Jurnalisme Warga
Jalan Singkil–Kuala Baru yang Belum Benar-Benar Tembus
Alhamdulillah, patut disyukuri, akses jalan Singkil–Kayu Menang–Kuala Baru akhirnya tembus sejak beberapa tahun terakhir.
Dari sungai ke jalan darat
Sebelum akses jalan darat terbuka, masyarakat pesisir Aceh Singkil bertahun-tahun
mengandalkan transportasi sungai dan laut menggunakan perahu robin maupun boat.
Moda transportasi tradisional tersebut bukan sekadar alat angkut, melainkan bagian dari
sejarah dan budaya masyarakat pesisir. Sungai Singkil yang
terpanjang di Aceh pernah menjadi urat nadi kehidupan masyarakat.
Kini, jumlah perahu robin memang semakin berkurang. Gelombang kecil yang dahulu akrab membelah aliran sungai mulai jarang terlihat. Sebagian besar warga telah beralih ke transportasi darat.
Namun, perpindahan itu belum sepenuhnya menghadirkan rasa aman. Masih ada warga yang memilih menggunakan perahu robin. Alasannya sederhana: jalan darat belum nyaman dilalui.
Ada pula yang tetap memanfaatkan jalur sungai karena tidak memiliki kendaraan pribadi atau karena jalur air masih dianggap lebih praktis pada kondisi tertentu.
Pilihan masyarakat tersebut sesungguhnya mengandung pesan penting. Pembangunan
infrastruktur bukan sekadar membangun jalan, melainkan memastikan akses hidup masyarakat menjadi lebih mudah dan bermartabat.
Infrastruktur dan wajah ketimpangan
Apa yang terjadi di ruas Singkil–Kayu Menang–Kuala Baru sesungguhnya mencerminkan
persoalan klasik pembangunan di kawasan pesisir dan wilayah pinggiran Indonesia:
ketimpangan infrastruktur.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Sadri-Ondang-Jaya-OKE-BARUH.jpg)