Opini
Seberapa Penting Gas Blok Andaman Diolah di Aceh
KETIKA kita membaca tajuk berita Harian Serambi Indonesia Edisi Minggu, 7 Juni 2026 “Gas Andaman Harus Jadi Mesin Industrialisasi Aceh"
Mahidin, Guru Besar Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik USK
KETIKA kita membaca tajuk berita Harian Serambi Indonesia Edisi Minggu, 7 Juni 2026 “Gas Andaman Harus Jadi Mesin Industrialisasi Aceh” hati kita menjadi senang. Akan tetapi, ketika kita membaca dengan lengkap dan cermat, ternyata ada pernyataan yang perlu kita ulas kembali. Dalam tulisan ini saya ingin memberi perhatian khusus pada poin lokasi pengolahan gas alam yang menurut berita ini tidak perlu diperdebatkan, tidak dianggap penting.Bicara sisi ekonomi pada industri minyak dan gas justru aktivitas pengolahan adalah poin pertama dan utama yang memberi dampak signifikan, baru kemudian bicara dampak ekonomi dari aktivitas industri turunan.
Perlu diingat, untuk menghidupkan industri turunan butuh investasi atau investor dan perlu waktu untuk mendapatkan dan meyakinkan investor. Peluang pertama yang nyata ada di depan mata dan yang harus diraih oleh Pemerintah Aceh adalah lokasi pengolahan gas. Peluang ini didukung oleh aset KEK yang sangat memadai.
Sisi ekonomi lain yang disorot dan digarisbawahi dalam berita tersebut adalah pasokan gas untuk industri turunan, dengan menafikan lokasi pengolahan gas. Perlu dipahami bahwa aktivitas tersebut hanyalah bagian dari skenario business to business, yang akan berjalan dengan sendirinya karena gas yang diproduksi tentu saja butuh kepada pembeli. Gas akan dijual kepada siapa pun yang beli jika harga sesuai.
Sebagai informasi untuk diketahui publik bahwa cadangan gas yang ditemukan di Lapangan Tangkulo sebesar ±2 TCF dan Lapangan Layaran ±6 TCF. Kedua lapangan tersebut berada di Wilayah Kerja South Andaman. Tentang pilihan teknologi pengolahan, yang pada ujung memberi konsekuensi terhadap lokasi, sudah dibahas oleh Prof. Izarul Machdar di Penanews.co.id, edisi 3 Juni 2026. Dalam tulisan tersebut dibahas perbandingan teknologi Floating Production Storage and Offloading (FPSO) dengan Onshore Processing Facility (OPF) secara ringkas. Pembahasan diperkaya dengan fakta bahwa Aceh punya aset peninggalan yang harus menjadi pertimbangan dalam penentuan pilihan teknologi.
Kembali ke pernyataan bahwa lokasi tidak penting, saya akan menjelaskan lebih lanjut tentang pilihan skema atau teknologi pengolahan. Kalau skema yang dipilih FPSO, dan di KEK Arun hanya dipasang METERING sehingga gas langsung masuk ke pipa Arun–Belawan (Arbel), maka manfaat sisi ekonomi untuk Aceh sangat terbatas. KEK Arun hanya menjadi titik lewat. Tidak ada aktivitas pengolahan besar di darat, tidak ada pusat operasi industri baru, tidak ada ekosistem vendor lokal yang tumbuh signifikan, dan tidak ada lompatan besar bagi tenaga kerja Aceh. Jelaslah bahwa lokasi pengolahan menentukan multiplier effect. FPSO berisiko mengalirkan sejumlah besar nilai tambah keluar dari Aceh.
Bahkan risikonya lebih serius. PT Perta Arun Gas (PAG) yang selama ini hidup dari bisnis regasifikasi LNG dalam rangka memasok kebutuhan gas PT PIM dan PLN, terancam berhenti dan harus merumahkan karyawannya ratusan orang. Kalau pada tahun 2029 gas Andaman mulai onstream dan langsung menggantikan pasokan dari PAG, maka bisnis regasifikasi PAG tutup. Disamping PHK besar-besaran, juga berdampak pada hilangnya rantai kerja lokal, dan melemahnya fungsi strategis KEK Arun.
Oleh karena itu, Pemerintah Aceh berusaha keras memperjuangkan skema OPF di kawasan KEK Arun untuk Gas Adaman. Mengapa OPF penting? Karena OPF membuat gas Andaman tidak sekadar “lewat” di Aceh. Dengan OPF akan muncul aktivitas nyata: pembangunan/perbaikan fasilitas, operasi pemrosesan gas, perawatan, logistik, jasa teknik, konstruksi, keamanan, catering, transportasi, pergudangan, pelabuhan, pelatihan tenaga kerja, dan rantai pasok lokal. Skema OPF di KEK Arun mengubah proyek dari sekadar produksi gas menjadi platform pembangunan wilayah.
Opini di AcehNews.id, 8 Juni yang ditulis Prof. Muhammad Irham menegaskan: “Karena itu, pilihan yang lebih rasional adalah memanfaatkan fasilitas yang telah tersedia di kawasan Arun, Aceh. Kawasan Arun memiliki sejarah panjang sebagai pusat industri LNG Indonesia. Infrastruktur dasar, pelabuhan, kawasan industri, jaringan energi, serta sumber daya manusia yang berpengalaman sudah tersedia. Memang diperlukan revitalisasi dan modernisasi fasilitas, tetapi biaya tersebut secara umum jauh lebih rendah dibandingkan membangun jaringan pipa baru lintas pulau”.
Darimana ekonomi Aceh akan tumbuh jika pilihan jatuh pada OPF? Berikut beberapa aktivitas ekonomi yang segera mengikutinya. Pertama, hidupnya KEK Arun. KEK Arun tidak hanya menjadi lokasi metering, tetapi menjadi pusat pengolahan gas, pusat industri petrokimia, pusat energi, dan basis hilirisasi migas Aceh.
Kedua, terserapnya tenaga kerja lokal. Bukan hanya tenaga kerja konstruksi sementara, tetapi juga operator, teknisi, engineer, HSE, maintenance, logistik, administrasi, dan tenaga pendukung industri. Ketiga, naik kelasnya vendor lokal. Perusahaan Aceh bisa masuk dalam rantai pasok: civil works, mechanical-electrical works, sektor transportasi, marine support, workshop, maintenance, teknologi informasi, manpower supply, dan jasa pendukung operasional unit pengolahan gas lainnya.
Keempat, tumbuhnya UMKM. Ketika ada pusat operasi besar di darat, maka ekonomi sekitar akan ikut bergerak, seperti bisnis makanan, penginapan, transportasi, perbengkelan, jasa kebersihan, peralatan kerja, supplier lokal, hingga ekonomi masyarakat kecil sekitar KEK Arun. Kelima, terwujudnya hilirisasi. Gas tidak hanya dijual sebagai komoditas mentah, tetapi menjadi bahan baku pupuk, metanol, amonia, petrokimia, energi listrik, industri kaca, keramik, cold storage, dan industri turunan lain. Nilai tambah inilah yang harus tinggal di Aceh dan dirasakan oleh masyarakat Aceh.
Bukan sekadar pipa lewat
Perjuangan Pemerintah Aceh bukan menolak investasi Mubadala. Justru sebaliknya, Aceh ingin proyek ini sukses, tetapi suksesnya harus juga dirasakan oleh rakyat Aceh. Gas yang berasal dari kawasan Aceh harus menjadi fondasi industrialisasi Aceh, bukan hanya menjadi komoditas yang lewat menuju pasar luar.
Karena itu posisi Pemerintah Aceh jelas, Gas Andaman harus menjadi energi untuk menghidupkan KEK Arun, memperkuat PAG, membuka lapangan kerja rakyat Aceh, menumbuhkan vendor lokal, menggerakkan UMKM, dan membangun hilirisasi migas di Aceh. Bukan sekadar metering. Bukan sekadar pipa lewat. Bukan sekadar mengganti pasokan gas PIM dan PLN.
Akan tetapi menjadi mesin ekonomi baru bagi Aceh untuk 30–40 tahun ke depan. Dan terakhir, jika industri turunan bisa wujud maka geliat pertumbuhan ekonomi Aceh akan lebih signifikan lagi. Pemerintah Aceh telah melakukan kajian teknis dan ekonomis mendalam sebagai pembanding terhadap kajian Mubadala Energy dengan mengoreksi nilai beberapa kriteria yang tidak rasional.
Untuk diketahui Bersama, fungsi objektif Pemerintah Aceh lebih luas dibandingkan fungsi objektif operator. Pemerintah Aceh memandang bahwa pilihan konsep pengembangan tidak dapat hanya didasarkan pada optimasi teknis-komersial operator. Karena gas Andaman berada di wilayah Aceh dan memiliki dampak strategis terhadap KEK Arun, pasokan gas domestik, hilirisasi, dan pembangunan ekonomi Aceh, maka konsep pengembangan harus mengoptimalkan nilai total bagi Negara, Aceh, operator, dan masyarakat.
Sehubungan dengan sudah disetujuinya PoD (Plan of Development) oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, perjuangan berikutnya adalah perjuangan politis. Perlu sinergitas antara Pemerintah, kampus dan tokoh masyarakat Aceh dalam meyakinkan Pemerintah Pusat bahwa Aceh harus dibangun, terlebih lagi dengan melihat kondisi Aceh setelah dilanda bencana banjir besar November 2025.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Mahidin.jpg)