Breaking News:

Kupi Beungoh

Kunjungan Ramadhan ke AD Pirous: Flash Gordon, Gampong Pande, Tanoh Abee, dan Makam Raja Pase (IV)

Ketika mungkin lebih dari 90 persen orang Aceh belum bisa membaca, Pirous kecil sudah membaca  berbagai serial komik dan novel yang dibeli ayahnya.

SERAMBINEWS.COM/Handover
Kolase foto lukisan kaligrafi karya Abdul Djalil Pirous, seniman Indonesia asal Meulaboh Aceh Barat. Lukisan-lukisan ini disimpan di Serambi Pirous, studio galery, di Jl. Bukit Pakar Timur II/111 Bandung, 40198, Indonesia. 

Eksplorasi di Tanoh Abee, Makam Raja Pasai, dan Gampong Pande

Sungguh banyak tempat  di Aceh yang ia kunjungi, namun tiga tempat yang kemudian menjadi ladang eksplorasi dan exploitasi utama seninya adalah Tanoh Abee, tepatnya Zawiyah Tanoh Abee di kecamatan Seulimum, Aceh Besar, Makam Raja-Raja Pasai, di Kecamatan Samudra, dan Gampong Pande di Banda Aceh.

Pilihan Tanoh Abee bagi Pirous bukan tanpa alasan.

Tanoh Abee adalah satu satunya tempat dimana konsentrasi transkrip dan manuskrip Aceh masa lalu tersimpan relatif lebih baik, walaupun cukup banyak pula yang telah hilang dimakan waktu.

Jumlah manuskrip masa lalu yang tersimpan di zawiyah itu sekitar 10.000. (Al Yasa dan Wamad 1992)

Pilihan Pirous terhadap Tanoh Abee sangat beralasan, karena selain dari beberapa karangan kitab dan hikayat, hanya  zawiyah Tanoh Abee sajalah mampu memberikan sejumlah bukti penting artefak  tentang praktek dan tradisi intelektual Aceh masa lalu.

Yang juga paling menarik tentang artefak Tanoh Abee juga mencerminkan pergumulan penalaran “the power of reason. and passion” dari berbagai pemahaman agama langsung dari asalnya, Mekkah dan Medinah, maupun dari kepustakaan Persia, Turki, dan Gujarat.

Zawiyah Tanoh Abee adalah sebuah lembaga pendidikan Islam tradisional (Aceh bahasa Aceh) yang didirikan oleh ulama asal Irak, Syekh Fayrus al-Baghdadi.

Dayah ini mencapai puncak perkembangannya pada akhir abad ke-19 di bawah pimpinan Syekh Abdul Wahab, alias Teungku Chik Tanoh Abee, yang sampai kini masih sangat dihormati dan dipandang sebagai figur terpenting dalam sejarah Dayah itu.

Baca juga: Napoleon, Kohler, Muzakir Walad, dan Warisan Gampong Pande (I)

Baca juga: Napoleon, Kohler, Muzakir Walad, dan Warisan Gampong Pande (II)

Ketika Azuymadi Azra (1994) menyatakan Aceh sebagai  “nexus”-poros jaringan ilmu pengetahuan islam ke seluruh wilayah Melayu Nusantara pada abad ke 17, maka peninggalam budaya material tulisan yang masih tersedia hanya sejumah kitab,  dan sejumlah hikayat yang berserakan di berbagai tempat.

Keunikan Tanoh Abee, sampai hari ketika Pirous mengunjunginya, adalah peninggalan artefak tulisan dan sejumlah benda lain yang terjaga selama lebih dari dua abad dengan suksesi kepemimpinan dan tradisi yang berlanjut.

Zawiyah yang didirikan oleh Syekh Fayrus Al Bagdadi yang sempat menjadi Qadhi-Malikul Adil Raja Iskandar Muda kemudian diteruskan oleh tujuh generasi lanjutan sampai kepada Tgk H. Muhammad Dahlan Al-Baghdadi pada penghujung abad ke 20.

Penelusuran yang dilakukan oleh Fadlan (2013) menemukan keluasan cakupan dari berbagai naskah yang ada di tanoh Abee mulai dari Ilmu Alquran, Hadis, Tafsir, Tauhid, Fikih, Tasawuf, Tata Bahasa, Logika, Ushul Fikih, Sejarah, Zikir, dan Doa.

Quran Aceh adalah julukan yang diberikan mushaf Alquran yang telah dimulai dari kerajaan Pasai pada abad ke 11 dan 12 dan kemudian terus berlanjut.

Tanoh Abee setidaknya mempunyai 23 Quran Aceh dari puluhan atau mungkin ratusan yang telah berumur cukup lama.

Berbagai bentuk mushaf Quran Aceh itu juga memberikan gambaran proses evolusi pribumisasi penulisan dan seni sekalgus, baik dengan melalui, iluminasi, dan warna.

Mushaf itu juga kemudian mencerminkan Acehnisasi penulisan Alquran yang termediasi melalui paling kurang tiga peradaban besar setelah periode Mekkah dan Madinah; Persia, India, dan mungkin Turki.

Salah satu contoh yang paling menonjol dari Mushaf Alquran Aceh misalnya berbeda dari khath dan motif mushaf pertama, Rasm Usmani, yang dibuat pada abad ke 7 semasa khalifah Usman.

Perbedaan itu sangat nyata pada motif hiasan dan ukiran dimana warna merah, hitam, dan kuning lebih menonjol yang pada mushaf pertama itu tidak seperti itu.

Baca juga: Napoleon, Kohler, Muzakir Walad, dan Warisan Gampong Pande (3- Habis)

Lukisan kaligrafi Surat Al-Ikhlas karya AD Pirous. Lukisan ini disimpan di Serambi Pirous, Studio Galeri, di Jl. Bukit Pakar Timur II/111 Bandung, 40198, Indonesia.
Lukisan kaligrafi Surat Al-Ikhlas karya AD Pirous. Lukisan ini disimpan di Serambi Pirous, Studio Galeri, di Jl. Bukit Pakar Timur II/111 Bandung, 40198, Indonesia. (SERAMBINEWS.COM/Handover)

Berbagai peninggalan Tanoh Abee baik berupa tradisi intelektual, mushaf, dan sejumlah artefak lain memberikan kekaguman tersendiri bagi Pirous, terutama dalam pencarian dirinya dan peta jalan untuk karir dan masa depannya.

Tanoh Abee kemudian menjadi tambang inspirasi dan kotemplasi Pirous dalam berbagai karyaseninya.

Puncak dari kekaguman Pirous terhadap Zawiyah Tanoh Abee diabadikan dalam bentuk kekaguman, kecintaan, takzim, hormat, dan doa kepada para ulama Tanoh Abee.

Karyanya yang diberi judul Doa XII/Penghormatan Kepada Tanah Abee sebagai pusat literasi Islam Melayu Nusantara pada zamannya dengan menempatkan kutipan surah Al Baqarah penutup ayat 148, “ Wallahu’ala kulli syaiin qadir” sebagai matahari dalam suasana senja dengan berbagai penumpukan dan gradasi warna dan citra reproduksi fotografi.

Pengakuan Pirous terhadap “Allah Maha Kuasa atas sesesuatu” ditimpakan di atas tembok kuno lebih mencerminkan pengakuan keluhuran budaya tradisional indatunya.

Kasih sayang relegius ibunya dan keseharian Pirous kecil dengan masyarakat Meulaboh yang kental dengan nilai-nilai keAcehan, asuhan dan darah seni dari ibunya, imajinasi Flash Gordon dan Winnetau tetap membekas dan berlanjut.

Pendidikan formal di ITB dan pengetahuan dan skill senirupa yang ia dapatkan di Rochester, AS membuatnya menjadi lebih mengenal dirinya.

Ia “menyerah” dan sekaligus mengakui dan takzim kepada ulama terdahulu, para ulama Tanoh Abee, sekaligus dengan tradisi intelekual yang berbungkus dengan seni yang luar biasa.

Pirous mendekap, asyik, dan tenggelam dalam pelukan Tanoh Abee.(*)

*) PENULIS adalah Sosiolog, Guru Besar Universitas Syiah Kuala.

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.

Editor: Zaenal
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved