Jurnalisme Warga
Jalan Singkil–Kuala Baru yang Belum Benar-Benar Tembus
Alhamdulillah, patut disyukuri, akses jalan Singkil–Kayu Menang–Kuala Baru akhirnya tembus sejak beberapa tahun terakhir.
SADRI ONDANG JAYA, S.Pd., warga Aceh Singkil, melaporkan dari Singkil
Alhamdulillah, patut disyukuri, akses jalan Singkil–Kayu Menang–Kuala Baru akhirnya tembus sejak beberapa tahun terakhir.
Kehadiran Jembatan Kilangan–Kayu Menang yang membentang sekitar 725 meter, salah satu jembatan terpanjang di Aceh, menjadi penanda penting terbukanya konektivitas wilayah pesisir barat-selatan Aceh tersebut.
Jalan yang sebelumnya hanya menjadi impian kini telah dilalui sepeda motor, becak, mobil pribadi, hingga kendaraan pengangkut hasil bumi masyarakat.
Aktivitas ekonomi mulai tumbuh. Rumah-rumah bermunculan di sepanjang ruas jalan. Kebun-kebun baru dibuka. Kampung-kampung yang dahulu terasa terpencil perlahan mulai terhubung dengan pusat aktivitas masyarakat.
Namun, ada satu kenyataan yang tak bisa disembunyikan. Tembusnya sebuah jalan belum tentu berarti jalan itu telah layak pakai.
Masyarakat Singkil, Kayu Menang, dan Kuala Baru memahami betul perbedaan antara jalan yang sekadar dapat dilalui dengan jalan yang benar-benar aman, nyaman, dan berkelanjutan.
Ketika musim hujan tiba atau air pasang meninggi, sebagian ruas jalan masih sulit dilalui.
Lubang menganga, badan jalan yang rusak, talud yang rapuh, serta genangan air masih menjadi pemandangan sehari-hari.
Saya sendiri cukup sering melintasi jalur tersebut. Pada musim kemarau, terutama di ruas Kayu Menang menuju lokasi rakit penyeberangan, debu tebal beterbangan sepanjang jalan.
Permukaan jalan yang berpasir membuat kendaraan roda dua harus melaju dengan hati-hati.
Pakaian pengendara kerap berubah warna karena siraman debu. Sementara, kendaraan roda empat tidak dapat dipacu dengan kecepatan normal karena kondisi jalan yang tidak rata dan rawan membuat kendaraan kehilangan keseimbangan.
Belum lagi kondisi jembatan kembar di tengah perjalanan. Salah satunya terlihat sudah miring, sedangkan jembatan lainnya kerap menyulitkan kendaraan karena perbedaan elevasi antara badan jalan dan lantai jembatan.
Tidak sedikit pengendara yang harus memperlambat laju kendaraan secara ekstrem agar
bagian bawah mobil tidak terbentur. Padahal, jalan ini seharusnya menjadi penghubung harapan. Sayangnya, hingga kini perjalanan dari Singkil menuju Kuala Baru masih menyisakan kecemasan dan ketidaknyamanan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Sadri-Ondang-Jaya-OKE-BARUH.jpg)