Breaking News:

Kupi Beungoh

Kunjungan Ramadhan ke AD Pirous: Flash Gordon, Gampong Pande, Tanoh Abee, dan Makam Raja Pase (IV)

Ketika mungkin lebih dari 90 persen orang Aceh belum bisa membaca, Pirous kecil sudah membaca  berbagai serial komik dan novel yang dibeli ayahnya.

Editor: Zaenal
SERAMBINEWS.COM/Handover
Kolase foto lukisan kaligrafi karya Abdul Djalil Pirous, seniman Indonesia asal Meulaboh Aceh Barat. Lukisan-lukisan ini disimpan di Serambi Pirous, studio galery, di Jl. Bukit Pakar Timur II/111 Bandung, 40198, Indonesia. 

Ia mendapatkan imajinasi dunia luar yang jauh dari Meulaboh dengan gambaran alam kehidupan praire, hutan sub-tropis, dan empat musim sepanjang tahun.

Bacaannya tentang Winnatau juga memberikan Pirous imajinasi sastrawi yang dikemudian hari menjadi bagian penting visual dari karya-karyanya.

Sosiolog Aceh, Ahmad Humam Hamid, berkunjung ke galery lukisan seniman Indonesia kelahiran Meulaboh Aceh Barat, Abdul Djalil Pirous (AD Pirous), di kawasan Dago Pakar, Bandung, April 2021.
Sosiolog Aceh, Ahmad Humam Hamid, berkunjung ke galery lukisan seniman Indonesia kelahiran Meulaboh Aceh Barat, Abdul Djalil Pirous (AD Pirous), di kawasan Dago Pakar, Bandung, April 2021. (SERAMBINEWS.COM/Handover)

Sekalipun Pirous menyatakan mungkin ayahnya tidak memiliki darah seni, pilihan ayahnya untuk membeli dan menyediakan bacaan untuk anaknya sungguh memberi kesan tersendiri.

Setidaknya Pirous tua punya intuisi yang “kuat” untuk masa depan anaknya sangat tergantung pada kemampuannya untuk mampu membaca dunia dan  kehidupan.

Kalau memang benar klaim Pirous tentang ayahnya yang tidak punya darah seni, setidaknya secara tak sadar Pirous tua telah membuat sebuah  tindakan yang membuat  Pirous masuk  ke sebuah jalan, yang pada akhirnya membawa Pirous ke sebuah ” high way” seni nasional dan international.

Pirous memulai perburuannya untuk akar kaligrafinya dengan mengulangi apa yang diberikan oleh ayahnya pada masa kecilnya, dan itu adalah Flash Gordonnya dengan topik dan pengarang yang lain.

Bentuk dan isi visual dari bacaan kali ini bukan biasa, arena yang dicari adalah artefak budaya yang tersebar berserakan di seluruh bumi Aceh.

Layaknya penambang emas di pedalaman pantai barat pada masa kerajaan Aceh yang tahu wilayah konsentrasi logam mulai itu, Pirous juga harus memutuskan wilayah dan lokasi yang sarat dengan artefak di sejumlah titik di Aceh untuk menjadi “logam mulianya”.

Pirous punya bacaan sejarah dan dan pergaulan yang luas tentang Aceh.

Kepergiannya ke Rochester setidaknya memberinya bekal untuk sebuah pencarian arkeologi.

Baca juga: Penelitian Arkeologi: Nenek Moyang Suku Gayo Bermigrasi dari Cina Selatan pada Zaman Prasejarah

Sosiolog Aceh, Ahmad Humam Hamid, berkunjung ke galery lukisan seniman Indonesia kelahiran Meulaboh Aceh Barat, Abdul Djalil Pirous (AD Pirous), di kawasan Dago Pakar, Bandung, April 2021.
Sosiolog Aceh, Ahmad Humam Hamid, berkunjung ke galery lukisan seniman Indonesia kelahiran Meulaboh Aceh Barat, Abdul Djalil Pirous (AD Pirous), di kawasan Dago Pakar, Bandung, April 2021. (SERAMBINEWS.COM/Handover)
Halaman
1234
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved