Selasa, 21 April 2026

Kupi Beungoh

Refleksi Hari Guru: MAN 3 Aceh Besar, “Hujan Prestasi" Melawan Stigma Sekolah Pinggiran

MAN 3 Aceh Besar membuktikan bahwa kualitas pendidikan lahir dari etos kerja, bukan dari kemegahan sarana

Editor: Zaenal
Serambinews.com/HO
Zulfitra AJ, pemerhati pendidikan dan Guru pada MAN 3 Aceh Besar. 

 

Ringkasan Berita:Prestasi tidak ditentukan oleh fasilitas mewah
MAN 3 Aceh Besar membuktikan bahwa kualitas pendidikan lahir dari etos kerja, bukan dari kemegahan sarana
Meski hanya menerima 66 siswa baru pada PPDB 2025/2026, madrasah ini justru menjadikan keterbatasan sebagai pemicu lahirnya prestasi 
Dalam waktu singkat, mereka meraih lebih dari 15 penghargaan bergengsi, termasuk medali riset nasional, lomba pustakawan, resensi buku, hingga kompetisi sains, seni, budaya, olahraga, dan e-sport.
 

 

Oleh: Zulfitra AJ*) 

Kita sering mengira prestasi emas lahir dari fasilitas mewah. 

Namun kisah MAN 3 Aceh Besar di Glee Kameng (kalau di-Indonesiakan bermakna Bukit Kambing) membuktikan sebaliknya. 

Setelah sempat nyaris tidak terakreditasi dan hanya menerima 66 siswa baru pada PPDB 2025/2026, madrasah ini bangkit dengan cara yang mengejutkan. 

Dalam satu bulan saja, mereka meraih empat prestasi di tiga tingkatan berbeda, termasuk medali perunggu riset nasional.

Ini bukan sekadar kemenangan. Ini adalah perlawanan terhadap stigma sekolah pinggiran--yang sering dianggap “tanggung”, bukan unggulan, bukan pelosok.

Mengapa mereka bisa? Dan apa yang sebenarnya sedang diajarkan oleh Glee Kameng kepada seluruh guru di Indonesia?"

Dari Krisis ke Musim Semi Prestasi

Inilah kisah yang melekat pada Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Aceh Besar.

Terletak di Glee Kameng–sebuah wilayah perbukitan di Indrapuri, sekitar 24,5 KM dari Banda Aceh–MAN 3 seolah ditakdirkan menjadi sekolah pilihan minoritas. 

Mereka tidak memiliki kemewahan fasilitas layaknya sekolah unggulan di ibukota, namun juga tidak sepenuhnya terisolasi seperti sekolah di pelosok. 

Stigma yang tersemat adalah mereka "tanggung", hanya menjadi pilihan kedua atau ketiga bagi siswa berprestasi dan guru berpengalaman.

Saat Bapak Ismail, S.Pd.I., M.Ag, Gr., menjabat sebagai Pelaksana tugas Kepala Madrasah pada Februari 2025, kondisi madrasah sedang diam, sepi karena dihantam oleh cobaan akreditasi sekolah turun menjadi B, bahkan sempat TT (Tidak Terakreditasi) pada pengumuman pertama saat itu.

Berkat upaya keras tim kerja dari guru dan tendik, serta dukungan plt. Kamad dan Pengawas Madrasah akreditasi berhasil kembali ke A. 

Baca juga: Usai Banding, MAN 3 Aceh Besar Kembali Peroleh Akreditasi A

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved