KUPI BEUNGOH
Medan Bukan Batak: Mozaik Budaya di Ibu Kota Sumatera Utara
Kota ini sejatinya adalah rumah bagi beragam suku dan budaya, sebuah mozaik yang menggambarkan keberagaman etnis Nusantara
Inilah yang membuat Medan unik—kota dengan energi multikultural yang hidup dalam satu ruang urban.
Antara Persepsi dan Realitas
Mengapa banyak orang masih menganggap “Medan = Batak”?
Jawabannya ada pada dominasi budaya populer yang menonjolkan logat Batak sebagai ciri khas “orang Medan”.
Padahal, di balik logat keras itu, ada keragaman yang luas.
Ada Melayu Deli yang santun, Karo yang egaliter, Mandailing yang religius, hingga Tionghoa Medan yang gigih berdagang.
Sayangnya, persepsi ini kadang memunculkan stigma negatif, seolah Medan adalah kota “keras” atau “berbahaya”.
Padahal, seperti kota besar lain, Medan memiliki sisi ramah dan penuh kehidupan.
Dari aroma kopi Sidikalang yang harum, keriuhan Pasar Petisah, hingga senyum hangat pedagang di Kesawan, Medan sejatinya hidup dari keberagaman, bukan kekerasan.
Menatap Medan dengan Cara Baru
Kini, sudah saatnya kita memandang Medan dengan kacamata yang lebih adil.
Medan bukan semata “kota Batak”, melainkan cermin pluralitas Indonesia di ujung barat Nusantara.
Ia tumbuh dari akar Melayu, diperkuat semangat Batak, dan diperkaya oleh budaya Tionghoa, Jawa, serta India yang saling bersinergi.
Di kota ini, identitas bukan soal suku, tapi tentang semangat hidup bersama.
Jadi, jika ada yang bertanya “Medan itu Batak, kan?”, mungkin kita bisa menjawab: “Medan itu Indonesia dalam versi yang lebih padat dan penuh rasa.”
*) PENULIS adalah Mahasiswa Prodi Pendidikan Matematika Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry, Banda Aceh
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.
BACA TULISAN KUPI BEUNGOH LAINNYA DI SINI
| Merindukan Calon Rektor UIN Ar-Raniry Bervisi Internasional |
|
|---|
| Regulasi Emosi: Mencegah Pelampiasan Stres Rumah Sakit ke Dalam Rumah Tangga |
|
|---|
| Pembenahan JKA di Era Mualem-DekFadh Demi Melayani Rakyat Kecil di Aceh |
|
|---|
| Tantangan Mendidik Anak di Era Digital |
|
|---|
| Jalan Tol Hingga Sepinya Saree, Ketika UMKM Tertinggal di Jalur Lama |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Ulya-Azizah-Hasibuan_Mahasiswa-UIN-Ar-Raniry-Banda-Aceh.jpg)