Selasa, 21 April 2026

Kupi Beungoh

Mendiskusikan Perpustakaan yang Bukan Sekadar Bangunan

Selain membangun komunitas, menjadikan pembelajaran dengan para expert semakin mudah diakses dalam suasana yang menyenangkan. 

Editor: Agus Ramadhan
IST
Nurussalim Bantasyam SH, Pelaksana pada Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kota Banda Aceh dan Kabid Perpustakaan Dispersip Aceh Jaya 2017-2021 

Selain membangun komunitas, menjadikan pembelajaran dengan para expert semakin mudah diakses dalam suasana yang menyenangkan. 

Pada bagian lain, bilamana Paul Virilio, penulis dan kurator pameran asal Perancis, menggambarkan kota modern yang kehilangan dimensi interaksi akibat dominasi ruang virtual, pada tahun 2021 Pemerintah DKI Jakarta merevitalisasi Taman Literasi Martha Tiahahu.

Sebuah upaya mengaktivasi ruang hijau secara integral dengan ruang sosial perkotaan melalui konsep literasi, di mana perpustakaan berperan sebagai support system. 

“Lebih dari sekadar taman, ia adalah tempat pertukaran ide dan gagasan”, kata gubernur DKI Jakarta saat itu, Anies Baswedan. 

Sebuah kota adalah ingatan tentang sebuah tempat, sudut, atau jalan. Berapa banyak masyarakat di Aceh mengetahui sejarah atau asal usul nama tempat (toponimi) di mana mereka tinggal? Bisa dihitung dengan jari. 

Jika di Aceh terdapat pihak seperti Kota Tanyoe dan Sophie’s Sunset Library yang menginisiasi trip sejarah Kota Banda Aceh, di Meksiko, seorang pemandu wisata dan pecinta buku, Karla Cecena, mengubah sudut-sudut urban menjadi perjalanan naratif. Menggabungkan sastra dengan seni perjalanan, membawa wisatawan menyelami kekayaan sastra Meksiko. “Saya ingin menemukan kembali kota saya, melalui sastra, dan perpustakaannya”, tutur Cecena. 

Dengan demikian, perpustakaan juga merupakan upaya napak tilas untuk menyegarkan kembali (reinvigorating) ingatan individu dan kolektif terhadap perjalanan sejarah sebuah kota. 

Konsep Ke-ruang-an 

Dalam konsep ke-ruang-an (Heteropia) filsuf Perancis Michel Foucault, ruang tidak bisa diberi label yang kaku karena ia memiliki banyak makna dan fungsi. 

Pun perpustakaan, ia tidak sebatas “de boekenkast” atau bangunan yang terbuat dari besi dan beton. Tetapi perlu kita lihat, meminjam judul buku Avianti Armand, sebagai “Arsitektur yang Lain”. 

Sebuah arsitektur, dalam bahasa sastrawan Goenawan Mohamad, yang tidak hanya berbicara tentang sebuah bangunan, tetapi juga terkait hal-hal yang mengundang kita untuk mengamati ruang-ruang di sekitarnya. 

Ruang-ruang yang perlu kita isi dengan banyak mimpi, imajinasi, dan berbagai diskusi yang mencerahkan ketimbang narasi tunggal dan stereotip tentang perpustakaan. 

Karena akan berdampak terhadap perpustakaan itu sendiri: apa yang bisa, sudah menjadi apa, dan bagaimana membawa perpustakaan ke level berikutnya, yang notabene adalah untuk memajukan masyarakat.  

Ketika kita mengubah ruang fisik, kita cenderung mengubah cara kita berpikir, kata Emmanuel Candès, profesor matematika dan statistik Universitas Stanford. Demikian juga, ketika kita mengubah sudut pandang, artinya kita mengubah cara kita melihat sesuatu. 

Dari tulisan di atas, saat mendengar kata “perpustakaan”, apa yang anda bayangkan? (*)

 *) Penulis adalah Pelaksana pada Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kota Banda Aceh, dan Kepala Bidang Perpustakaan Dispersip Kab. Aceh Jaya 2017-2021. 

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.

BACA TULISAN KUPI BEUNGOH LAINNYA DI SINI

Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved