Jurnalisme Warga
Saat Relima Perpusnas RI Membangun Budaya Literasi di Bireuen
Setelah melalui serangkaian tahapan seleksi yang cukup panjang, saya dinyatakan terpilih sebagai salah satu dari 180 Relima di seluruh Indonesia.
DEWI SOFIANA, Guru dan Relima Perpusnas RI Lokus Bireuen, melaporkan dari Bireuen
Langkah saya dipertemukan dengan program Relawan Literasi Masyarakat (Relima) yang diluncurkan Perpusnas RI Mei 2025 lalu, telah membawa pada jalan pengabdian.
Program Relima membuka kesempatan bagi masyarakat untuk terlibat langsung dalam penguatan budaya baca. Menyambut peluang baik ini, saya ikut ambil bagian mengikuti seleksi setelah mengetahui Bireuen menjadi salah satu lokus penempatan.
Setelah melalui serangkaian tahapan seleksi yang cukup panjang, saya dinyatakan terpilih sebagai salah satu dari 180 Relima di seluruh Indonesia.
Berdasarkan Surat Keputusan Penetapan Relima Nomor B.4304/4/PPM.06/VI.2025 Perpusnas RI tertanggal 23 Juni 2025, alhamdulillah nama saya tercantum di lokus Kabupaten Bireuen. Satu orang Relima ditempatkan di 180 daerah kabupaten/kota masing-masing.
Sebagai orang yang lahir dan besar di Bireuen, dapat mengabdi dalam bidang literasi di daerah sendiri tentu memberi rasa bahagia tersendiri. Apalagi bisa berbaur langsung di tengah masyarakat untuk menggerakkan budaya baca dan mendampingi kegiatan literasi di tingkat desa (gampong).
Terpilih sebagai Relima merupakan suatu kehormatan sekaligus amanah bagi saya. Sebagai individu yang menjadi perpanjangan tangan Perpusnas RI untuk menjangkau masyarakat hingga ke pelosok, Relima harus bergerak dalam pengembangan program budaya baca dan kecakapan literasi.
Relima juga memikul tanggung jawab sebagai relawan yang memiliki peran strategis dalam menggerakkan literasi di akar rumput. Sosok yang diharapkan kontribusinya untuk melakukan advokasi, pendampingan, pelatihan, dan implementasi kegiatan dengan tujuan mengedukasi masyarakat akan pentingnya literasi bagi kehidupan yang lebih baik. Dalam menjalankan peran baru ini, saya menyadari bahwa kolaborasi adalah fondasi penting yang perlu dilakukan.
Gerakan literasi tak akan kokoh tanpa dukungan banyak pihak. Adalah suatu hal yang absurd jika gerakan literasi berdiri sendiri, tanpa jalinan kolaborasi dan sinergi yang memungkinkan setiap upaya terhubung menjadi dampak kolektif yang lebih luas bagi masyarakat.
Kerja di bidang literasi butuh kolaborasi dan sinergi. Kedua hal ini menjadi sumber kekuatan untuk bergerak dan menggerakkan.
Langkah pertama yang saya tempuh adalah melakukan kolaborasi dan sinergi dengan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kabupaten Bireuen, selaku pengelola perpustakaan dan pemangku kepentingan yang melakukan peningkatan budaya literasi masyarakat.
Kerja sama ini sangat membantu. Banyak kegiatan lebih mudah dijalankan berdasarkan informasi yang telah didapatkan dari Dispusip mengenai perpustakaan desa di Bireuen dan kondisi di lapangan.
Dengan sinergi ini, program Relima dapat seiring sejalan dengan program daerah dan semakin berdampak.
Melalui kerja sama yang telah terjalin baik, berbagai kegiatan dapat terlaksana lebih efektif: Dispusip menjadi mitra penting yang memastikan gerakan Relima tidak berjalan sendiri, melainkan menjadi bagian dari ekosistem literasi daerah.
Kolaborasi ini bukan hanya tentang program, melainkan juga tentang visi bersama: menjadikan perpustakaan sebagai pusat pengetahuan yang hidup, aktif, dan dekat dengan masyarakat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/RELIMA-PERPUSNAS1.jpg)