Breaking News:

Kupi Beungoh

Kunjungan Ramadhan ke AD Pirous: Flash Gordon, Gampong Pande, Tanoh Abee, dan Makam Raja Pase (IV)

Ketika mungkin lebih dari 90 persen orang Aceh belum bisa membaca, Pirous kecil sudah membaca  berbagai serial komik dan novel yang dibeli ayahnya.

SERAMBINEWS.COM/Handover
Kolase foto lukisan kaligrafi karya Abdul Djalil Pirous, seniman Indonesia asal Meulaboh Aceh Barat. Lukisan-lukisan ini disimpan di Serambi Pirous, studio galery, di Jl. Bukit Pakar Timur II/111 Bandung, 40198, Indonesia. 

Ahmad Humam Hamid*)

KETIKA Pirous pulang kampung segera setelah tamat dari sekolah di AS, yang ia cari adalah bukti akar Aceh masa lalu, yang tersimpan dalam berbagai bentuk.

Ada yang terlihat ada pula yang tak terlihat.

Ada yang sudah hilang, ada pula yang terurus dengan baik.

Pirous dengan sangat siap memastikan diri untuk masuk  “berburu” di sebuah belantara budaya yang bernama Aceh.

Prious semenjak kecil adalah kutu buku, sekaligus pembelajar.

Ketika mungkin lebih dari 90 persen orang Aceh belum bisa membaca, Pirous kecil sudah membaca  berbagai serial komik dan novel yang dibeli oleh ayahnya.

Bayangkan ketika konektivitas global masih bergantung kepada kapal uap, kartun Flash Gordon karya Alex Raymon yang pertama sekali diterbitkan di AS pada tahun 1934 telah dilahap oleh Pirous kecil pada tahun empat puluhan di Meulaboh. 

Alex Raymon dalam dunia karton tidak hanya dianggap “nabinya” para kartunis komik dan media cetak AS, akan tetapi juga dianggap sebagai inspirator berbagai cerita  dan film fiksi imiah, seperti Star Wars.

“Tercemarnya” Pirous dengan  ”racun” imajinasi  Flash Gordon pada tahun empat puluhan di sebuah kota kecil Meulaboh tentu saja menyamai anak-anak kecil seusianya yang bertebaran di kawasan negara maju, terutama Amerika Serikat, dan juga mungkin Eropah, pada waktu itu.

Halaman
1234
Editor: Zaenal
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved