Kupi Beungoh
Mendiskusikan Perpustakaan yang Bukan Sekadar Bangunan
Selain membangun komunitas, menjadikan pembelajaran dengan para expert semakin mudah diakses dalam suasana yang menyenangkan.
Perdana Menteri Kanada sebelumnya, Justin Trudeau, juga pernah mengumumkan sebuah kebijakan penting di sebuah perpustakaan di Gore Meadows—memperlihatkan kedudukan strategis perpustakaan.
Konsep, Bukan Bangunan
Bill Ptacek, CEO Perpustakaan Daerah Calgary, Kanada, mengemukakan bahwa “Perpustakaan bukan tempat, melainkan konsep” (The library is not a place, it’s a concept).
Bagi Ptacek, perpustakaan lebih kepada hubungan manusia dan interaksi sosial. Konsep perpustakaan lebih penting ketimbang fisik bangunan. Menurutnya, perpustakaan tanpa interaksi sosial bukanlah perpustakaan sesungguhnya.
Sebagai konsep, De Boekenkast di atas, alih-alih rak buku, ia adalah instalasi seni dari keramik berbentuk susunan buku, yang memuat judul buku/puisi penulis/penyair Belanda dari abad-abad sebelumnya.
De Boekenkast di Lootsstraat, Amsterdam, selain menjadi galeri sastra terbuka dan upaya mendekatkan masyarakat dengan kekayaan sastra mereka melalui desain arsitektur, juga berfungsi sebagai “social glue” (lem sosial) yang merekatkan identitas kolektif, seperti “budaya ngopi” dalam masyarakat Aceh.
Masih terkait peran desain arsitektur, di Brasil ada satu bangunan yang nyaris tidak memiliki dinding dan pintu, karya arsitek Brasil, Vilanova Artigas: sebuah perpustakaan yang mempromosikan kebersamaan, interaksi, dan pertukaran ide.
Di sini Artigas mengadopsi konsep Tempat Ketiga (Third Place) dari sosiolog perkotaan Ray Oldenburg yang sering dipergunakan dalam pembangunan komunitas (community building).
Ruang Bersama
Beberapa artikel mutakhir mengemukakan bahwa perpustakaan masa depan tidak hanya tentang sumber koleksi atau isu transformasi digital, tapi juga pengalaman baru dan ruang bersama.
Di Korea Selatan misalnya, terdapat Perpustakaan Luar Ruangan Seoul (Seoul Outdoor Library), yang memperluas pemahaman kita tentang perpustakaan masa depan: ruang bersama yang menyenangkan, sarana relaksasi dan rekreasi, dan destinasi budaya atau wisata kota—sejalan dengan prediksi Lembaga Nespresso Professional-Workplace Future: ruang bersama adalah tren masa depan.
Dalam konteks yang lebih akademik, Perpustakaan Weston di Oxford, menyediakan ruang yang mendukung pembelajaran dalam suasana sosial.
Adapun gedung CoDA (Computing and Data Science) di Universitas Stanford, tata kelolanya mendorong kolaborasi, pertukaran ide lintas disiplin, bahkan pembelajaran bersama antar kampus.
Sementara itu, dalam cetak biru Perpustakaan dan Kearsipan Singapura 2025, terdapat rangkaian ceramah publik yang menampilkan para pemikir dari berbagai bidang di ruang-ruang publik di luar perpustakaan fisik.
Mirip program Lecture on Tap—seri kuliah malam populer di Amerika. Terkait pendidikan, tetapi ditata ulang sehingga lebih inklusif. Lebih sedikit buku teks, cara baru untuk terhubung dengan para ahli di luar tembok akademis: di kafe-kafe.
| Menyikapi Ancaman El-Nino Godzilla |
|
|---|
| Tak Terdata, Tak Terlihat: Realitas Sosial di Balik Angka JKA |
|
|---|
| Perang dan Damai – Bagian 10, Keberlangsungan Peradaban Keamanan Manusia, Stop War |
|
|---|
| Perang dan Damai - Bagian 9, Perjalanan Ke Manado Kota Toleransi |
|
|---|
| Prabowo, Doli, dan Mualem di Balik Perpanjangan Otsus Aceh |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Nurussalim-Bantasyam-SH-2025.jpg)