Kupi Beungoh

Mendiskusikan Perpustakaan yang Bukan Sekadar Bangunan

Selain membangun komunitas, menjadikan pembelajaran dengan para expert semakin mudah diakses dalam suasana yang menyenangkan. 

Editor: Agus Ramadhan
IST
Nurussalim Bantasyam SH, Pelaksana pada Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kota Banda Aceh dan Kabid Perpustakaan Dispersip Aceh Jaya 2017-2021 

*) Oleh: Nurussalim Bantasyam, S.H.

“Kita membutuhkan ruang imajinatif jika hendak membangun masa depan”, kata penulis Ursula K. Le Guin. 

“Segala sesuatu yang dapat anda bayangkan itu nyata”, sebut seniman Pablo Picasso.  

Apabila ilmuwan politik Benedict Anderson mengemukakan nasionalisme sebagai sesuatu yang “dibayangkan” (imagined), saat mendengar kata “perpustakaan”, apa yang anda   bayangkan? 

Di Belanda, berdiri sebuah bangunan bernama “De Boekenkast” (Rak Buku), menjadi gambaran banyak orang tentang perpustakaan. 

Sulit untuk tidak mengatakan bahwa diskusi terkait perpustakaan selama ini cenderung terkotak dalam narasi tunggal, bahwa perpustakaan=de boekenkast. 

Bahkan cenderung reduksionis dan underestimated: di perpustakaan “kerjanya kan gampang, cuma menyusun buku-buku” dan lembaga perpustakaan yang dianggap “tidak berkelas”. 

Sayangnya, sementara narasi tunggal dan stereotip perpustakaan masih mengakar, di berbagai tempat lain, gagasan tentang perpustakaan terus meningkat dan berkembang: dari ruang untuk mendapatkan informasi ke ruang rekreasi, dan dari ruang rekreasi ke ruang-ruang kreativitas, pertumbuhan, dan kohesi sosial. 

Tak Sekadar Buku

“Membangun perpustakaan adalah menciptakan sebuah kehidupan. Itu tidak pernah hanya sekadar koleksi buku secara acak”, kata penulis novel Rumah Kertas, Carlos Maria Dominguez.  

Di Colorado (Amerika), perpustakaan 21Century contohnya, pernah membuka pintunya dengan sebuah kejutan: tidak ada buku. Kecuali printer 3D, studio audio/visual, dan ruang-ruang kreatif lainnya. 

Buku sengaja disembunyikan—bukan dihapus, agar masyarakat bisa melihat perpustakaan dari sudut pandang baru: inkubator ide dan ruang produksi (maker space). 

Di Library of Things (Jerman), selain buku, perpustakaan juga menyediakan berbagai peralatan yang dapat dipinjam oleh masyarakat (seperti oven, mesin bor, mesin pemotong rumput, dll). 

Perpustakaan Idea Exchange (Kanada) bahkan sama sekali tanpa buku, karena memang didesain sebagai maker space. 

Di Kanada, studio podcast bahkan telah menjadi fasilitas standar di banyak perpustakaan umum, di mana orang-orang dapat membuat konten, apakah tentang silsilah keluarga, termasuk pemikiran-pemikiran, sehingga perpustakaan menjadi ruang untuk mendemokratisasi ide dan gagasan. 

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved