KUPI BEUNGOH
Darurat Iklim: Ancaman Nyata bagi Sistem Kesehatan Global
Perubahan iklim perlu dipahami sebagai determinan kesehatan yang bekerja melalui kerusakan ekosistem, gangguan terhadap ketersediaan air dan pangan
WHO dan berbagai lembaga internasional mencatat bahwa perempuan, anak‑anak, lansia, masyarakat miskin, kelompok minoritas, migran, dan penduduk di wilayah dengan infrastruktur kesehatan lemah adalah pihak yang paling sulit beradaptasi dengan perubahan iklim.
Baca juga: Langsa Sepanjang Hari Ini Berawan, Kelembapan Udara Capai 97 Persen
Pada situasi banjir atau kekeringan, kelompok ini sering mengalami kesulitan memperoleh air minum, pangan sehat, obat‑obatan, serta layanan kesehatan, sehingga risiko sakit dan kematian meningkat tajam.
Konsekuensinya, perubahan iklim bukan hanya menambah beban penyakit, tetapi juga memperdalam ketimpangan kesehatan dan ketidakadilan sosial.
Perubahan Iklim dan Beban Penyakit
Selain penyakit fisik, perubahan iklim juga memberi dampak nyata terhadap kesehatan mental. Kematian anggota keluarga, kehilangan rumah, lahan pertanian, atau mata pencaharian akibat bencana alam dapat memicu stres, kecemasan, depresi, dan trauma psikologis.
Dalam beberapa kajian, istilah eco‑anxiety digunakan untuk menggambarkan rasa cemas dan tidak berdaya terhadap kerusakan lingkungan dan masa depan bumi yang dialami terutama oleh generasi muda.
Namun, penguatan layanan kesehatan jiwa dan dukungan psikososial terkait krisis iklim masih belum sebanding dengan skala permasalahan, sehingga banyak kebutuhan mental‑sosial yang belum tertangani secara memadai.
Di tingkat kebijakan, terlihat paradoks antara komitmen terhadap kesehatan dan iklim dengan praktik pembangunan yang masih bergantung pada energi fosil dan eksploitasi sumber daya alam.
Baca juga: Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Mifa-BEL Tegaskan Komitmen untuk Iklim
Laporan‑laporan global menunjukkan bahwa transisi energi bersih dan pengurangan emisi berjalan lebih lambat daripada laju peningkatan risiko kesehatan yang diakibatkan oleh polusi udara dan pemanasan global.
Kondisi ini menunjukkan bahwa kepentingan ekonomi jangka pendek masih sering ditempatkan di atas pertimbangan kesehatan dan keselamatan masyarakat, sehingga upaya penanggulangan krisis iklim dan kesehatan berjalan tidak seimbang.
Dengan memperhatikan berbagai dinamika tersebut, jelas bahwa solusi terhadap dampak kesehatan perubahan iklim tidak dapat bertumpu hanya pada perluasan layanan medis dan pembangunan rumah sakit.
Diperlukan perubahan cara pandang menuju sistem kesehatan yang berorientasi pada pencegahan, keadilan, dan keberlanjutan lingkungan, yang biasa dirumuskan dalam konsep climate‑resilient health systems.
Pendekatan ini menuntut integrasi isu iklim ke dalam perencanaan kesehatan, penguatan upaya promotif dan preventif, perlindungan kelompok rentan, serta kerja sama lintas sektor antara kesehatan, lingkungan, perencanaan kota, pertanian, dan perlindungan sosial.
Tanpa transformasi seperti ini, sistem kesehatan akan terus sibuk mengobati konsekuensi, tetapi gagal mengatasi akar struktural krisis kesehatan yang bersumber dari perubahan iklim.
Solusi dan Upaya Preventif
Pertama, pemerintah perlu memperkuat sistem kesehatan yang mampu menghadapi dampak perubahan iklim atau climate-resilient health system. Rumah sakit dan puskesmas harus siap menghadapi banjir, cuaca ekstrem, dan bencana alam sehingga pelayanan kesehatan tetap berjalan saat krisis terjadi.
Kedua, upaya promotif dan preventif harus lebih diutamakan. Edukasi kepada masyarakat tentang sanitasi, pengelolaan sampah, pencegahan DBD, pentingnya air bersih, serta dampak polusi udara perlu dilakukan secara terus-menerus. Pencegahan jauh lebih efektif dibanding hanya mengobati penyakit.
Baca juga: VIDEO - Heboh! Pria 40 Tahun Resmi Nikahi Cewek 18 Tahun Cuma Mahar Rp100 Ribu
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Ns-Dara-Rizkasary-STr-Kep.jpg)