Pojok Humam Hamid
Zaini Abdullah: Seorang Dokter yang Menyeberangi Sejarah
Selamat jalan, Abu Doto. Engkau telah menyeberangi konflik, menyeberangi pengasingan, menyeberangi perdamaian, dan menyeberangi sejarah.
Mereka dipuji oleh sebagian orang dan dikritik oleh sebagian yang lain. Tetapi waktu biasanya memiliki cara yang lebih tenang untuk menilai mereka.
Waktu tidak hanya bertanya di pihak mana seseorang berdiri. Waktu juga bertanya apakah kehidupannya membantu membuka kemungkinan-kemungkinan baru bagi masyarakatnya.
Baca juga: Api Memenuhi Seluruh Ruangan, Kesaksian Taruna Korban Ledakan KMP Aceh Hebat 2
Pertanyaan itulah yang mungkin layak diajukan ketika kita mengenang Zaini Abdullah.
Apakah ia sempurna? Tentu tidak. Tidak ada tokoh sejarah yang demikian.
Apakah semua orang akan sepakat dalam menilai warisannya? Mungkin tidak.
Akhir Perjalanan Abu Doto
Namun sulit untuk mengabaikan kenyataan bahwa ia menjadi bagian dari proses yang memungkinkan Aceh bergerak dari konflik menuju kehidupan politik yang lebih damai.
Dalam konteks itu, warisan terbesarnya mungkin bukan sebuah gedung, bukan sebuah program pemerintahan, dan bukan pula sebuah jabatan.
Baca juga: Sebelumnya Ambruk Diterjang Banjir, TNI Bangun Balai Pengajian Anak Yatim
Warisan terbesarnya adalah kesaksian bahwa perubahan itu mungkin.
Bahwa seseorang dapat menjalani perjalanan hidup yang panjang dan berliku tanpa kehilangan kemampuannya untuk beradaptasi dengan tuntutan zaman.
Bahwa sebuah masyarakat dapat menyimpan ingatan tentang masa lalu tanpa menjadikannya penjara bagi masa depan.
Bahwa perdamaian, betapapun rapuhnya, selalu lebih berharga daripada perang yang berkepanjangan.
Hari ini, Abu Doto telah menyelesaikan perjalanannya.
Baca juga: Trump Klaim Gembong Kartel Paling Dicari Tewas dalam Serangan Mematikan AS
Ia meninggalkan keluarga yang mencintainya, sahabat-sahabat seperjuangan yang mengenangnya, dan rakyat Aceh yang akan terus menafsirkan arti kehadirannya dalam sejarah daerah ini.
Aceh akan terus berubah. Generasi yang lahir setelah perdamaian mungkin tidak lagi mengalami langsung masa-masa yang membentuk kehidupan Zaini Abdullah.
Tetapi justru karena itulah kisahnya penting untuk diingat. Sebab kedamaian yang dinikmati hari ini bukanlah sesuatu yang muncul dengan sendirinya.
Ia lahir dari pilihan-pilihan sulit yang diambil oleh banyak orang dalam masa yang tidak mudah.
Ketika matahari terbenam pada hari wafatnya, Aceh tidak hanya kehilangan seorang mantan gubernur. Aceh kehilangan seorang saksi zaman.
Baca juga: SELEBRASI LOKAL - Momen Piala Dunia 2026, Wali Kota Respati Siap Bangkitkan Industri Sepak Bola Solo
Dan sebagaimana semua saksi zaman, ia kini meninggalkan panggung sejarah kepada generasi berikutnya.
Semoga Allah SWT menerima seluruh amal kebajikannya, mengampuni segala kekhilafannya, melapangkan kuburnya, dan menempatkannya di antara hamba-hamba yang memperoleh rahmat-Nya.
Selamat jalan, Abu Doto.
Engkau telah menyeberangi konflik, menyeberangi pengasingan, menyeberangi perdamaian, dan menyeberangi sejarah.
Kini engkau menyeberangi keabadian.(*)
*) PENULIS adalah Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh.
Isi artikel dalam Pojok Humam Hamid menjadi tanggung jawab penulis.
pojok humam hamid
Humam Hamid
Prof Humam Hamid
zaini abdullah
Gubernur Aceh
meninggal
meninggal dunia
GAM
Meaningful
| Ketimpangan Wilayah dan Sumber Daya: Akankah UTU Menjadi Transformator Barsela? |
|
|---|
| Tambang, Leuser, Perubahan Iklim: Undangan Tragedi Masa Depan Aceh |
|
|---|
| Menjelang 20 Bulan Prabowo Berkuasa: Apa Beda Sumitronomics dan Prabowonomics? |
|
|---|
| Revisi Narasi Sejarah Aceh dari Hanya Perang dan Ulama: Saudagar Habib Bugak |
|
|---|
| Qurban Sosial: Mampukah Aceh Melepaskan Hambatan Kemajuan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Prof-Humam-dan-Abu-Doto.jpg)