KUPI BEUNGOH
Ketika Kebencian Membunuh Akal Sehat Bangsa
Padahal akal sehat seharusnya bekerja secara berbeda. Jika ada korupsi, maka yang diberantas adalah korupsinya.
Di saat yang sama, penguatan industri strategis, pembangunan infrastruktur produktif, pemerataan akses ekonomi, hingga pembangunan sektor-sektor dasar pelayanan publik terus dijalankan sebagai fondasi menuju Indonesia yang lebih mandiri dan berdaulat secara ekonomi.
Semua ini adalah kebijakan besar yang akan menentukan masa depan bangsa dalam puluhan tahun ke depan.
Namun ironisnya, banyak masyarakat tidak lagi melihat itu. Semua capaian besar itu seakan hilang dari perhatian publik. Bukan karena tidak ada, tetapi karena terlalu banyak orang telah terjebak dalam echo chamber kebencian.
Ketika seseorang terlalu lama hidup dalam ruang kebencian, ia kehilangan kemampuan untuk menilai sesuatu secara objektif. Yang terlihat bukan fakta, yang dicari bukan kebenaran, dan yang dipertahankan hanyalah prasangka.
Filsuf Jerman, Friedrich Nietzsche, pernah mengatakan: “Sometimes people don’t want to hear the truth because they don’t want their illusions destroyed.”
Kadang manusia menolak mendengar kebenaran karena mereka tidak ingin ilusi yang mereka bangun runtuh.
Kalimat itu terasa sangat relevan dengan kehidupan kita hari ini. Kita hidup di zaman ketika hoaks menyebar lebih cepat dibanding klarifikasi, ketika orang lebih suka membaca judul dibanding isi, ketika tombol share ditekan jauh lebih cepat dibanding kebiasaan berpikir.
Baca juga: VIDEO Ambulans Hantam Kerbau di Jalan Tol Sibanceh Pidie
Padahal dalam nilai-nilai luhur bangsa kita, terutama dalam ajaran Islam, kita mengenal satu prinsip fundamental: tabbayun. Memeriksa informasi terlebih dahulu, mencari kebenaran sebelum mempercayai, menguji fakta sebelum menyebarkan.
Sayangnya, budaya tabbayun perlahan tergeser oleh budaya reaktif. Kita terlalu cepat marah, terlalu cepat menyimpulkan, terlalu cepat membagikan sesuatu yang bahkan belum kita pahami secara utuh.
Jika keadaan ini terus berlangsung, maka bangsa ini bukan hanya menghadapi krisis informasi.
Kita sedang menghadapi krisis akal sehat. Indonesia membutuhkan generasi yang kuat dalam literasi digital. Generasi yang suka membaca, bukan hanya membaca judul. Generasi yang terbuka terhadap perbedaan. Generasi yang mampu membedakan fakta, propaganda, dan manipulasi opini.
Baca juga: Jamaah Haji Aceh Hilang Uang Belasan Juta di Makkah, Dikembalikan Utuh
Karena kritik dalam demokrasi tentu penting. Tetapi kritik yang lahir dari kebencian buta sering kali membunuh objektivitas. Dan ketika objektivitas mati, arah bangsa perlahan ikut hilang.
Sudah saatnya kita belajar menjadi masyarakat yang dewasa. Tidak menilai sebuah kebijakan berdasarkan siapa yang menjalankan. Tetapi berdasarkan manfaat yang diterima rakyat.
Mari menjadi generasi yang gemar tabbayun, mari membangun budaya membaca sebelum bereaksi, mari memeriksa informasi sebelum mengonsumsi dan membagikannya.
Karena di zaman digital ini, bangsa yang kuat bukan bangsa yang paling cepat berbicara. Tetapi bangsa yang rakyatnya paling cerdas membedakan antara fakta, propaganda, dan kebisingan.
| Interprofessional Education: Nyata atau Hanya Teori Semata? |
|
|---|
| Pentingnya Strategi Pembangunan yang Menempatkan Tata Kelola sebagai Prioritas Utama |
|
|---|
| Jangan Biarkan Emosi Mengalahkan Logika dalam Pengelolaan Gas Andaman |
|
|---|
| Dayah dan Tantangan Pembinaan Karakter di Era Digital |
|
|---|
| Mengapa Petani Aceh Tetap Miskin? |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Mahfudz-Y-Loethan-opini.jpg)