KUPI BEUNGOH
Ketika Kebencian Membunuh Akal Sehat Bangsa
Padahal akal sehat seharusnya bekerja secara berbeda. Jika ada korupsi, maka yang diberantas adalah korupsinya.
Kita tentu tidak membakar seluruh rumah hanya karena ada satu ruangan yang kotor.
Tetapi inilah persoalan ketika kebencian terlalu lama menguasai cara berpikir seseorang, semua yang lahir dari pemerintah dianggap salah, semua kebijakan dicurigai, semua upaya dipandang negatif, bahkan sebelum dipahami substansinya.
Padahal pada saat bersamaan, negara sedang bekerja membangun fondasi besar masa depan Indonesia.
Ratusan ribu anak dari keluarga miskin ekstrem mulai diberi akses pendidikan lebih bermartabat melalui program Sekolah Rakyat, agar kemiskinan tidak diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Ratusan ribu sekolah rusak yang bertahun-tahun tidak tersentuh mulai direvitalisasi agar anak-anak Indonesia belajar di ruang kelas yang layak.
Puskesmas di berbagai daerah diperbaiki agar layanan kesehatan benar-benar hadir bagi masyarakat kecil.
Baca juga: Perumda Tirta Tamiang Masih Berjibaku Atasi Krisis Air Baku
Ratusan jembatan juga dibangun agar anak-anak di wilayah terpencil tidak lagi mempertaruhkan nyawa menyeberangi sungai hanya dengan seutas tali demi pergi ke sekolah.
Negara juga sedang bergerak menyelamatkan triliunan rupiah uang rakyat dari tangan para koruptor yang selama puluhan tahun menjadikan anggaran publik sebagai ladang bancakan.
Agenda Besar Pemerintah
Lebih jauh lagi, pemerintah saat ini juga sedang menyiapkan agenda besar jangka panjang yang sangat menentukan masa depan bangsa.
Indonesia sedang memasuki fase industrialisasi dan hilirisasi nasional, sebuah strategi besar agar sumber daya alam bangsa ini tidak lagi dijual mentah ke luar negeri, tetapi diolah di dalam negeri sehingga menciptakan nilai tambah ekonomi, memperkuat daya saing nasional, serta membuka jutaan lapangan kerja baru bagi rakyat Indonesia.
Di sektor pertanian, Indonesia hari ini patut bersyukur karena telah memasuki fase swasembada pangan, sebuah capaian penting yang menunjukkan bahwa bangsa ini semakin mampu berdiri di atas kekuatan produksinya sendiri dalam memenuhi kebutuhan pangan nasional, sekaligus mengurangi ketergantungan pada impor yang selama bertahun-tahun menjadi tantangan besar bangsa.
Baca juga: VIDEO Keluarga Korban Ledakan Aceh Hebat 2: Alhamdulillah Anak Saya Mulai Membaik
Di sektor energi, pemerintah juga terus bergerak mempersiapkan fondasi menuju swasembada energi, membangun kemandirian nasional agar masa depan Indonesia tidak terus bergantung pada dinamika dan ketidakpastian energi global.
Tidak berhenti di situ, Indonesia juga sedang mempersiapkan agenda besar berikutnya, yakni swasembada protein hewani, sebuah langkah strategis menuju kemandirian nasional dalam mencukupi kebutuhan pangan hewani rakyat melalui produksi dalam negeri, baik kebutuhan daging, susu, maupun telur.
Agenda ini bukan sekadar persoalan produksi pangan semata.
Lebih dari itu, ini adalah investasi jangka panjang bangsa untuk memastikan anak-anak Indonesia tumbuh dengan asupan gizi yang baik, memiliki kesehatan yang lebih kuat, kualitas sumber daya manusia yang lebih unggul, serta kecerdasan yang akan menentukan daya saing Indonesia di masa depan.
Baca juga: Usung Semangat “Abeh Ube Abeh”, Dek Gam Siap Rebut Kembali Kejayaan PAN Aceh
| Interprofessional Education: Nyata atau Hanya Teori Semata? |
|
|---|
| Pentingnya Strategi Pembangunan yang Menempatkan Tata Kelola sebagai Prioritas Utama |
|
|---|
| Jangan Biarkan Emosi Mengalahkan Logika dalam Pengelolaan Gas Andaman |
|
|---|
| Dayah dan Tantangan Pembinaan Karakter di Era Digital |
|
|---|
| Mengapa Petani Aceh Tetap Miskin? |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Mahfudz-Y-Loethan-opini.jpg)