Breaking News:

Kupi Beungoh

Kunjungan Ramadhan ke AD Pirous: Ali Hasymi, Cinta Meulaboh, dan Universitas Teuku Umar (V)

Dalam sejarah USK dan UIN Ar-Raniry belum ada penjelasan yang runtut tentang Asbabun Nuzul kedua gambar ulama besar itu.

Editor: Zaenal
Kiriman Marshal
Staf Khusus Presiden Republik Indonesia, Gracia Billy Mambrasar meresmikan Pusat Inkubasi Bisnis Universitas Teuku Umar di Meulaboh, Aceh Barat, Rabu (17/2/2021). 

Segera kami diam.

Dan hasilnya kata Gade dengan suara yang lebih halus, itula kedua gambar yang hari ini diyakini oleh banyak orang sebagai gambar kedua ulama besar.

“Itulah sebagian dari esensi sejarah” kata Gade.

Saya merenung kemudian bertanya “apakah Hasyimi salah” kepada Gade?

Gade mengatakan tidak sama sekali, dan ia bahkan memuji, “Hasyimi itu genius,” katanya.

Bagi Hasyimi, mungkin karena ia seorang seniman, yang terpenting adalah substansi pesan tentang siapa kedua tokoh secara paripurna.

Bahwa gambar itu tak lebih sebagai sarana untuk menyampaikan pesan itu.

Gade melanjutkan, sejauh tak ada gambar lain, sebagai alternatif maka gambar itulah yang benar, dan Hasymi mengakui itu kepada Gade pada tahun tahun 1990. Bukan main.

Baca juga: Kontroversi Hari Jadi Subulussalam, Ini Bukti Dokumentasi Surat Mantan Gubernur Prof Ali Hasyimi

UTU yang Beruntung

Apa yang terjadi dan dialami oleh USK dan UIN Ar-Raniry tidak dialami oleh Universitas Teuku Umar.

Kampus ini sangat beruntung memilih nama Teuku Umar dan memiliki paling kurang dua rektor pertama yang hebat, Alfian Ibrahim, dan Jasman J, Makruf.

Adalah Alfian yang bekerja keras dan mengerahkan segala potensi lokal yang ada dan jaringan provinsi dan nasional untuk membuat kampus itu dinegerikan.

Jasman J.Makruf adalah ilmuwan hebat yang juga kadang praktisi sekali waktu.

Ia adalah guru besar manajemen pemasaran dan tahu benar apa makna logo, image, dan identitas lembaga.

Saya haqqul yakin ia telah melumat habis buku-buku yang ditulis oleh Cornelissen, Van Reel, Argenti, atau Fombrun.

Itu adalah buku-buku komunikami korporasi yang menjadi bacaan wajib program MBA tidak hanya di kampus-kampus kecil di dunia, tetapi juga di Harvad Business School, Sloan di MIT, ataupun Wharton School di Universitas Pensylvania.

Salah satu topik penting yang dibahas adalah identitas, branding, reputasi, dan iklan.

Dan itulah salah satu yang dikerjakan oleh Jasman J. Makruf.

Seperti pengakuannya kepada saya, ia tak sulit untuk membangun kampusnya yang unik dan padu, walaupun ia harus mengerahkan paling kurang 20 orang tokoh ketika ia menggagas maket dan sentuhan keindahan etnik dan unversial  berikut dengan struktur dan keindahan aritektur.

Modal nama Teuku Umar baginya adalah anugerah dan asset yang paling besar.

Ia segera berkomunikasi dengan AD Pirous.

Ia mengaku kepada saya ia mendapat pencerahan besar dari AD tentang kehidupan, ilmu, seni, dan wawasan masa depan.

Ia tidak lagi melihat Pirous sebagai praktisi Seni Rupa.

Ia telah mendapatkan Pirous sebagai seorang generalis yang punya wawasan luas dan bahkan holistik.

Dan Jasman tahu ia harus “mencuri” kehebatan Pirous untuk dibawa kembali kampung halaman sang maestro.

Saya setuju dengan Jasman bahwa narasi Teuku Umar yang ada selama ini lebih bersifat “ketenteraan” yang menjagokan fisik tempur, walaupun ia mempunyai strategi yang lumayan.

Tantangan terbesar dengan nama Teuku Umar bagi Jasman bagaimana mencari alur sejarah yang menggambarkan Teuku Umar bukan hanya sosok yang mengandalkan “otot”, tetapi juga “reason” -penalaran dan “passion”-gairah menyala yang mumpuni.

Jasman lama gelisah.

Kegelisahan itu buyar seketika ketika ia bertemu Pirous dan melihat lukisan T. Umar di galerinya.

Sosiolog Aceh, Ahmad Humam Hamid, berkunjung ke galery lukisan seniman Indonesia kelahiran Meulaboh Aceh Barat, Abdul Djalil Pirous (AD Pirous), di kawasan Dago Pakar, Bandung, April 2021.
Sosiolog Aceh, Ahmad Humam Hamid, berkunjung ke galery lukisan seniman Indonesia kelahiran Meulaboh Aceh Barat, Abdul Djalil Pirous (AD Pirous), di kawasan Dago Pakar, Bandung, April 2021. (SERAMBINEWS.COM/Handover)

Apa yang dipikirkan oleh Jasman telah dikerjakan oleh Pirous dalam bentuk yang paripurna, menurut Jasman.

Teuku Umar telah “dihidupkan”oleh Pirous dan gambar itu akan “hidup” sepanjang zaman.

Dalam ceritanya kepada saya, Jasman bangga mengatakan bahwa UTU sudah punya identitas, sudah punya roh, dus sudah ada branding.

Tinggal sekarang katanya bagimana membangun reputasi.

Ia telah mendapat dua dari Pirous, wawasan dan seni yang kemudian dikawinkan dengan ilmu pemasaran yang ditekuninya.

Ketika saya bertanya tentang klaim identitas yang ia temukan, ia bahkan mempersilakan saya melihat lukisan Teuku Umar dan mempelajarinya.

Baca juga: Napoleon, Kohler, Muzakir Walad, dan Warisan Gampong Pande (3- Habis)

Dari Agam dan Berotot ke Seumike, Syae, dan Zike

Ketika melihat gambar itu bakda subuh beberapa  hari yang lalu dengan sangat sama, saya segera menangkap T. Umar telah dirobah narasinya dari narasi “agam” dan “berotot”  kepada narasi “seumike”dan  “syae dan zike”  oleh Pirous.

Kebalikan dari ikon USK dan UIN Ar-Raniry yang membuat gambaran visual utuh tentang AsSingkili dan Ar-Raniry, Pirous justeru menghilangkan gambar foto fisik T. Umar ke dalam bentuk guratan-guratan arwah yang syuhada yang sangat bernuansa perang sabil.

Pirous dengan sangat berhasil menyajikan tentang kesucian darah perang T. Umar dengan pedang yang terhunus, bercak darah pada sarung, wajah, topi, dan baju.

Lukisan itu menyertakan kepingan hikayat Prang Sabi yang robek dan ada pula sejumlah huruf Arab merah yang di sisi bahu dan kepala Teuku Umar.

Bagi yang buta aksara huruf Arab, lukisan T. Umar mungkin akan menyangka itu adalah ayat Alquran.

Kolase foto lukisan kaligrafi karya Abdul Djalil Pirous, seniman Indonesia asal Meulaboh Aceh Barat. Lukisan-lukisan ini disimpan di Serambi Pirous, studio galery, di Jl. Bukit Pakar Timur II/111 Bandung, 40198, Indonesia.
Kolase foto lukisan kaligrafi karya Abdul Djalil Pirous, seniman Indonesia asal Meulaboh Aceh Barat. Lukisan-lukisan ini disimpan di Serambi Pirous, studio galery, di Jl. Bukit Pakar Timur II/111 Bandung, 40198, Indonesia. (SERAMBINEWS.COM/Handover)

Padahal Pirous dengan sengaja telah membawa essensi Alquran yang telah “diAcehkan” oleh Teungku Syik Pante Kulu dalam hikayat Perang Sabil.

Bait sumpah Melayu Jawi hikayat itu dikutip oleh Pirous dan menjadi pembebas narasi Teuku Umar sebagai sosok maskulin yang berotot.

Lihatlah tulisan jawi  disebelah kanan. Nibak mate di rum inong-daripada mati di rumah isteri, bah le keunong senjata kaphe-biarlah kena senjata kafir.

Di sebelah kiri ditulis lagi, nibak mate di ateuh tilam,-daripada mati di atas tilam, bahle lam seuh prang syahid meugule-biarlah mati  syahid dalam saf perang saja.

Dengan nuansa gambar yang unik, dan kutipan bait syair itu Pirous telah sangat jitu memberikan tambahan kepada T. Umar.

Ia dan tentaranya tidak hanya  berperang dengan  raganya, tetapi juga dengan sukma, menyongsong kematian yang sangat indah.

Pirous telah merobah gambar fisik T Umar dalam kedalam bentuk cerita yang sangat sastrawi, dan itulah “nyawa” dari lukisan itu.

Mungkin itulah yang disebut dengan aura dan roh oleh Jasman kepada saya.

Bait indah menggambarkan tentang logika kematian dengan alasan, yang kemudian dibungkus rapi dengan kalimat indah, dan itu adalah “reason” sekaligus “passion” yang mengantarkan T. Umar ke wilayah penalaran sebagai jantung ilmu pengetahuan.

Melalui lukisan itu T. Umar telah komplit bersenyawa dan menyatu dengan Universitas kebangaan pantai barat itu.

Atas pemintaan Jasman-tanpa dimintapun mungkin akan dikasih- Pirous menghadiahkan replika besar gambar itu kepada UTU, dan kini dijadikan sebagai gambar pemula di Hall of Fame - dinding tokoh hebat di Universitas itu.

*) PENULIS adalah Sosiolog, Guru Besar Universitas Syiah Kuala.

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved