Kupi Beungoh
Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Sampah, dan Pelajaran yang Terlupakan dari Banda Aceh
Kepala BAPPEDA Aceh mendorong lulusan FISIP UIN Ar-Raniry menjadi agen pembangunan melalui orasi ilmiah.
Momentum Hari Lingkungan Hidup Sedunia seharusnya mengingatkan kita bahwa persoalan sampah bukan semata persoalan teknis. Ia adalah persoalan budaya, perilaku, dan cara pandang terhadap lingkungan.
Truk dapat mengangkut sampah, mesin dapat mengolah sampah, dan tempat pemrosesan akhir dapat menampung sampah. Namun tidak satu pun dari mereka mampu mengubah kebiasaan manusia.
Perubahan yang sesungguhnya terjadi ketika masyarakat mulai melihat bahwa setiap sampah yang dihasilkan merupakan bagian dari tanggung jawab bersama.
Pengalaman Banda Aceh menunjukkan suatu model yang bisa diangkat sebagai praktik seluruh nasional bahwa solusi tidak selalu harus dimulai dari teknologi yang rumit atau investasi yang mahal.
Terkadang, perubahan terbesar justru lahir dari kebiasaan-kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten oleh warga. Mungkin inilah pelajaran penting yang perlu dimaknai pada Hari Lingkungan Hidup Sedunia: keberlanjutan lingkungan tidak ditentukan oleh seberapa banyak sampah yang berhasil kita bersihkan, melainkan oleh seberapa sedikit sampah yang kita hasilkan sejak awal.
Pertanyaannya sederhana: apakah kita siap mengubah kebiasaan lama demi masa depan yang lebih bersih dan berkelanjutan?
Penulis adalah Praktisi Lingkungan, Founder Komunitas Sahabat Hijau. Kandidat Doktor PWK ITB.
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Yusrida-Arnita-Praktisi-Lingkungan-Founder-Komunitas-Sahabat-Hijau.jpg)