Jumat, 17 April 2026

KUPI BEUNGOH

Bedrotting: Antara Istirahat, Pelarian dan Ancaman Kesehatan Mental

Bedrotting bukanlah musuh mutlak. Ia bisa menjadi cara tubuh memberi sinyal bahwa kita butuh istirahat.

Editor: Firdha Ustin
FOR SERAMBINEWS.COM
Imam Maulana, Direktur Direktur Eksekutif GEN-A 

Oleh : Imam Maulana *)

Fenomena bedrotting atau menghabiskan waktu seharian di kasur semakin populer di kalangan anak muda.

Istilah ini sempat viral di media sosial dan bahkan dipromosikan sebagai bentuk self-care. Rebahan lama, tidur tanpa henti, menonton hiburan berjam-jam, atau sekadar berselancar di media sosial dari atas kasur dianggap cara mudah untuk memberi tubuh dan pikiran jeda dari rutinitas yang melelahkan.

Pada titik tertentu, bedrotting memang bisa terasa menenangkan. Tubuh kita secara alami butuh istirahat setelah aktivitas padat.

Pikiran pun kadang perlu waktu “diam” agar tidak terbebani terus-menerus oleh tugas, tuntutan akademik, atau pekerjaan.

Dalam kerangka ini, bedrotting dapat dipahami sebagai coping mechanism sesaat: cara tubuh dan jiwa meminta ruang untuk memulihkan diri.

Namun, di balik kesannya yang sederhana, fenomena ini menyimpan dilema besar. Bedrotting yang terlalu lama dan berulang justru berisiko mengurung seseorang dalam lingkaran pasif yang sulit diputus.

Apalagi ketika ia ditemani oleh kebiasaan infinite scrolling—yakni konsumsi tanpa henti terhadap media sosial, video pendek, atau konten daring yang tiada habisnya.

Dari Istirahat Menjadi Jeratan

Berbeda dengan istirahat berkualitas, bedrotting kerap tidak benar-benar menyegarkan tubuh maupun pikiran. Tidur yang berlebihan justru bisa membuat kepala terasa berat, otot kaku, dan mood memburuk.

Sementara infinite scrolling membuat otak terus terstimulasi dengan banjir informasi yang belum tentu sehat: berita buruk, perdebatan, konten negatif, atau sekadar hiburan instan yang tidak memberi makna jangka panjang.

Gabungan keduanya menciptakan paradoks: tubuh berbaring tanpa tenaga, sementara otak dipaksa aktif oleh arus konten digital. Hasilnya adalah kelelahan ganda berupa fisik tidak bugar, pikiran pun semakin kacau.

Tak jarang, kondisi ini membuat seseorang makin enggan beranjak dari kasur. Semakin lama ia menunda aktivitas nyata, semakin besar rasa bersalah yang menumpuk.

Dari rasa bersalah lahirlah kecemasan baru, lalu siklus berulang lagi: rebahan panjang → scrolling tanpa henti → kelelahan → rasa bersalah → rebahan kembali.

Bedrotting & Infinite Scrolling dari Sisi Psikoneurologis

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved