Rabu, 15 April 2026

Kupo Beungoh

Virus Mental, Virus Biologi, dan Nasib Rakyat (III-Habis)

Yang dikerjakan selama ini tidak lebih dari mengimbau dan kalau perlu memaksa rakyat untuk patuh kepada protokol Covid-19.

Editor: Zaenal
SERAMBINEWS.COM/Handover
Prof. Dr. Ir. Ahmad Humam Hamid, MA, Guru Besar Unsyiah Banda Aceh. 

Ahmad Human Hamid*)

KELESUAN gerakan pengendalian Covid-19 di Aceh nampaknya tidak boleh dianggap sebagai sebuah ancaman yang tidak  serius.

Pemimpin Aceh, mulai dari yang berpangkat gubernur, para bupati dan wali kota, tetap mesti dianggap tidak serius selama mereka belum mengerjakan pekerjaannya yang wajib dikerjakan, yakni pengendalian.

Yang dikerjakan selama ini tidak lebih dari mengimbau dan kalau perlu memaksa rakyat untuk patuh kepada protokol Covid-19. 

Di mana-mana, di dunia mana pun, rakyat baru sedikit optimis, ketika pemerintah dengan sungguh-sungguh melaksanakan pengendalian pandemi dengan test, tracing, isolasi, karantina, dan kalau perlu lockdown.

Anehnya DPRA dan DPRK hampir tidak ada yang menyuarakannya.

Kalaupun ada hanya beberapa orang yang nampak sekali tidak tahu, mungkin tidak mau tahu substansi perkara Covid-19 dengan benar. 

Virus Mental, Virus Biologi, dan Nasib Rakyat (I)

Virus Mental, Virus Biologi, dan Nasib Rakyat (II)

Teka Teki Virus Mental Elite

Apa sesungguhnya yang sedang terjadi dengan elit kekuasaan Aceh, terutama para mereka yang telah bersumpah dengan kitab suci untuk menjaga dan menyelamatkan rakyat yang telah memberikan mandat kepada mereka.

Sikap-sikap yang terpotret dari tindakan yang dilakukan secara jujur harus dikatakan telah menjadi teka-teki besar kepada kita semua. 

Memberi label mereka tidak tahu tentang Covid-19 adalah pelecehan akal sehat, karena kita tahu mereka berpendidikan tinggi.

Memberi label mereka sibuk dengan urusan-urusan lain juga tidak layak.

Bukankah perintah refocusing anggaran pembangunan dari pemerintah pusat jelas menunjukkan signal, bahkan perintah bahwa Covid-19 adalah prioritas.  

Memberikan label tidak peduli, apakah mungkin para pejabat publik yang datang menangis kepada rakyat ketika pilkada atau pemilu, dan bahkan mencari berbagai cara untuk memperoleh suara lalu berkhianat kepada rakyat?

Yang pasti indikator angka lacak dan isolasi 0,6 itu adalah potret total yang mengukuhkan dan bukti nyata ketidakpedulian kolektif elite kekuasaan Aceh terhadap ancaman horor, teror, dan kematian dari Covid-19 terhadap rakyat Aceh.

Angka itu tidak bisa dikerjakan individu atau komunitas, karena angka itu sepenuhnya hanya bisa dikerjakan dan sekaligus menjadi tanggung jawab pemerintah daerah di dua tingkatan itu.

Warga Gampong Aree Pidie Bangun Masjid Kedua di Gle Ceurih

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved