Kupi Beungoh
Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Sampah, dan Pelajaran yang Terlupakan dari Banda Aceh
Kepala BAPPEDA Aceh mendorong lulusan FISIP UIN Ar-Raniry menjadi agen pembangunan melalui orasi ilmiah.
Persoalan tersebut juga dialami sejumlah kelompok WCP di Banda Aceh. Namun menariknya, Komunitas Sahabat Hijau yang mendampingi kelompok WCP di Gampong Peulanggahan, Lamdingin, dan Kopelma Darussalam tidak memilih pendekatan yang bersifat represif atau administratif.
Mereka justru mengembangkan pendekatan yang lebih manusiawi melalui pemberian reward berupa gardening rumah tangga dan sembako sehat bagi anggota yang aktif dan konsisten melakukan pemilahan sampah.
Pertanyaannya kemudian: apa yang sesungguhnya membuat warga bertahan? Survei terhadap 30 peserta WCP secara acak di kedua gampong yaitu Lamdingin dan Peulanggahan tersebut yang hampir seluruhnya ibu rumah tangga memberi gambaran yang konsisten.
Lebih dari sembilan dari sepuluh responden menyatakan setuju atau sangat setuju bahwa insentif yang mereka terima sepadan dengan usaha memilah sampah, bahkan keberadaan komunitas Sahabat Hijau membuat mereka tetap termotivasi.
Menariknya, yang paling membuat warga bertahan bukan semata insentif, melainkan rasa menjadi bagian dari komunitas yang saling menjaga.
Bagi sebagian orang, insentif seperti ini mungkin terlihat sederhana. Nilai ekonominya tidak besar. Namun sesungguhnya yang sedang dibangun bukanlah ketergantungan terhadap hadiah, melainkan reward terhadap perilaku baik. Reward tersebut menjadi simbol bahwa kontribusi masyarakat terhadap lingkungan memiliki nilai sosial yang layak diapresiasi.
Di sinilah letak pelajaran penting yang sering luput dari kebijakan pengelolaan sampah. Manusia tidak selalu berubah karena aturan, dan tidak selalu bertahan karena insentif ekonomi yang besar.
Dalam banyak kasus, manusia berubah karena keteladanan, pengakuan sosial, rasa dihargai, dan keyakinan bahwa tindakan mereka memiliki makna bagi komunitas. Karena itu, keberhasilan pengelolaan sampah pada akhirnya bukan hanya persoalan teknis, melainkan persoalan membangun budaya.
Jika dicermati lebih jauh, pendekatan seperti WCP sesungguhnya mencerminkan prinsip ekonomi restoratif. Sampah tidak lagi dipandang sebagai residu yang harus dibuang, melainkan sebagai pintu masuk untuk memulihkan hubungan antara manusia, lingkungan, dan kesejahteraan sosial.
Ketika masyarakat memilah sampah, lingkungan menjadi lebih bersih. Ketika warga memperoleh manfaat melalui gardening rumah tangga, ketahanan pangan keluarga meningkat. Ketika komunitas tumbuh dan saling mendukung, modal sosial masyarakat ikut menguat.
Artinya, manfaat yang dihasilkan tidak hanya berupa pengurangan sampah, tetapi juga pemulihan kualitas lingkungan, penguatan hubungan sosial, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Inilah esensi ekonomi restoratif: memulihkan lebih banyak daripada yang kita ambil dari lingkungan.
Karena itu, jika target pengurangan sampah nasional dan berbagai indikator keberhasilan lingkungan hidup ingin dicapai secara berkelanjutan, mungkin sudah saatnya ukuran keberhasilan diperluas.
Keberhasilan tidak cukup hanya diukur dari berapa ton sampah yang berhasil diangkut atau berapa banyak fasilitas yang dibangun.
Ukuran yang lebih penting adalah berapa banyak warga yang berhasil mengubah perilakunya, berapa banyak komunitas yang mampu mempertahankan partisipasinya, dan berapa banyak keluarga yang menjadikan pengelolaan sampah sebagai bagian dari budaya hidup sehari-hari.
Jika target JAKSTRANAS ingin benar-benar tercapai, intervensi harus bergeser ke hulu. Tanpa itu, target hanya akan menjadi angka di atas kertas.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Yusrida-Arnita-Praktisi-Lingkungan-Founder-Komunitas-Sahabat-Hijau.jpg)