lokal memiliki kesempatan untuk menyusun, menjalankan, dan mengawasi aturan mereka sendiri. 

Ostrom menunjukkan bahwa kepercayaan, norma sosial, rasa memiliki, dan tanggung jawab kolektif sering kali lebih menentukan keberhasilan dibandingkan instrumen formal semata.

Tentu membangun partisipasi masyarakat bukan pekerjaan mudah. Tantangan terbesar bukanlah memulai program, melainkan mempertahankannya dalam jangka panjang.

Pengalaman menunjukkan bahwa antusiasme masyarakat sering kali menurun ketika edukasi melemah, pendampingan berkurang, atau manfaat program tidak lagi dirasakan secara nyata. 

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved