Kupi Beungoh
Refleksi Hari Guru: MAN 3 Aceh Besar, “Hujan Prestasi" Melawan Stigma Sekolah Pinggiran
MAN 3 Aceh Besar membuktikan bahwa kualitas pendidikan lahir dari etos kerja, bukan dari kemegahan sarana
Ringkasan Berita:Prestasi tidak ditentukan oleh fasilitas mewahMAN 3 Aceh Besar membuktikan bahwa kualitas pendidikan lahir dari etos kerja, bukan dari kemegahan saranaMeski hanya menerima 66 siswa baru pada PPDB 2025/2026, madrasah ini justru menjadikan keterbatasan sebagai pemicu lahirnya prestasiDalam waktu singkat, mereka meraih lebih dari 15 penghargaan bergengsi, termasuk medali riset nasional, lomba pustakawan, resensi buku, hingga kompetisi sains, seni, budaya, olahraga, dan e-sport.
Oleh: Zulfitra AJ*)
Kita sering mengira prestasi emas lahir dari fasilitas mewah.
Namun kisah MAN 3 Aceh Besar di Glee Kameng (kalau di-Indonesiakan bermakna Bukit Kambing) membuktikan sebaliknya.
Setelah sempat nyaris tidak terakreditasi dan hanya menerima 66 siswa baru pada PPDB 2025/2026, madrasah ini bangkit dengan cara yang mengejutkan.
Dalam satu bulan saja, mereka meraih empat prestasi di tiga tingkatan berbeda, termasuk medali perunggu riset nasional.
Ini bukan sekadar kemenangan. Ini adalah perlawanan terhadap stigma sekolah pinggiran--yang sering dianggap “tanggung”, bukan unggulan, bukan pelosok.
Mengapa mereka bisa? Dan apa yang sebenarnya sedang diajarkan oleh Glee Kameng kepada seluruh guru di Indonesia?"
Dari Krisis ke Musim Semi Prestasi
Inilah kisah yang melekat pada Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Aceh Besar.
Terletak di Glee Kameng–sebuah wilayah perbukitan di Indrapuri, sekitar 24,5 KM dari Banda Aceh–MAN 3 seolah ditakdirkan menjadi sekolah pilihan minoritas.
Mereka tidak memiliki kemewahan fasilitas layaknya sekolah unggulan di ibukota, namun juga tidak sepenuhnya terisolasi seperti sekolah di pelosok.
Stigma yang tersemat adalah mereka "tanggung", hanya menjadi pilihan kedua atau ketiga bagi siswa berprestasi dan guru berpengalaman.
Saat Bapak Ismail, S.Pd.I., M.Ag, Gr., menjabat sebagai Pelaksana tugas Kepala Madrasah pada Februari 2025, kondisi madrasah sedang diam, sepi karena dihantam oleh cobaan akreditasi sekolah turun menjadi B, bahkan sempat TT (Tidak Terakreditasi) pada pengumuman pertama saat itu.
Berkat upaya keras tim kerja dari guru dan tendik, serta dukungan plt. Kamad dan Pengawas Madrasah akreditasi berhasil kembali ke A.
Baca juga: Usai Banding, MAN 3 Aceh Besar Kembali Peroleh Akreditasi A
MAN 3 Aceh Besar
MAN Indrapuri
Aceh Besar
kupi beungoh
opini serambi hari ini
Serambi Indonesia
berita aceh terkini
| Traffic Light dan Karakter Kita: Renungan Umur Manusia |
|
|---|
| Peusijuk: Dari Warisan Budaya ke Katalisator Pendidikan |
|
|---|
| Rektor UIN Ar-Raniry Idaman: Mengembalikan Hakikat Jantong Hate |
|
|---|
| Rumah Sakit Iskandar Muda: Warisan Medis Belanda yang Lestari di Kutaraja |
|
|---|
| Ismail Rasyid: Pengusaha Merangkap Ilmuwan dari Aceh |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Zulfitra-AJ.jpg)