Rabu, 8 April 2026

KUPI BEUNGOH

Medan Bukan Batak: Mozaik Budaya di Ibu Kota Sumatera Utara

Kota ini sejatinya adalah rumah bagi beragam suku dan budaya, sebuah mozaik yang menggambarkan keberagaman etnis Nusantara

Editor: Muhammad Hadi
SERAMBINEWS.COM/HO
Ulya Azizah Hasibuan, Mahasiswa Prodi Pendidikan Matematika Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry, Banda Aceh 

Oleh Ulya Azizah Hasibuan*)

MEDAN , ibu kota Provinsi Sumatera Utara, sering kali disebut sebagai “kota Batak”. 

Namun, label itu tak sepenuhnya tepat. Kota ini sejatinya adalah rumah bagi beragam suku dan budaya, sebuah mozaik yang menggambarkan keberagaman etnis Nusantara di bagian utara Pulau Sumatera.

Sejarah panjang Medan dimulai pada tahun 1590, ketika Guru Patimpus, seorang tokoh masyarakat Karo, mendirikan kampung kecil bernama Kampung Medan

Kala itu, Medan hanyalah pemukiman sederhana di tepian pertemuan Sungai Deli dan Sungai Babura. 

Namun, keberadaan Kerajaan Deli Melayu sejak abad ke-15 menjadikan kawasan ini perlahan tumbuh menjadi pusat pemerintahan dan perdagangan.

Akar Melayu di Tanah Deli

Jauh sebelum nama Medan dikenal luas, wilayah ini telah menjadi bagian dari kerajaan Melayu Deli, sebuah kerajaan maritim yang kuat di pesisir timur Sumatera. 

Bahasa Melayu menjadi bahasa pergaulan, dan nilai-nilai budaya Melayu mewarnai kehidupan masyarakatnya. 

Itulah sebabnya, secara historis, Medan lebih dulu dikenal sebagai tanah Melayu ketimbang Batak.

Ketika kolonial Belanda menemukan kejayaan tembakau Deli pada 1860-an, Medan berubah wajah. Kota ini menjelma menjadi pusat ekonomi dan perdagangan internasional. 

Para pekerja dan pedagang dari berbagai penjuru datang, mulai dari etnis Tionghoa, Jawa, India, hingga suku-suku Batak dari pedalaman Sumatera Utara.

Gelombang Migrasi Batak dan Lahirnya Identitas “Kota Batak

Masuknya masyarakat Batak, terutama Batak Karo, Toba, dan Mandailing, pada awal abad ke-20 membawa pengaruh besar terhadap wajah sosial budaya Medan

Banyak di antara mereka merantau untuk bekerja, berdagang, dan menempuh pendidikan. 

Kehadiran mereka yang kuat dan logat khas yang keras membuat citra “orang Medan” kerap identik dengan “orang Batak”.

Padahal, secara demografis, Medan tidak hanya dihuni oleh suku Batak, tetapi juga oleh masyarakat Melayu, Tionghoa, Minangkabau, dan Jawa. 

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved