Rabu, 22 April 2026

KUPI BEUNGOH

Bedrotting: Antara Istirahat, Pelarian dan Ancaman Kesehatan Mental

Bedrotting bukanlah musuh mutlak. Ia bisa menjadi cara tubuh memberi sinyal bahwa kita butuh istirahat.

Editor: Firdha Ustin
FOR SERAMBINEWS.COM
Imam Maulana, Direktur Direktur Eksekutif GEN-A 

Oleh : Imam Maulana *)

Fenomena bedrotting atau menghabiskan waktu seharian di kasur semakin populer di kalangan anak muda.

Istilah ini sempat viral di media sosial dan bahkan dipromosikan sebagai bentuk self-care. Rebahan lama, tidur tanpa henti, menonton hiburan berjam-jam, atau sekadar berselancar di media sosial dari atas kasur dianggap cara mudah untuk memberi tubuh dan pikiran jeda dari rutinitas yang melelahkan.

Pada titik tertentu, bedrotting memang bisa terasa menenangkan. Tubuh kita secara alami butuh istirahat setelah aktivitas padat.

Pikiran pun kadang perlu waktu “diam” agar tidak terbebani terus-menerus oleh tugas, tuntutan akademik, atau pekerjaan.

Dalam kerangka ini, bedrotting dapat dipahami sebagai coping mechanism sesaat: cara tubuh dan jiwa meminta ruang untuk memulihkan diri.

Namun, di balik kesannya yang sederhana, fenomena ini menyimpan dilema besar. Bedrotting yang terlalu lama dan berulang justru berisiko mengurung seseorang dalam lingkaran pasif yang sulit diputus.

Apalagi ketika ia ditemani oleh kebiasaan infinite scrolling—yakni konsumsi tanpa henti terhadap media sosial, video pendek, atau konten daring yang tiada habisnya.

Dari Istirahat Menjadi Jeratan

Berbeda dengan istirahat berkualitas, bedrotting kerap tidak benar-benar menyegarkan tubuh maupun pikiran. Tidur yang berlebihan justru bisa membuat kepala terasa berat, otot kaku, dan mood memburuk.

Sementara infinite scrolling membuat otak terus terstimulasi dengan banjir informasi yang belum tentu sehat: berita buruk, perdebatan, konten negatif, atau sekadar hiburan instan yang tidak memberi makna jangka panjang.

Gabungan keduanya menciptakan paradoks: tubuh berbaring tanpa tenaga, sementara otak dipaksa aktif oleh arus konten digital. Hasilnya adalah kelelahan ganda berupa fisik tidak bugar, pikiran pun semakin kacau.

Tak jarang, kondisi ini membuat seseorang makin enggan beranjak dari kasur. Semakin lama ia menunda aktivitas nyata, semakin besar rasa bersalah yang menumpuk.

Dari rasa bersalah lahirlah kecemasan baru, lalu siklus berulang lagi: rebahan panjang → scrolling tanpa henti → kelelahan → rasa bersalah → rebahan kembali.

Bedrotting & Infinite Scrolling dari Sisi Psikoneurologis

Fenomena ini dapat dijelaskan melalui kacamata psikoneurologi. Saat seseorang terjebak dalam bedrotting plus infinite scrolling, otak mengalami stimulasi berlebihan.

Kortisol (hormon stres) dilepaskan terus-menerus karena paparan konten yang memicu kecemasan, baik itu berita buruk maupun perbandingan sosial di media.

Dopamin (hormon kesenangan) hadir dalam dosis kecil setiap kali kita scroll dan menemukan sesuatu yang baru.

Sistem reward otak dipaksa bekerja terus-menerus, seperti layaknya mekanisme kecanduan.

Kombinasi ini menciptakan ilusi istirahat, padahal tubuh dan pikiran sebenarnya makin kelelahan. Akibatnya, sulit tidur nyenyak di malam hari, emosi jadi tidak stabil, konsentrasi menurun, hingga risiko depresi meningkat.

Studi neuropsikologi menegaskan, ketika otak terbiasa mencari reward instan dari layar, bagian otak yang mengatur kontrol diri (prefrontal cortex) justru melemah.

Artinya, semakin sering kita tenggelam dalam infinite scrolling, semakin sulit pula kita mengambil keputusan bijak untuk berhenti.

Generasi Emas Rentan Cemas

Fenomena ini banyak dialami generasi muda, terutama remaja dan mahasiswa. Tekanan akademik, ekspektasi orang tua, persaingan karier, hingga masalah pribadi membuat mereka lebih mudah mencari “pelarian” di kasur dan layar ponsel.

Bedrotting lalu dipersepsikan sebagai bentuk perlawanan halus terhadap dunia luar: cara sederhana untuk memutus sejenak koneksi dengan realitas yang terasa berat.

Namun, bila kebiasaan ini dibiarkan, ia justru bisa memperburuk kondisi kesehatan mental.

Tak sedikit laporan kasus menunjukkan bahwa bedrotting berkepanjangan bisa menjadi gejala awal depresi. Rasa malas beranjak, kehilangan motivasi, serta tenggelam dalam layar ponsel sering kali menjadi tanda tubuh sedang berteriak minta tolong.

Bedrotting - Sesaat vs. Kronis

Penting untuk membedakan:

Bedrotting sesaat → tubuh dan pikiran memang sedang butuh jeda. Sehari rebahan panjang setelah seminggu penuh aktivitas padat bisa memberi efek pemulihan.

Bedrotting kronis → dilakukan hampir setiap hari, disertai rasa enggan berinteraksi dengan orang lain, produktivitas menurun, bahkan muncul pikiran negatif.

Bedrotting jenis kedua inilah yang berbahaya. Ia bukan lagi sekadar istirahat, melainkan sinyal adanya masalah mental yang lebih serius.

Jalan Keluar: Bangkit dari Jeratan

Meski tampak sulit, siklus bedrotting dan infinite scrolling bisa diputus. Beberapa langkah praktis berikut bisa dicoba:

  • Atur Timer Digital Detox: Gunakan alarm atau aplikasi pembatas layar. Membatasi waktu menatap ponsel menjadi langkah awal yang krusial.
  • Mulai dari Aktivitas Kecil: Minum air, bereskan kasur, atau mandi. Aktivitas sederhana bisa memicu otak untuk keluar dari mode pasif.
  • Rancang Target Realistis: Jangan langsung menuntut diri produktif penuh. Mulailah dengan jalan 10 menit, membaca 5 halaman buku, atau menyelesaikan 1 tugas kecil.
  • Cari Dukungan Sosial: Ceritakan kondisi pada teman, keluarga, atau komunitas. Dukungan sosial terbukti memberi energi positif untuk bangkit.
  • Sadari Sinyal Tubuh: Bedakan antara lelah sehat (butuh istirahat) dengan lelah tidak sehat (pelarian dari stres). Kesadaran ini membantu kita lebih bijak menentukan kapan perlu rebahan, kapan harus bergerak.
  • Bangun Rutinitas Positif: Olahraga ringan, journaling, atau meditasi bisa menjadi alternatif coping mechanism yang lebih sehat dibanding tenggelam di kasur dan layar.

Refleksi

Bedrotting bukanlah musuh mutlak. Ia bisa menjadi cara tubuh memberi sinyal bahwa kita butuh istirahat.

Tetapi, ia juga bisa berubah menjadi jebakan yang melemahkan bila dilakukan terus-menerus dan ditemani infinite scrolling.

Generasi muda hari ini menghadapi tekanan psikososial yang nyata. Wajar jika tubuh sesekali menuntut jeda.

Namun, healing sejati bukan hanya tentang rebahan, melainkan juga tentang bagaimana kita menata pola hidup, membangun dukungan sosial, serta memberi ruang bagi tubuh, pikiran, dan jiwa untuk benar-benar pulih.

Karena itu, mari berhati-hati: jangan sampai bedrotting yang kita kira sebagai bentuk self-care justru berubah menjadi jeratan tak kasat mata.

Merawat diri memang penting, tapi cara kita merawat diri harus benar-benar memberi energi untuk bangkit, bukan sekadar menunda permasalahan yang ada.

*) PENULIS adalah Praktisi Kesehatan Mental & Direktur Eksekutif GEN-A.

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Isi artikel menjadi tanggung jawab penulis.

Baca artikel KUPI BEUNGOH lainnya di SINI

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved