Kupi Beungoh
Aceh Ingin Berhijrah ke Mana?
Julukan Serambi Mekkah yang melekat pada Aceh selama ini sering dipahami sebagai simbol identitas keagamaan. Padahal maknanya jauh lebih luas.
Karena itu, pertanyaan yang layak direnungkan pada setiap Muharram bukan sekadar berapa tahun yang telah berlalu, melainkan ke mana arah yang sedang kita tuju.
Sebab masa depan tidak dibangun oleh nostalgia terhadap kejayaan masa lalu, melainkan oleh kesungguhan mempersiapkan generasi yang akan menghadapi masa depan tersebut.
Jika Aceh ingin berhijrah menuju keadaan yang lebih baik, maka hijrah itu harus dimulai dari penguatan kualitas manusia. Pendidikan perlu ditempatkan sebagai investasi peradaban, bukan sekadar program pembangunan.
Dengan cara itulah julukan Serambi Mekkah akan menemukan maknanya yang paling substantif: sebuah daerah yang tidak hanya kuat dalam identitas keislamannya, tetapi juga unggul dalam ilmu pengetahuan, karakter, dan kemajuan masyarakatnya.
Pada akhirnya, hijrah yang paling penting bagi Aceh bukan sekadar pergantian tahun dalam kalender Hijriah. Hijrah yang sesungguhnya adalah keberanian mengubah cara pandang terhadap pendidikan, menjadikannya sebagai investasi peradaban, sekaligus menempatkan generasi muda sebagai pusat dari seluruh agenda pembangunan.
Jika langkah itu mampu dilakukan secara konsisten, maka Aceh tidak hanya akan dikenang sebagai Serambi Mekkah dalam catatan sejarah, tetapi juga hadir sebagai pusat lahirnya generasi berilmu, berkarakter, dan mampu menjawab tantangan zaman. (*)
*) Penulis adalah Alumnus Pascasarjana FMIPA UNPAD Bandung, Kepala Madrasah, Pengiat dan Pemerhati Masalah Pendidikan
KUPI Beungoh adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Isi artikel dalam rubrik ini tidak mencerminkan pandangan Redaksi dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Alumnus-Pascasarjana-FMIPA-UNPAD-Bandung-Djamaluddin-Husita.jpg)