Kupi Beungoh
Aceh Ingin Berhijrah ke Mana?
Julukan Serambi Mekkah yang melekat pada Aceh selama ini sering dipahami sebagai simbol identitas keagamaan. Padahal maknanya jauh lebih luas.
Dalam konteks ini, Masjid Raya Baiturrahman memiliki posisi yang sangat istimewa. Selama ini masjid tersebut dikenal sebagai ikon Aceh, baik karena nilai sejarah maupun kemegahan arsitekturnya.
Ribuan wisatawan datang setiap tahun untuk melihat langsung salah satu simbol kebanggaan masyarakat Aceh tersebut.
Namun sesungguhnya nilai Baiturrahman tidak berhenti pada aspek fisik dan historis. Masjid ini memiliki peluang untuk terus diperkuat sebagai pusat pembinaan umat, pengembangan literasi, dan penggerak aktivitas intelektual yang mampu menjawab tantangan zaman.
Dengan demikian, Baiturrahman tidak hanya menjadi pengingat kejayaan masa lalu, tetapi juga bagian dari ikhtiar membangun masa depan.
Dalam kaitan itulah keberadaan Kompleks Pendidikan Darussyariah Banda Aceh menjadi penting untuk diperhatikan. Meskipun secara fisik tidak berada dalam kawasan Masjid Raya Baiturrahman, Darussyariah memiliki keterkaitan historis dan semangat pengembangan pendidikan Islam yang selama ini melekat pada Baiturrahman.
Kehadirannya dapat dipandang sebagai salah satu bagian dari upaya memperkuat fungsi pendidikan yang selama ini menjadi ruh dari perkembangan peradaban Islam di Aceh.
Apabila Baiturrahman ingin terus memainkan peran sebagai simbol peradaban Islam Aceh, maka berbagai lembaga pendidikan yang tumbuh dari semangat yang sama juga perlu diperkuat.
Dengan posisi yang strategis di pusat ibu kota serta kedekatannya dengan berbagai institusi pendidikan dan pemerintahan, Darussyariah memiliki peluang untuk berkembang menjadi salah satu ruang pembelajaran yang lebih dinamis dan berpengaruh.
Di tengah kebutuhan Aceh akan pusat-pusat pengembangan sumber daya manusia yang unggul, Darussyariah sesungguhnya dapat mengambil peran yang lebih besar.
Bukan hanya sebagai tempat berlangsungnya proses pendidikan formal, tetapi juga sebagai ruang lahirnya gagasan, penguatan budaya literasi, pembinaan kepemimpinan generasi muda, dan pengembangan pemikiran keislaman yang responsif terhadap perubahan zaman.
Harapan tersebut bukan dimaksudkan untuk membandingkan Darussyariah dengan dayah atau lembaga pendidikan Islam lain yang telah lama memberikan kontribusi besar kepada masyarakat.
Sebaliknya, harapan itu muncul karena posisi dan peluang yang dimilikinya memang cukup unik. Dengan dukungan pengelolaan yang visioner serta program-program yang adaptif terhadap kebutuhan masa depan, Darussyariah berpotensi menjadi salah satu simpul penting dalam penguatan ekosistem pendidikan Aceh.
Yang diperlukan tentu bukan semata-mata pembangunan fisik atau kegiatan seremonial. Yang jauh lebih penting adalah tumbuhnya kehidupan akademik dan intelektual yang berkelanjutan.
Sebuah lembaga pendidikan akan memiliki pengaruh ketika di dalamnya berlangsung diskusi, penelitian, pengembangan literasi, kaderisasi, serta kolaborasi yang melibatkan berbagai kalangan. Dari lingkungan seperti itulah biasanya lahir gagasan-gagasan baru yang mampu memberi kontribusi bagi masyarakat.
Pelajaran tersebut tetap relevan hingga hari ini. Ketika dunia bergerak cepat akibat perkembangan teknologi, kecerdasan buatan, dan persaingan global yang semakin terbuka, Aceh membutuhkan generasi yang tidak hanya memahami nilai-nilai agama, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir kritis, berinovasi, berkolaborasi, dan beradaptasi dengan perubahan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Alumnus-Pascasarjana-FMIPA-UNPAD-Bandung-Djamaluddin-Husita.jpg)