Pojok Humam Hamid
Zaini Abdullah: Seorang Dokter yang Menyeberangi Sejarah
Selamat jalan, Abu Doto. Engkau telah menyeberangi konflik, menyeberangi pengasingan, menyeberangi perdamaian, dan menyeberangi sejarah.
Namun ketika seseorang meninggal dunia, yang layak direnungkan bukan hanya posisi-posisi yang pernah diambilnya dalam sejarah, melainkan arah perjalanan hidupnya secara keseluruhan.
Dan arah perjalanan hidup Zaini Abdullah adalah perjalanan menuju transformasi.
Tidak sedikit manusia yang mampu berjuang. Tidak sedikit pula yang mampu bertahan dalam keyakinan mereka selama puluhan tahun.
Tetapi jauh lebih sedikit mereka yang mampu mengenali kapan sebuah perjuangan harus menemukan bentuk baru agar tujuan yang lebih besar dapat dicapai.
Ketika kesempatan perdamaian hadir bagi Aceh, Zaini Abdullah menjadi bagian dari generasi yang memilih menapaki jalan itu.
Keputusan tersebut mungkin tampak sederhana bila dilihat dari kejauhan. Namun sejarah mengajarkan bahwa transisi dari konflik menuju perdamaian sering kali merupakan langkah yang paling sulit.
Baca juga: PAN Aceh Siap Rebut Kembali Masa Kejayaan, Dek Gam: “Abeh Ube Abeh”
Perdamaian menuntut keberanian yang berbeda.
Ia menuntut kesediaan untuk berbicara dengan lawan, menerima kompromi, dan mengakui bahwa masa depan tidak dapat dibangun hanya dengan kemenangan satu pihak atas pihak lain.
Dalam hal inilah perjalanan hidup Zaini Abdullah memiliki gema yang dapat ditemukan di berbagai tempat di dunia.
Di Irlandia Utara, Gerry Adams dan Martin McGuinness menjadi bagian dari generasi yang membantu membawa republikisme Irlandia keluar dari logika konfrontasi menuju logika politik demokratis.
Baca juga: VIDEO Menko Zulhas Pastikan Stok Pupuk Subsidi untuk Petani di Aceh Aman
Mereka memahami bahwa cita-cita yang diperjuangkan tidak akan menemukan masa depannya jika masyarakat terus hidup dalam lingkaran kekerasan yang tak berkesudahan.
Di Uruguay, José Mujica menempuh jalan yang berbeda tetapi memiliki makna yang serupa.
Dari seorang gerilyawan yang menghabiskan bertahun-tahun di penjara, ia kemudian muncul sebagai presiden yang dihormati karena kebijaksanaan, kesederhanaan, dan kemampuannya melihat politik sebagai sarana rekonsiliasi.
Zaini Abdullah tidak sama dengan mereka. Setiap bangsa memiliki sejarahnya sendiri, dan setiap tokoh dibentuk oleh konteks yang berbeda.
Baca juga: Dua Siswa SMA Inshafuddin Lolos ke Universitas Al Azhar Kairo
Namun seperti Adams, McGuinness, dan Mujica, ia memperlihatkan sebuah kemungkinan yang langka dalam kehidupan politik: bahwa manusia dapat berkembang melampaui babak awal kehidupannya tanpa harus mengingkari pengalaman yang membentuk dirinya.
pojok humam hamid
Humam Hamid
Prof Humam Hamid
zaini abdullah
Gubernur Aceh
meninggal
meninggal dunia
GAM
Meaningful
| Ketimpangan Wilayah dan Sumber Daya: Akankah UTU Menjadi Transformator Barsela? |
|
|---|
| Tambang, Leuser, Perubahan Iklim: Undangan Tragedi Masa Depan Aceh |
|
|---|
| Menjelang 20 Bulan Prabowo Berkuasa: Apa Beda Sumitronomics dan Prabowonomics? |
|
|---|
| Revisi Narasi Sejarah Aceh dari Hanya Perang dan Ulama: Saudagar Habib Bugak |
|
|---|
| Qurban Sosial: Mampukah Aceh Melepaskan Hambatan Kemajuan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Prof-Humam-dan-Abu-Doto.jpg)