KUPI BEUNGOH
Interprofessional Education: Nyata atau Hanya Teori Semata?
Mereka diajarkan pentingnya kolaborasi, komunikasi, dan saling menghargai antarprofesi.
Oleh: Ira Zulfia*)
Di tengah berbagai upaya meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan, istilah Interprofessional Education (IPE) semakin sering terdengar di lingkungan pendidikan tenaga kesehatan.
Konsep ini menawarkan sebuah gagasan yang sederhana namun penting: mahasiswa dari berbagai profesi kesehatan belajar bersama agar kelak mampu bekerja sama dalam memberikan pelayanan kepada pasien.
Secara teori, konsep ini terdengar sangat masuk akal.
Baca juga: VIDEO Artis Zaskia Adya Mecca Terjun ke Lokasi Demo, Sediakan Makan dan Minuman Gratis
Namun, ketika dihadapkan pada realitas yang ada, muncul pertanyaan yang menarik untuk direnungkan: apakah IPE benar-benar telah menjadi bagian dari budaya pendidikan dan pelayanan kesehatan, atau hanya menjadi konsep ideal yang lebih sering dibahas daripada diterapkan?
Pertanyaan ini bukan muncul tanpa alasan. Banyak mahasiswa kesehatan mengenal IPE melalui perkuliahan, seminar, atau kegiatan akademik tertentu.
Mereka diajarkan pentingnya kolaborasi, komunikasi, dan saling menghargai antarprofesi.
Akan tetapi, ketika memasuki lahan praktik, realitas yang mereka temui terkadang berbeda dengan apa yang dipelajari di kelas.
Masih ditemukan adanya batas yang cukup jelas antara profesi satu dengan profesi lainnya.
Masing-masing bekerja sesuai tugasnya, tetapi belum tentu benar-benar memahami sudut pandang profesi lain. Kondisi inilah yang membuat diskusi mengenai IPE tetap relevan hingga saat ini.
Baca juga: Belajar Menulis Hikayat dari Teks Latin, Aslinya Masih Terkunci
Pada dasarnya, pelayanan kesehatan memang tidak bisa dipisahkan dari kerja sama. Pasien tidak datang dengan kebutuhan yang dapat diselesaikan oleh satu profesi saja.
Seorang pasien stroke, misalnya, memerlukan penanganan medis, perawatan keperawatan, rehabilitasi, pengaturan nutrisi, hingga dukungan psikososial.
Semua layanan tersebut berasal dari profesi yang berbeda tetapi memiliki tujuan yang sama. Jika salah satu bagian tidak berjalan dengan baik, maka kualitas pelayanan yang diterima pasien juga dapat terpengaruh.
Sayangnya, kolaborasi yang ideal sering kali masih menjadi tantangan di lapangan. Tidak sedikit tenaga kesehatan yang lebih memahami tugas profesinya sendiri dibandingkan memahami kontribusi profesi lain.
Baca juga: Pentingnya Strategi Pembangunan yang Menempatkan Tata Kelola sebagai Prioritas Utama
Akibatnya, komunikasi menjadi kurang optimal dan koordinasi tidak selalu berjalan sebagaimana mestinya.
Dalam beberapa situasi, perbedaan pandangan antarprofesi bahkan dapat memengaruhi proses pengambilan keputusan terkait pelayanan pasien.
| Pentingnya Strategi Pembangunan yang Menempatkan Tata Kelola sebagai Prioritas Utama |
|
|---|
| Jangan Biarkan Emosi Mengalahkan Logika dalam Pengelolaan Gas Andaman |
|
|---|
| Dayah dan Tantangan Pembinaan Karakter di Era Digital |
|
|---|
| Mengapa Petani Aceh Tetap Miskin? |
|
|---|
| Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Sampah, dan Pelajaran yang Terlupakan dari Banda Aceh |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Ira-Zulfia.jpg)